Menikmati Bencana Banjir: Sebuah pembelajaran bagi Kota Samarinda

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

Air, sebuah hal yang sangat dibutuhkan bagi manusia. Bila kekurangan ia akan menjadikan manusia sengsara, demikian juga bila kelebihan, akan menjadikannya bencana bagi manusia.

Beberapa tempat di Indonesia saat ini mengalami bencana alam banjir dan tanah longsor. Mulai dari beberapa tempat di Kabupaten Pasir, beralih ke Sumatera Utara, sekarang Jakarta, beberapa daerah lain di Jawa dan Madura yang mengalami ’segar’nya aliran air yang berlimpah ruah.

Banjir di Kota Jakarta akhirnya menjadikan pejabat heboh dan kelimpungan, karena Istana Negara pun nyaris digenangi oleh limpasan air dari sungai tersebut. Beberapa kali wawancara di televisi menyatakan bahwa ini adalah akibat dari manusia sendiri, karena tidak mentaati tata ruang yang telah dibuat. Bahkan sang Gubernur-pun juga mengatakan hal yang sama. Sementara masyarakat saling berebut membuka pintu air, berebut makanan dan saling berlomba untuk menyelamatkan diri sendiri.

Bila dilihat secara sadar, maka ternyata banyak pihak yang telah tahu akan manfaat sebuah perencanaan yang dibuat. Banyak pihak yang telah tahu akan fungsi menganalisa dampak lingkungan dalam sebuah perencanaan. Dan banyak pihak yang telah tahu fungsi sebuah sungai dan rimbunnya pohon. Namun banyak pihak tersebut barulah dalam sebuah tahap tahu, dan belum punya sebuah kesadaran terhadap hal tersebut.

Dari sebuah pengalaman di daerah lain, sebenarnya ada beberapa hal menarik yang bisa ditarik ke Kota Samarinda yang saat ini baru saja bertambah lagi usianya. Kota Samarinda yang setiap tahunnya menjadi langganan ‘genangan’ air melimpah setiap tahunnya di beberapa lokasi, ternyata hingga saat ini juga belum maksimal berpikir dan bertindak untuk menghindari resiko air berlebih tersebut.

Pemerintah Kota Samarinda saat ini sedang menyelesaikan pembuatan kolam pengendali banjir di dekat mal yang didirikan di atas kawasan rawa. Juga akan membuat kanal di beberapa titik di sungai. Namun apakah itu akan efektif dan bermanfaat untuk menghindari terjadinya limpasan air.

Di bagian hulu Sungai Karang Mumus, sebagian besar Dana Alokasi Khusus-Dana Reboisasi akan digulirkan bagi masyarakat untuk mulai menanami lahannya dengan pepohonan, yang walaupun masih terkesan menggunakan sistem ‘proyektor’ dan pemaksaan serta prinsip yang penting untung, sehingga perencanaan pun dibuat tidak serius dan tidak partisipatif.

Sementara pemegang kebijakan kota, dalam hal ini walikota dalam sebuah harian kota menyatakan bahwa belum saatnya untuk melindungi kawasan tangkapan air di Kota Samarinda, karena akan bermasalah dengan kepemilikan tanah. Sehingga program yang dilakukan oleh pemerintah saat ini hanyalah untuk sebuah penanggulangan bukan sebuah pencegahan terhadap bencana.

Bila kita ingin melihat sebuah sebab dari terjadinya ‘limpasan air berlebih’ tersebut, adalah disebabkan belum satunya dan belum terpadunya rencana pengelolaan sebuah kawasan berdasarkan satu kawasan daerah aliran sungai. Di bagian hulu terjadi pengupasan lahan besar-besaran dan di bagian hilir terjadi penimbunan rawa seluas-luasnya. Hal ini mengakibatkan sebuah perubahan pola aliran air yang sebenarnya telah memiliki ‘pakem’ bahwa air akan mencari tempat yang lebih rendah, sehingga dikarenakan penyaring di hulu sudah hilang dan penampung di hilir sudah ditimbun, akhirnya membuat air harus ‘berjalan-jalan’ di tengah pemukiman dan jalan kota.

Kota Samarinda yang dikelilingi oleh perbukitan, hingga saat ini kalangan pemerintah masih sangat lemah dalam hal menjaga keberadaan bukit tersebut, sehingga terjadilah pengupasan dan pemotongan bukit di beberapa tempat di Kota Samarinda. Sangat sukar saat ini untuk melihat bukit yang masih hijau dan tertutupi oleh pepohonan.

Sementara kawasan hutan kota yang telah ditetapkan oleh pemerintah, hingga saat ini tidak jelas lagi nasibnya, karena tidak diurus dan dibiarkan sehingga beberapa kawasan hutan kota telah kembali dibuka dan didirikan rumah oleh warganya.

Selain itu, Kota Samarinda yang sebenarnya sebagian besar kawasannya adalah kawasan rawa, juga masih merelakan daerah tangkapan airnya ditimbun oleh pengembang kompleks perumahan menjadi ‘hutan rumah’. Dan pernah bergulir wacana untuk membangun rumah panggung di Kota Samarinda, namun hingga saat ini masih belum banyak yang menanggapinya.

Sebenarnya bila Pemerintah Kota Samarinda bisa sedikit kreatif, maka Kota Samarinda akan memperoleh pendapatan penghasilan tambahan dengan mempertahankan kawasan-kawasan tangkapan air dan kawasan pepohonan di kota. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan kawasan rawa menjadi sebuah kawasan pemancingan dan menjadikan kawasan hutan kota sebagai sebuah arena rekreasi alam. Tentunya masyarakat akan dengan senang hati ‘menyumbang’ pemerintah bila telah memperoleh manfaat dari keindahan dan lestarinya kawasan kotanya.

Dan akhirnya bila Kota Samarinda harus tertimpa bencana banjir seperti halnya beberapa kawasan di Kota Jakarta saat ini, itu bukanlah hal yang aneh, karena ternyata hingga saat ini pemerintah dan masyarakat Kota Samarinda masih belum tersadar akan arti penting rawa, kawasan pepohonan dan aliran sungai.

Padahal selain bencana banjir, juga akan diikuti oleh bencana lainnya, mulai dari bencana penyakit, kekurangan air bersih, padamnya aliran listrik, terganggunya kegiatan pemerintahan, ekonomi serta pendidikan, yang kesemuanya tidak memberikan sebuah hasil yang positif bagi masyarakat sendiri.

Ke depan sangatlah diharapkan adanya sebuah ketegasan dari pemerintah sebagai pemegang mandat dari masyarakat untuk mengelola Kota Samarinda dengan lebih baik dan nyaman bagi warganya. Selain itu, seluruh komponen masyarakat juga bisa memulai dari sebuah lingkungan terkecil dalam wilayahnya dengan melakukan penanaman pepohonan di pekarangan rumah dan sekitar rumah, tidak menimbun rawa yang ada di sekitar rumah, mendesak pemerintah agar melakukan perlindungan terhadap rawa dan perbukitan, serta membuat tata ruang yang ramah lingkungan, dan mulai mengajak rekan, tetangga, saudara dan semua pihak yang ditemui untuk berbuat hal yang sama.

Dengan sebuah pergerakan bersama, sangatlah dimungkinkan bahwa ke depan Kota Samarinda akan terbebas dari banjir, tidak akan kekurangan air bersih dan udaranya sejuk dan nyaman, sehingga tinggal di Kota Samarinda menjadi sebuah kota kenangan yang takkan pernah dilupakan.

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>