Di Antara Akasia Bukit Soeharto

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pesawat yang aku tumpangi mulai terbang merendah. Pramugari mengumumkan sesaat lagi pesawat akan mendarat. Aku masih mencoba mencermati kalimat demi kalimat dalam majalah Economics yang bercerita tentang bagaimana dunia di tahun 2008. Seminggu sudah aku berada di pulau wisata yang sedang menggelar perhelatan dunia untuk perubahan iklim.

Tak lama, aku sudah berada di ruang kedatangan Sepinggan, Kota Minyak Balikpapan. Sambil menanti tas yang aku bawa tiba di tempat pengambilan bagasi, aku menyaksikan wajah-wajah letih penumpang pesawat, yang harus terlalu lama menunggu di bandara akibat pesawat terlalu terlambat untuk terbang.

Tas hitamku aku tarik dari ban berjalan. Menuju pintu keluar. Para pengemudi taksi dan tukang ojek berbaur dengan para penjemput. Aku berjalan menuju kursi, hingga seseorang menawarkan harga untuk mengantarku ke Samarinda. Aku tahu bahwa ia hanyalah seorang calo untuk kemudian memfasilitasi aku bertemu dengan seorang sopir mobil yang membawaku ke Samarinda. Aku menyetujui harga yang ditawarkan.

Diajaknya aku bertemu dengan sopir mobil itu. Namanya Pak Tiar. Ia mempunyai dua orang anak, yang salah satunya adalah seorang kartunis. Aku melihat Pak Tiar menyerahkan satu lembar dua puluh ribuan kepada calo tadi. Aku berjalan menuju mobil hitam Pak Tiar.

Baru saja keluar dari pintu gerbang bandara, Pak Tiar berteriak kepada sekumpulan orang yang sedang makan bersama di atas rerumputan di luar gerbang. “Hoi.. ngapain lagi”. Pak Tiar kemudian berujar padaku, “Mereka biasanya berkelahi. Nggak tahu juga kenapa mereka suka seperti itu. Padahal nggak ada untungnya juga”. Aku masih menanggapi dengan dingin. Aku mencoba mengumpulkan nyawaku yang masih setengah setelah penerbangan membosankan karena terlalu lama menunggu dan berbagai komplain kepada manager penerbangan.

“Kamu yang kemarin menjadi pembicara di Panti Asuhan itu kan?” tanya Pak Tiar
“Yang kapan ya pak?”
“Tentang lingkungan, waktu itu”
“Iya pak”
“Ya, saat itu aku mengantarkan anggotamu”

Aku tersenyum mendengar kata anggota. Bukan bermakna sebagai anggota sebenarnya. Hanya ungkapan bagi orang yang bersama. Pak Tiar mulai bercerita tentang banyak hal. “Istirahat saja, biar besok tidak cape lagi. Besok ada acara lagi kan?” ungkapnya.

Namun mataku belum juga mau tertutup. Letih badan tak membuatku menjadi terlelap. Pak Tiar memberhentikan mobilnya pada sebuah warung. “Mau beli air mineral dulu, biar nggak haus di jalan” ungkapnya padaku.

Aku pun ikut turun. Membeli sebotol minuman teh dalam botol dan sebotol air mineral. Pak Tiar juga membeli sebotol air mineral.

Kami melanjutkan perjalanan. Pak Tiar menceritakan berbagai hal yang pernah ia lalui. Menjadi sopir bagi banyak orang, mulai dari pekerja perusahaan pupuk terbesar di Kaltim, hingga saat mengantarkan seorang perwira militer.

Pak Tiar bercerita tentang ketakutan negeri ini terhadap Malaysia, tentang kondisi pendidikan, tambang yang lebih merusak dibandingkan dengan illegal logging, hingga pemerintahan yang korup. “Saya tidak pernah mau memilih saat pemilu” ujarnya. “Saat ini para pemimpin tidak ada yang berpihak bagi kepentingan rakyat, semua hanya demi kepentingan partai. Setelah dia menang, pasti harus menyetor untuk partai. Itulah yang bikin mereka harus korupsi”.

Korupsi negeri ini di mata Pak Tiar merupakan sebuah hal yang sistemik. Karena gaji yang tidak memadai, tidak adanya penghargaan yang baik bagi pekerja, hingga kepentingan partai yang menuntut para pemimpin daerah harus menyisihkan uang untuk partai yang mengantarkannya duduk sebagai pemimpin wilayah ataupun anggota DPRD. “Kalo korupsi dikit ya nggak apa-apalah, asal nggak semuanya dikorupsi”, lanjutnya.

Pak Tiar, lelaki berkumis yang kakeknya pernah tinggal di sepanjang pesisir Berau hingga Muara Badak ini terus saja menguraikan banyak cerita. Tentang ketidakbanggaan banyak orang terhadap Bahasa Indonesia, hingga tentang kelapa yang sulit tumbuh di Muara Badak.

