60 Tahun Indonesia Memerdekakan Diri: Belenggu Pendidikan
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
60 tahun yang lalu bangsa Indonesia melalui pemimpinnya telah menyatakan memerdekakan dirinya. Selama ini pula, benih-benih kemerdekaan masih belum sepenuhnya dirasakan oleh sebagian besar anak negeri ini. Pembangunan yang terpusat. Kesenjangan sosial yang masih tinggi. Pendidikan yang belum mencerdaskan. Hingga hilangnya kesempatan terhadap sumber kehidupan pada sebagian besar anak negeri ini.
Pendidikan, Masih Barang Yang Mahal!
Pendidikan. Sebuah kata yang merupakan penjelasan atas sebuah cita-cita dasar perintis kemerdekaan negeri ini. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, sangat jelas tercantumkan bahwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa-lah negeri ini menyatakan kemerdekaannya.
Hingga hari ini, rakyat Indonesia yang sempat tersentuhkan oleh aroma pendidikan masih sangat sedikit jumlahnya. Kesempatan untuk memperoleh pencerdasan, hanya berada dalam lingkaran kecil yang memiliki keistimewaan akses, keistimewaan kesempatan, serta keistimewaan kekayaan.
Mahalnya biaya pendidikan masih menjadi sebuah ganjalan dalam mengejar upaya pencerdasan rakyat. Walaupun telah beberapa tahun pemerintah mencanangkan pendidikan dasar, namun hingga hari ini, semakin banyak anak yang harus mempercepat hidupnya hanya karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Di lain sisi, sarana belajar yang sangat sedikit dan dengan fasilitas minim, masih sangat banyak bertebaran di negeri ini. Pendidikan masih merupakan barang yang mahal. Bahkan seorang penulis dari Yogya mengatakan dalam beberapa bukunya yang mahal, ?Orang Miskin Dilarang Sekolah?.
Keinginan pemerintah, sebagai pelayan rakyat, masih sangat menjadi sebuah tanda tanya. Walaupun agak terlambat, namun upaya untuk mematok angka minimal 20% dari anggaran negara untuk sektor pendidikan, masih memberikan angin segar. Walau di sisi lain, masih banyak pemerintah kabupaten-kota yang belum mampu memenuhkan target angka minimal tersebut, dengan berbagai kendala yang membatasi anggaran pemerintah.
Belum lagi bila menilik lebih dalam, pada wilayah yang telah menganggarkan lebih dari 20% dalam anggaran daerahnya, ternyata masih lebih banyak berupa pembangunan dan perbaikan sarana fisik, sehingga biaya sekolah masih harus ditanggungkan oleh mereka yang ingin tercerdaskan. Mungkin ada benarnya sebuah slogan yang menyatakan ?Mau Pintar Kok Mahal!?.
Pendidik, Masih Membelenggu!
Pendidik. Aset negeri yang menjadi tulang punggung bagi upaya pencerdasan, hingga hari ini masih berkutat pada kekurangan jumlah dan minimnya kesejahteraan bagi pendidik. Gaji guru yang masih sangat kecil, berimbas pada kualitas pendidikan. Minimnya tenaga pendidik, juga menjadikan para siswa tidak memperoleh proses pembelajaran yang berkualitas.
Begitu banyaknya unit sekolah yang masih kekurangan tenaga guru, dikarenakan guru sudah menjadi sebuah profesi, bukan lagi sebuah pengabdian. Para pendidik masih terlalu banyak berkumpul di pusat-pusat keramaian wilayah, menjadikan begitu banyaknya anak negeri yang akhirnya lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar secara mandiri.
Disisi lain, disaat kreatifitas guru mulai bangkit, begitu banyaknya tekanan yang dilakukan oleh penguasa negeri ini. Masih belum hilang dalam catatan, ketika seorang Ibu Nurlaila yang berjuang untuk mempertahankan keberadaan SMP 56 Melawai, hingga beliau harus berhadapan di depan meja pengadilan. Demikian juga ketika seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan tingkat SMU di Jakarta, Ibu Retno Listyani, yang mencoba membangkitkan kekritisan siswa dengan mengangkat kasus keadilan oleh Mahkamah Agung, pun harus mengurangi waktu bertemu dengan siswa karena disibukkan dengan persidangan gugatan yang diajukan oleh mantan pejabat negara.
