Berbuat Dari Lingkup Terkecil

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

Kembali seorang akademisi mengajak mahasiswanya yang sudah tak lagi muda untuk berbuat dari lingkup yang terkecil. Dari keluarga, dari rumah tangga.

Bukan hal baru memang, namun terlalu rumit untuk dilakukan. Ada berjuta macam argumentasi untuk sekedar mengatakan, TIDAK. Berbuat dalam lingkup terkecil tidak bisa meninggalkan berbuat dalam membongkar sebuah sistem. Lingkup yang lebih besar akan memberikan sebuah pengaruh bagi lingkup yang lebih kecil di dalamnya. Seandainya saja lingkup yang terbesar tidak rusak, maka sangat sukar sekali lingkup yang kecil akan ikut rusak.

Penaatan terhadap kesepahaman hukum sepertinya hanya akan berlaku bila saja suatu kawasan sangat mempercayai keberadaan hukum, termasuk di dalamnya aparat penegak hukumnya. Bila tidak, maka lupakanlah hukum tersebut. Ketidakpercayaan akhirnya akan berkoloni menjadi sebuah pengabaian hukum. Inilah yang terjadi dalam berbagai permasalahan lingkungan hidup hari ini. Semakin banyak hukum dan kebijakan yang telah dilanggar oleh pelaku pengrusakan (khususnya pemodal), serta tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah, telah mengakumulasikan sebuah ketidakpercayaan publik.

Seorang kawan pernah bertanya pada seorang ibu di tepian karang mumus tentang sebuah alasan tetap membuang sebungkus sampah ke sungai. Ibu tersebut sambil menggendong anaknya yang masih bayi mengatakan “Nggak ada yang ambil sampahnya ke sini, padahal kita sudah bayar ke loket PLN. Makanya kita buang sampahnya ke sungai. Sudah tugas mereka (pemerintah - pen) yang bersihkan sungai, bukan lagi tugas kita”. Pelepasan rasa memiliki lingkungan hidup oleh rakyat telah diciptakan secara sistematis oleh negara ini.

Retribusi, Pajak, hingga pungutan yang kadang tidak jelas, telah menjadikan rakyat yang merasa telah tunai kewajibannya, kemudian menuntut hak. Bukan salah. Inilah sebuah dinamika sosial yang selalu luput dari sebuah proses berkehidupan di negeri yang selalu lupa.

tak penting berbuat untuk lingkungan hidup !

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>