Menurutnya, harusnya bangsa ini bangga dengan bahasa Indonesia dan bukan sekedar mempelajari bahasa Indonesia dengan sebuah hal yang rumit, namun lebih pada bagaimana mempraktekkan Bahasa Indonesia dalam keseharian. Banyak buku yang berbahasa asing harusnya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, agar semakin banyak anak negeri yang menguasai pengetahuan yang berkembang di luar, bukan dengan memaksa anak Indonesia untuk belajar bahasa asing. “Saya benci betul ketika sekolah memaksakan Bahasa Inggris bagi siswanya, apalagi kalau sekarang, bahasa Mandarin juga dipaksakan. Saya semakin lebih benci”. Bahasa bagi Pak Tiar menunjukkan sebuah keberanian anak negeri. Bukan sekedar alat komunikasi, namun lebih menjadi sebuah posisi tawar kekuatan anak negeri.

Sistem pemilu di negeri ini merupakan hal yang harus diubah juga, menurut Pak Tiar. “Harusnya kita memilih pemimpin yang tidak melalui partai. Supaya setelah dipilih, mereka tidak hanya membela kepentingan partai, tapi lebih membela kepentingan rakyat. Kalau sistemnya sudah begitu, baru saya mau ikut memilih.”

Aku terus mencoba menahan kantuk sambil mendengar kata demi kata yang meluncur dari bibir Pak Tiar. Sesekali aku menyaksikan rombongan truk besar yang menuju selatan. Beberapa kali juga kami berpapasan dengan truk pengangkut tandan buah sawit.

“Sistem pendidikan saat ini tidak jelas. Tahu semuanya tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa”, ungkap Pak Tiar
“Mengapa begitu pak”
“Iya, coba saja liat, tidak pernah ada pengetahuan yang tuntas yang diberikan di sekolah. Matematika-nya, IPA-nya, dan semuanyalah. Memang ada kejuruan, tapi itu malah dianggap tidak membanggakan.”

Pendidikan bagi Pak Tiar merupakan hal penting yang harus segera diubah. Agar rakyat negeri ini tak sekedar tahu, namun harus memiliki keahlian yang utuh dalam satu hal. Pendidikan bukan semata memberikan pengetahuan yang beragam tanpa pendalaman terhadap satu bidang ilmu. Pak Tiar beranggapan menjadi penting agar keahlian yang tuntas dimiliki oleh siswa, sehingga dapat menjadi sangat ahli ketika menyelesaikan pendidikannya.

Kami melalui deretan warung di tengah Bukit Soeharto. Lampu-lampu berwarna putih menerangi jalan. Kawanku pernah menyampaikan bahwa mesin lampu yang digunakan warung tersebut diberikan saat seorang calon bupati berkampanye. Truk-truk besar parkir di tepi jalan.

“Kalau saya, tak terlalu masalah dengan illegal logging. Hutan tak begitu hancur dengan illegal logging. Tapi coba lihat, kalau ada tambang. Nggak ada yang tersisa.” Pak Tiar melanjutkan cakapnya.

Tambang memang sungguh mengoyak permukaan bumi. Hamparan hijau dalam sesaat dapat berganti warna menjadi coklat, menjadi hitam dan menjadi coklat lagi. Satu setengah juta hektar lahan di Kaltim telah diberikan kepada pengusaha pertambangan, belum termasuk perusahaan yang memperoleh ijin dari pemerintah pusat. Perusahaan perkebunan pun telah memperoleh hampir tiga juta hektar lahan untuk menjadi milik mereka. Aku selalu berucap pada kawan-kawanku yang sedang belajar pertanian, “Tak ada lagi lahan kalian untuk bertani. Hanya setengah juta hektar yang disediakan pemerintah untuk lahan pertanian.”

Seratus lima puluh lima kilometer, dengan beragam celoteh Pak Tiar tentang negeri ini, menjadikan aku semakin yakin bahwa banyak generasi negeri ini yang ingin sebuah perubahan cepat di negeri ini. Menantikan seorang pemimpin yang kharismatik dan berpihak pada rakyat. Kejenuhan telah melanda banyak orang, mulai dari ketidakdisiplinan akan waktu, hingga korupsi yang terstruktur, menjadikan banyak rakyat negeri ini yang semakin lelah dan menjadi pasrah akan masa datang.

Pak Tiar masih punya mimpi. Menyekolahkan seorang anaknya yang kartunis. “Biar tersalurkan bakatnya”, ujarnya. Anaknya hingga sekarang sudah semakin jarang meminta uang jajan. Hasil membuat gambar telah menjadi penghasilan sendiri baginya. Anak Pak Tiar pasti akan jadi seorang penggambar hebat satu waktu nanti, karena Pak Tiar punya semangat kuat untuk mewujudkannya.

Akasia di tepi jalan sepanjang Bukit Soeharto semakin menua, sudah saatnya dipanen. Negeri ini pun telah semakin renta, dengan kepemimpinan yang tak pernah memberikan sebuah asa bagi rakyat. Generasi mudah bangsa ini, saatnya kembali bangkit, sebagaimana tahun 1908. Tahun 2008, akan jadi sebuah tahun kebangkitan bagi generasi muda negeri ini. Yang muda yang memimpin, dan bukan sekedar pemuda yang telah telalu tua untuk disebut pemuda.

Negeri ini harus bangkit. Anak negeri harus menegakkan pandangannya. Menatap sebuah masa datang yang lebih membahagiakan bagi rakyat. Tidak ada lagi ketakutan yang harus dipelihara. Berpikir, berbuat, mempercepat dan memperluas gerak langkah. Negeri ini tak akan sanggup lagi menunggu. Saatnya perubahan cepat dilakukan!

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>