“Bahasa menunjukkan bangsa†Kalimat ini sudah sangat dikenal pada lapisan generasi terdahulu. Mungkin ini juga yang menjadikan pada sekitar pertengahan tahun 1990-an dilakukan peng-Indonesia-an berbagai merek dagang, nama toko, hingga nama manusia di negeri ini. Namun hal ini tidak juga bertahan lama. Dalam sekejap, kembali bermunculan penggunaan bahasa yang bukan bahasa Indonesia dalam berbagai sudut pandang.
Dalam perkembangan berikutnya, sejak disediakannya ruang muatan lokal bagi lembaga pendidikan, maka sebagian besar mengalokasikan muatan lokal pada bahasa internasional (bahasa Inggris) dibandingkan dengan mengalokasikan bagi bahasa daerah. Sangat berbeda dengan fase sebelumnya, dimana muatan lokal sebagian besar diisi oleh pendidikan keterampilan dan juga pendidikan bahasa daerah.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan sebuah kondisi yang tengah bergerak saat ini. Arus globalisasi diterima dalam sudut pandang bahasa semata. Pertarungan global yang tengah dimainkan oleh “dalang†globalisasi sangat tidak mungkin menjadikan negeri ini mampu berada di tengah arena pertarungan. Bukan sekedar pesimistik semata, namun kenyataannya sebuah pondasi yang kuat tidak pernah di bangun di negeri ini dalam mengahadapinya.
Memilih untuk mengisolasikan diri sementara waktu untuk kemudian masuk ke arena pertarungan adalah jalan yang paling layak bagi negeri ini. Dalam fase ini, negeri ini harus menata kembali sistem pelahiran sumberdaya manusia yang berkualitas dengan merata di setiap sudut negeri. Pendidikan dan kesehatan gratis menjadi sebuah program utama dari setiap gerak pelayan publik.
Ditambah dengan sebuah pengalihbahasaan hasil-hasil temuan, kajian, dan penelitian yang dilakukan oleh negara lain, ke dalam bahasa negeri ini. Untuk kemudian menjadi sebuah buku gratis yang tersedia di berbagai perpustakaan sekolah maupun perpustakaan publik. Dalam fase ini juga dilakukan peningkatan kualitas pendidik dengan menggunakan metodologi pendidikan kritis dan kreatif bagi siswa.
Dalam fase ini juga dilakukan proses penguatan sektor kesehatan negeri. Penguatan lahan-lahan produktif pangan di segala wilayah negeri, fasilitasi pemasaran produk pertanian rakyat, hingga dengan membangun unit pengolahan skala mikro untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian. Selain itu, obat-obatan dikembangkan dengan sumberdaya lokal, misalnya dengan penguatan tumbuhan obat hutan sebagai alat bantu kesehatan bagi komunitas.
Dari sektor lainnya, semisal tambang, perkebunan dan kehutanan, negeri ini harus berani mengatakan stop ekspor. Segala hasil sumberdaya alam dikhususkan bagi kepentingan rakyat negeri, bukan bagi kepentingan ekspor. Secara perlahan dibangun mekanisme perdagangan yang berkeadilan dengan negara-negara yang bersepaham dengan hal tersebut. Juga tidak melakukan proses perdagangan dengan negara-negara yang selama ini melakukan penjajahan fisik dan ekonomi terhadap negeri ini.
Koalisi selatan-selatan dapat kembali diperkuat dengan menggunakan jalur Timur Tengah dan Amerika Latin. Kepentingan yang sama dari negara-negara miskin didorong untuk membangun sebuah koalisi yang kuat dalam rangka penguatan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan anak negeri.
Dari sebuah bahasa menuju sebuah perlawanan internasional terhadap kepentingan segelintir kelompok yang rakus akan kekayaan alam negeri ini. Kepentingan nasionalisme haruslah dipandang tidak hanya sekedar meletakkan lambang negara ini di saku baju, namun lebih daripada itu, adalah untuk membangun solidaritas sosial sesama anak negeri dan solidaritas bagi anak negeri-negeri yang tertindas.
Kembali kepermasalahan bahasa, dengan beragamnya bahasa yang ada di negeri ini, dan telah disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, maka sudah selayaknya bila negeri ini menyajikan pengetahuan-pengetahuan yang berkembang di permukaan bumi dalam bahasa nasional negeri ini. Bukan dengan memaksa anak negeri untuk belajar bahasa yang entah hingga kapan akan mampu dikuasai.
Negeri ini kaya, namun tak akan pernah cukup untuk mensejahterakan seluruh anak negeri, bila saja cengkeraman kepentingan “drakula†masih saja menancap di negeri ini. Saatnya negeri ini memilih untuk kembali menjadi bangsa yang disegani di dunia sebagaimana pernah diceritakan dalam sejarah kerajaan nusantara atau menjadi bangsa yang tunduk pada kepentingan asing.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2007. Bahasa Menunjukan Siapa?. http://timpakul.web.id/bahasa-2.html (dikutip tanggal 4 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
Kita dikenal sebagai orang Indonesia karena berbahasa Indonesia. Meletakkan sesuatu pada tempatnya adalah sesuatu yang wajib. Termasuk meletakkan kosakata Indonesia di kalimat berbahasa Indonesia dan meletakkan bahasa Inggris di kalimat berbahasa Inggris. Kalau pun bukan pada tempatnya, ada aturan mainnya. Bangga berbahasa Indonesia adalah harga mati, tanpa menafikan kewajiban menguasai bahasa asing di persaingan dunia.
Salam