bangsa yang bodoh
By timpakul • 27 May 2007 • Category: celoteh [
] -
323 dilihat
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
bangsa ini katanya bangsa yang bodoh…. benarkah? kalau benar demikian, berarti rakyat negeri ini juga bodoh, bukan hanya pemerintahnya saja yang bodoh. lalu apakah pemerintah bisa menjadi representasi rakyatnya? artinya bila pemerintahnya bodoh maka rakyatnya bodoh. padahal undang-undang dasarnya negeri ini sudah memprioritaskan pendidikan dengan menempatkan kata “20% anggaran negara untuk pendidikan“. sementara itu tak pernah ada patokan anggaran untuk perbaikan lingkungan hidup, yang hingga saat ini selalu saja berada di bawah 1%.
jalan bagi rakyat yang pemerintahnya bodoh adalah (1) ambil alih kekuasaan; (2) bentuk pemerintahan rakyat; (3) nasionalisasi aset; (4) kuatkan sektor ekonomi rakyat, berbasis pada pertanian, perkebunan, dan perikanan rakyat; (5) re-kalkulasi jejak ekologi; (6) ubah indikator kemajuan negeri dengan memprioritaskan pada pemerataan; (7) kuasai teknologi; (8) pulangkan peneliti asing; (9) berani melawan kapitalisme.
tak penting bangsa yang bodoh !
Random Posts
timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul




Halo, salam kenal
Bangsa yang bodoh ? Gak ada lahyau bangsa yang bodoh.
Yang ada adalah sekumpulan orang bodoh menguasai suatu sistem yang bodoh, memerintah dengan cara-cara bodoh.
Tapi, nanti dulu, kalau terus disimpulkan dengan secara inklusi, orang-orangnya semua bodoh, ya gak benarlah itu.
Kita, tidaklah semuanya bodoh, termasuk Anda tentunya. Juga para pemimpin yang memerintah itu, pasti tidak bodoh. Tapi, seperti saya, kebanyakan otang Indonesia adalah kurang punya “nyali”. Chicken.
Kita ini sekarang seperti terperangkap dalam suatu “lingkaransetan”, tak berujung pangkal dan terus berputar semakin cepat setiap saat. Harus keras putar otak dan bijak untuk memutus matarantai yang membelit itu.
Kadang kita tidak sabar. Tapi “people’s power” tidaklah menjawab dengan jitu dan memecahkan masalah, sekali jadi, seperti yang kita lihat di Filipina.
Itu tetaplah kembali kepada kita sebagai manusianya yang terbelit itu.
Walau gerakan itu berhasil memutus matarantai, tapi kelanjutannya butuh “tokoh” yang “benar”.
Sudahkah tersedia stok “tokoh” yang “benar” itu ?
Sudahkah kita membentuk generasi penerus kita (dalam artian luas) menjadi “tokoh yang benar” dalam artian sebenar ?
Jadi, katakunci-nya, menurut saya, adalah “tokoh” dan “benar” dalam pengertian yang sebenar. Tanpa itu rakyat juga yang akan makin terinjak-injak, ter-”kuyo-kuyo”, dan jadi tambah “bodoh”. Pin-bo, pintar tapi bodoh.
Dan “lingkaransetan” kembali lagi membelit.
Kita ini sudah terlanjur, jadi “hati-hati” adalah katakunci yang ketiga.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon maaf Lahir dan Batin
.