(e)-leaderships

environment, education and information technology
Google

BIOFUEL: Jalan Sesat Energi Hijau

By timpakul • Jan 7th, 2007 • Category: urai [ Cetak celoteh ] - 3,447 dilihat -
jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (12 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Permasalahan krisis energi fosil dan lingkungan hidup global telah mengarahkan pemikiran para peneliti dan penguasa kebijakan memilih langkah untuk mengedepankan penggunaan bahan bakar hayati (Biofuel) sebagai sebuah solusi utama. Pemerintah Indonesia bahkan merespon kondisi tersebut dengan melahirkan kebijakan mendorong percepatan penyediaan biodiesel di Indonesia. Jarakisasi (pengembangan tanaman jarak secara meluas) dipandang sebagai sebuah program yang dapat memberikan jawaban atas krisis energi dan perbaikan kesejahteraan rakyat.

Kenyataan lain menunjukkan bahwa sebuah strategi energi yang dipilih negeri ini sangatlah tidak berdasar. Ditambah dengan keinginan untuk mengembangkan energi nuklir sebagai sumber energi listrik bagi rakyat, yang senyatanya telah menyimpan bencana laten bagi generasi negeri di masa mendatang.

Tak sedikit dana yang telah dialokasikan oleh negara ini untuk mendukung ambisi pengembangan bio-energi. Bahkan para peneliti negeri ini berlomba-lomba untuk memfasilitasi keberlangsungan program pemerintah, tanpa pernah melakukan kajian yang lebih utuh terhadap akar masalah yang terjadi. Di tingkat kabupaten, bahkan telah menjadikan pengembangan biofuel sebagai sebuah program unggulan.

Bila membongkar kondisi energi negeri ini, akan ditemukan bahwa senyatanya sumber energi fosil negeri ini telah dieksploitasi tidak untuk kepentingan negeri ini, namun untuk memenuhi kepentingan negara industri di belahan utara dunia. Minyak bumi, gas alam dan batu bara telah dengan sangat mudah dikuasai oleh korporasi global, yang juga telah menjadi penguasa dari pemerintah negeri yang telah pernah memproklamasikan kemerdekaannya.

Transfer kapasitas terhadap anak negeri dan teknologi pengolahan energi fosil, yang harusnya sudah dimiliki oleh jutaan anak negeri, telah menjadi bagian yang diabaikan. Padahal sangat jelas, pendiri negeri ini telah merancang agar pada fase pembangunan negeri, aset-aset alam harusnya telah dikuasai dan dikelola, serta dimiliki oleh rakyat Indonesia, bukan oleh kepentingan korporasi global.

Krisis energi yang telah terjadi selama bertahun-tahun di negeri ini, tidak terlepas dari pola penjajahan gaya baru yang dilancarkan oleh pemodal asing di tanah air. Masuknya perusahaan asing dan pemodal berdasarkan pada kebijakan negara, telah terbukti menciptakan keterpurukan kehidupan rakyat dan kehancuran ekologi pada berbagai wilayah di kepulauan Nusantara.

Kesalahan memandang keberadaan energi saat ini oleh pelayan publik negeri ini, dengan dibantu oleh kalangan opportunist, menjadikan pondasi kedaulatan negeri telah tergadaikan. Lebih jauh, alternatif energi yang dikembangkan pun, secara perlahan akan menggerus tatanan kultural dan penghidupan rakyat, yang pada akhirnya akan menciptakan hilangnya generasi di fase berikutnya.

Pilihan biofuel sebagai sebuah alternatif energi yang dikembangkan merupakan jalan sesat yang akan dilalui negeri ini. Beberapa kalangan bahkan menyatakan biofuel merupakan jawaban atas pertanyaan yang salah. Pembelajaran dari Brazil dan Amerika Serikat yang telah puluhan tahun mengembangkan bioethanol dari tebu dan jagung, malah memerlukan sumber energi yang jauh lebih banyak dalam proses pengolahannya, yang tentu saja sumbernya berasal dari sumber energi yang tersedia saat itu, berupa sumber energi fosil. Juga telah dibuktikan bahwa secara tidak langsung pengembangan biofuel tersebut telah memberikan tambahan gas rumah kaca di atmosfer.

Permasalahan lain yang kemudian akan timbul dalam mengembangkan biofuel di negeri ini adalah ketika ternyata pengembangan yang dilakukan adalah harus dalam skala areal yang sangat luas. Penyediaan energi bagi mobil mewah hingga industri-industri yang hingga saat ini sangat tidak jelas kontribusinya bagi kesejahteraan rakyat, akan berakibat pada semakin terpuruknya sistem kehidupan rakyat.

Pengembangan tanaman untuk energi dalam skala besar akan mengakibatkan hilangnya lahan-lahan produktif rakyat, serta hilangnya kawasan hutan. Ini telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dimana dengan berdalih pada pengembangan sumber energi hayati dan penanaman lahan kritis, senyatanya dilakukan pada lahan-lahan yang selama ini menjadi sumber kehidupan rakyat, dan juga pada lokasi-lokasi yang sebenarnya masih memiliki kelayakan untuk disebut sebagai hutan.

Bahkan, ketika ditelisik lebih mendalam, bahwa krisis energi saat ini lebih dilihat pada kebutuhan bagi kelompok ekonomi menengah ke atas, dan bukan pada kepentingan energi kelompok masyarakat yang belum sejahtera. Sumber-sumber energi yang menjadi kebutuhan bagi kelompok komunitas lokal akhirnya harus tergantikan dengan hamparan tanaman yang disiapkan untuk pemenuhan kebutuhan energi hayati bagi kelompok kaya. Kayu bakar menjadi semakin sulit diperoleh karena tak ada lagi hutan, hingga kemudian lahan produktif secara perlahan hilang sehingga tak dimiliki lagi kedaulatan pangan.

