diskriminasi diantara krisis listrik

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

ada sebuah diskriminasi dikala kotakayu sedang dilanda krisis listrik. lampu jalan di tengah kota terang benderang. berbagai lampu di rumah-rumah tepi kota tak menerangi kehidupan. suara mesin listrik berbahan bakar solar ataupun premium bersahutan. temaram lilin menemani obrolan di gelap malam.

tak jelas apa yang diinginkan oleh perusahaan byar-pet milik negara ini. saat dikatakan sedang ada krisis energi listrik, ponton-ponton besar berisikan penuh batubara berlayar di sungai mahakam. ada juga keinginan pelayan publik untuk membangun penghasil listrik berbahan nuklir. minyak bumi dan gas alam menghasilkan rongga-rongga yang berisikan air laut.

krisis listrik ini pula yang melahirkan sebuah kebijakan kontroversial, insentif-disinsentif, yang kemudian entah diganti dengan sistem apa lagi. berharap akan ada sebuah penghematan. sementara, benderang kantor-kantor pelayan publik tak pernah usai. sebuah rumah tempat tinggal sekretaris pelayan publik pun tetap semarak.

pusat perbelanjaan dan pusat hiburan menjadi hiruk pikuk. rambatan kendaraan beroda dua dan empat, berderu diantara bunyi klakson yang tak henti. suara peluit pengatur lalu lintas pun nyaris tak terdengar. semua berlomba, entah apa yang sedan dicari.

krisis listrik, tak usai oleh waktu. re-kalkulasi kebutuhan sumber energi dalam sebuah wilayah tak pernah dihitung. batubara, gas alam dan minyak bumi terus saja dikapalkan entah kemana. kayu-kayu untuk jadi kayu bakar pun semakin sukar didapat. hamparan padi menguning telah menghilang ditelan traktor yang dengan rakusnya membongkar kerak bumi.

bencana ekologi, hidup berdampingan dengan kemiskinan. antrian panjang ibu rumah tangga, berharap memperoleh tetes demi tetes minyak tanah terakhir di pangkalan. tabung gas telah raib pula ditenggelamkan riuhnya pertarungan politik. semua mengeluh. banyak yang bersuara. tapi tak satupun yang mendengar.

lambaian tanjung dan akasia yang mulai rapuh di tepi jalan seolah ingin juga berteriak. suara sang malam terbalut dalam sebuah ruang mimpi. inilah tanah yang terlalu diberkahi. setiap jengkalnya telah lahirkan kerakusan. nafas semakin perlahan. gerakan lambung kian melamban. hanya menantikan waktu memberikan sebuah jawab. dari sebuah tanya yang tak pernah ingin dijawab.

tak penting diskriminasi !

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>