Ironis. Di saat kebangkitan para pendidik, ditengah semakin minimnya para ?pahlawan tanpa tanda jasa?, masih banyak pihak, yang hanya berkutat dengan perebutan kekayaan negeri, mengkebiri kebangkitan kekritisan generasi negeri ini. Mungkin penting bagi para pendidik, agar jangan terlalu kritis dan kreatif, karena akan di?mati?kan oleh penguasa negeri.
Buku, Bukan Untuk Orang Miskin!
Buku, sebagai salah satu sumber ilmu, hingga hari ini masih belum diperuntukkan bagi orang miskin. Melambungnya harga-harga buku, menjadikan buku-buku tak mampu lagi terbeli. Buku yang digunakan sebagai alat bantu belajar di sekolah pun, masih menjadi barang dagangan yang kian hari kian tak terbeli.
Ketika Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan surat himbauan pun, kenyataannya di dalam pelaksanaannya, buku tetap menjadi sebuah arena bisnis. Begitu seringnya buku acuan belajar berganti, keharusan membeli setiap tahun, hingga persaingan antar penerbit buku, telah menjadikan anak negeri sebagai korban.
Indonesia harusnya mampu menyediakan buku dan bahan bacaan lain bagi generasi negeri ini dengan murah, bahkan dengan gratis. Perpustakaan sebagai media penyedia bahan bacaan, masih merupakan barang langka di beberapa wilayah. Bagaimana mungkin bisa membaca, kalau yang akan dibaca masih belum sanggup terjamahkan?
Alam, Tak Lagi Jadi Tempat Belajar!
Alam, masih sangat jauh dijadikan sebagai tempat belajar. Padahal sudah sering kali diketahui bahwa ilmu lahirnya dari apa yang diamati dari alam. Pelajar masih sangat dijauhkan dari alam sekitarnya dalam proses-proses belajar, dikarenakan sebagian besar proses belajar-mengajar berada dalam ruangan tertutup yang membutakan pelajar terhadap kondisi sekitarnya.
Begitu banyaknya ilmu yang ada di alam, dan harusnya dapat menjadi tempat menggali dan menemukan rahasia-rahasia baru, sudah saatnya mulai dibangkitkan terhadap generasi negeri ini. Begitu banyaknya peneliti asing yang masuk ke Indonesia, walau hanya dengan visa turis, telah menggali kekayaan negeri ini untuk kemudian dijadikan kekayaan intelektual asing. Akan sangat bermanfaat, bilamana rahasia kekayaan alam Indonesia, ditemukan sendiri oleh generasi negeri ini.
Belajar pada alam, selain sebagai langkah menuju pembongkaran rahasia alam, juga akan berimbas pada pemicu ruang kritis pada generasi negeri. Juga dengan belajar pada alam, akan menjadikan generasi negeri ini menjadi lebih bijak dalam menjaga ?tabungan? kekayaan alam negeri ini, agar tak selalu dikuras oleh kepentingan-kepentingan ?penjajah? melalui investasi maupun hutang luar negeri.
Mau Merdeka? Harus Cerdas!
Mungkin benar bahwa Indonesia telah 60 tahun memproklamirkan kemerdekaannya. Di masa 60 tahun ini pula Indonesia sebenarnya masih dalam keterjajahan. Penguasaan pengetahuan. Penguasaan Teknologi. Penguasaan rahasia alam. Masih sangat minim oleh generasi negeri ini.
Kecerdasan adalah sebuah jalan menuju kemerdekaan sejatinya bagi negeri ini. Pendidikan adalah jalan menuju pembebasan. Pembodohan akan terus berlangsung, bilamana penghuni negeri ini masih belum tersadarkan bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam belenggu penjajahan, dengan ditutupnya jalan menuju kecerdasan di negeri ini. Pada 60 tahun diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, haruskah Indonesia terus terjajah?
[sempur-bogor, 050817]








Wadah bamamay