binatang tak bisa berpikir
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
dalam sebuah proses pembelajaran mengenai ekologi dan ilmu lingkungan, seorang dosen menyampaikan tentang beberapa teori berkaitan dengan dasar ilmu lingkungan. kemudian ia menyampaikan tentang sebuah teori darwin dan juga dikaitkan dengan spesies antara dan kemampuan berpikir binatang.
dalam kerangka pikir bahwa binatang masih melakukan pemikiran dan mengimplementasikan pemikiran dalam bentuk reaksi terhadap alam. bagaimana kemudian seekor orangutan dapat menentukan tempat membangun ‘rumah’, bagaimana kemudian seekor semut membangun tempat tinggal dan akan melakukan eksodus bila tempat tinggalnya terancam bahaya. tak berpikirkah mereka.
perdebatan ini kemudian kembali dibincangkan dengan beberapa kawan penyayang flora fauna. dalam sebuah titik dipahami bahwa berbedanya cara berpikir antara manusia dengan binatang adalah pada titik bahwa manusia berpikir untuk mencari kebenaran, sedangkan binatang berpikir sebagai sebuah reaksi terhadap alam. setelah mencari, ada sebuah artikel Friedrich Engels yang menyatakan:
“Binatang-binatang dalam artian lebih sempit juga memiliki alat-alat, namun sebagai anggota-anggota badan tubuh meeka: semut, lebah, berang-berang; binatang-binatang juga berproduksi, tetapi efek produktif mereka atas alam sekelilingnya dalam hubungan yang tersebut belakangan itu maknanya, hampir tidak ada sama sekali.”
dan dalam sebuah tulisan berbeda, diungkapkan:
“Manusia menggunakan daya nalarnya bukan sebagai jawaban atas rangsangan dari luar, tetapi tertuju pada suatu nilai, kebenaran. Kebenaran inilah yang perlu diverifikasi, baik secara rasional maupun lewat pengalaman, bukan hanya melalui kegunaan praktis.”
dan dalam tulisan lainnya disebutkan:
“Faktor apa yang membedakan manusia dari binatang? Berabad-abad para pemikir menyimpulkan bahwa budaya, terutama bahasa, adalah faktor pembedanya. Persoalannya, sejumlah penelitian hati-hati terhadap sejumlah jenis binatang beberapa waktu belakangan ini menunjukkan bahwa binatang juga berbudaya dan berbahasa. Ahli bahasa Amerika, Noam Chomsky, berkolaborasi dengan dua biolog Harvard, Marc Hauser dan W. Tecumseh Fitch, mencoba membuktikan bahwa manusia masih berbeda dalam hal bahasa dalam artikel di Science, “The Faculty of Language: What Is it, Who Has It, and How Did It Evolve?”, naskah pertama Chomsky tentang evolusi bahasa.”
bahasa sebagai alat komunikasi yang dianggap sebagai pembeda pun kemudian masih sangat diragukan kebenarannya. dalam banyak spesies, telah dibuktikan terjadinya komunikasi di dalam komunitas spesies maupun antar spesies. namun kemudian menjadi bermasalah bagi manusia dikarenakan hanya sedikit manusia yang mampu berkomunikasi dengan binatang dalam sebuah kebenarannya.
kemudian ketika dijelaskan mengenai spesies antara, yang dimaksudkan bahwa harusnya ada spesies yang memiliki kemiripan satu dengan lainnya untuk membuktikan telah adanya sebuah evolusi. dan ternyata hanya dikarenakan beliau belum mengetahui bahwa ada satu spesies ikan yang menjalankan 90% hidupnya didaratan dan menggunakan siripnya sebagai kaki, dan ada satu spesies kera yang berjalan tegak. kalau sudah demikian, apakah memang sebuah spesies akan berevolusi menjadi spesies baru? untuk yang satu ini, masih diyakini bahwa setiap spesies tidak akan menjadi spesies lain, hanya memang benar bahwa terjadi evolusi dalam hal sebagian bagian dari spesies tersebut.
namun mungkin menjadi menarik bila ada yang memberikan penjelasan tentang mengapa bila manusia berasal dari sepasang manusia kemudian menjadi berbagai mancam ras di dunia saat ini?








Wadah bamamay