samarinda dalam baskom
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Samarinda. Ibukota sebuah propinsi yang layaknya bukan seperti sebuah ibukota dari negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah. Lebih dilihat sebagai sebuah kota jasa. Sejak masa kerajaan Kutai, kota ini menjadi kota persinggahan. Semakin berkembang di saat gelondongan kayu mulai nampak sebagai bongkahan emas di tahun 70-an. Berlanjut ketika industri migas semakin berkembang. Kota ini tetap menjadi kota persinggahan, disaat banjir kap jilid 2 sekalipun.
Tak ada yang menarik, selain bahwa tahun 2005 ini diramalkan kota ini akan tenggelam. Banjir, kekeringan, dan byar-pet adalah tiga permasalahan utama kota ini. Pertengahan tahun di saat 3.500 rumah di Kutai Barat tenggelam, di Samarinda tak begitu terlihat dampaknya. Tak seperti tahun sebelumnya, saat kota ini benar-benar tenggelam, bak berada di dalam sebuah baskom. Penyebabnya? Air. Kalau tidak, pasti akibat curah hujan.
Banjir. Bukan hanya bencana, namun bisa jadi anugerah. Tak kurang dari Rp 12 miliar dianggarkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Kimpraswil untuk pengendalian banjir dan pengamanan pantai di Kaltim. Pemerintah Kota pun tak ingin kalah, Rp 4,4 miliar dianggarkan untuk antisipasi banjir kota, yang diperkirakan akan terjadi lagi pada Desember 2005 dan Mei 2006. SIMBA-LAPAN masih melihat potensi banjir di Kaltim dalam beberapa bulan terakhir ini.
Anugerah banjir bukan bagi masyarakat kota. Hanya bagi pemerintah dan kontraktor proyek. Bagi masyarakat yang jadi langganan banjir, hanya bisa menyaksikan aliran air menggenangi rumah. Sementara berdiri kokoh di seberangnya sebuah gedung organisasi mahasiswa beragama, yang didirikan buah belas kasihan pemimpin kota, yang telah menutup tampungan sementara air dan mengubah jalannya air. Nikmatilah banjir sambil menyaksikan keserakahan “tikus kota”.







Wadah bamamay