sebuah ekspresi di tepi kampus
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
tiga hari sejak senin pekan ini, sekelompok mahasiswa yang bergabung dalam UKM Budaya dan Seni Rakyat menggelar pagelaran seni jalanan II di halaman perpustakaan yang letaknya tepat di depan gedung rektorat. mengenaskan bahwa kemudian tak terlalu banyak yang tertarik untuk singgah dan menikmati musik jalanan, seni lukis, fotografi, teatrikal dan mural yang disajikan.
lebih mengenaskan kedua disaat seorang staff bagian kemahasiswaan rektorat unmul berkeluh kesah tentang terganggunya beberapa pihak akibat aktivitas tersebut. bahkan sebuah buah ekspresi kawan-kawan mahasiswa sepertinya bukan menjadi penting bagi sebuah kerajaan bisnis pendidikan bernama universitas. kepentingan bisnis sepertinya lebih menarik, seperti rangkaian iklan sejak memasuki pintu kampus hingga di depan gedung perkuliahan. bahkan tak ada lagi yang gratis dalam dunia kampus ini.
mengenaskan ketiga disaat ternyata tak terlalu banyak para dosen yang memiliki pengetahuan baru yang tengah berkembang saat ini di berbagai belahan dunia. apa yang disajikan pun tak pernah menjadi baru, bahkan hingga plastik transparan yang ditampilkan di overhead projector. apakah memang saat ini kampus hanya menjadi sebuah etalase bisnis? ataukah memang tak ada lagi yang memahami mengapa kampus harus tetap ada di tengah pertarungan kekuasaan saat ini?
lupakanlah bermimpi menjadi seorang sarjana bila kemudian hanya menjadi beban negara karena tak pernah ada sebuah perubahan mendasar dari kurikulum perkuliahan yang hanya menjadikan manusia sebagai pekerja semu, bukan untuk memimpin sebuah kebaikan di masa datang.






Wadah bamamay