Butanya nurani pelayan publik negeri oleh kepentingan pemodal menjadikan jargon yang selalu diucapkan saat mencari dukungan suara publik pada masa kampanye menjadi terlupakan. Kesejahteraan rakyat, sebuah kata kunci yang selalu terdengar, pada akhirnya hanya tinggal kenangan.

Saatnya bagi kelompok-kelompok komunitas lokal untuk berdiri pada posisi kedaulatan atas sumber kehidupan, dengan tidak membiarkan terjadinya kerusakan ekologi akibat pengembangan produk tanaman tunggal (monokultur) pada kawasan luas pada lokasi dan sekitar lokasi berkehidupan. Menyerahkan tanah pada kepentingan industri monokultur untuk kepentingan energi hayati, sama saja dengan mencabut ruh kehidupan komunitas secara perlahan.

Udara, air dan tanah, juga hutan, yang selama ini telah menopang kehidupan akan rusak secara perlahan. Yang pada akhirnya mengarah pada terciptanya gurun-gurun pasir baru yang sangat tidak mampu memberikan kehidupan pada generasi berikutnya.

Pilihan yang harusnya bisa diambil oleh negeri ini adalah dengan mengambil alih pengelolaan sumber-sumber energi fosil yang dikuasai oleh pemodal asing, melakukan pembatasan eksploitasi energi fosil, serta mengembangkan teknologi energi alam yang sangat melimpah, namun belum termanfaatkan, semisal energi angin, air, dan matahari.

Penguasa kebijakan harus membenahi sistem transportasi publik, menutup industri yang boros energi, serta melakukan pengembangan-pengembangan produk yang memang benar-benar dibutuhkan bagi kehidupan rakyat. Bukan dengan mengarahkan kebangkitan konsumerisme di negeri ini.

Secara lebih lengkap, harus lebih dimaknai kembali UUD 45 dan perubahannya, bahwa kedaulatan aset alam adalah pada rakyat, bukan pada pemerintah maupun pemodal. Terminologi good environment governance harus dimaknai dengan lebih utuh, bukan hanya masalah lingkungan hidup yang sehat, namun lebih dalam kepada kedaulatan rakyat atas sumber-sumber kehidupannya, termasuk pada sumber-sumber energi.

Menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada kelompok pemodal asing, sama saja mengembalikan negeri ini pada sebuah sistem penjajahan gaya baru, yang artinya negeri ini telah secara sadar membatalkan kemerdekaannya. Saatnya memilih, berdiam diri atau bergerak cepat untuk perubahan menuju kedaulatan dan kesejahteraan rakyat, serta menjadi bangsa yang merdeka 100%. [070107]

Random Posts

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul

27 Responses »

  1. Jadi baiknya pakai energi surya, energi gelombang laut, energi angin saja kali ya? Itu kan disediakan alam semuanya... Investasinya mahal seperti investasi PLTA tapi setelah itu tinggal pemeliharaan saja.

  2. Investasi tinggi di awal masih akan lebih baik, dibanding harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi. Kemudian sistem yang dibangun adalah dalam skala kecil, semisal per kecamatan ataupun per beberapa kampung, dan dibangun sistem pengelolaan listrik oleh komunitas lokal. Akan ada semangat kepemilikan bersama untuk membangun kawasan masing-masing... :-)

  3. apapun bentuk energinya, yg harus di ubah pertama kali adalah pola pokir dan prilaku manusianya. sebanyak apapun energinya kalau manusianya masih rakus, serakah, gak pernah mau merasa puas ya tetap saja gak akan cukup. dan eksploitasi dalam beragam bentuk akan tetap terjadi.

  4. Yang seharusnya dilakukan oleh generasi akademisi sekarang adalah bukan berbangga-bangga dan berlomba-lomba masuk ke perusahaan eksplorasi-eksploitasi energi fosil asing.
    Tapi meramaikan perusahaan kepemilikan dalam negeri, menjadi aktor utama dalam hal pemanfaatan sumber daya alam terbaharui bersama-sama dan ikut membereskan kekacauan di sana-sini dalam bidang tersebut...
    Gak hanya memikirkan saja tanpa melakukan sesuatu, mengkritisi, mengejek yang jelek secara sarkasme atau apapun....

  5. ..sebenarnya modal besar di awal diperlukan dalam setiap explorasi energi baru ah! maintain jg pake duit. cm kan jelas ada bedanya pake energi yang bs diperbaharui macam air, angin dll ketimbang yang ga bs diperbaharui to. kalo dipkir2, keluar fulus banyak utk pertamax plus plus plus mau, masak ganti mesin spy bs pake energi laen ogah. ya... balik lg ke mental deh... aku ajalah jadi contoh, tetep aja susah memaksa diri jalan kaki 1 kilo aja, drpd naek motor 2 tak atawa 2000 perak naek bus kota... hehehe... apalg pas jalan kaki di siang bolong di jalanan jogja, dipepet opel blazer wangi berplat KT! mendadak sepet dah...

  6. Kalo harus balik ke mental... menjadi sukar diberikan jawabannya, sistem yang harus diintervensi... :-)

    Perubahan tidak akan pernah terjadi bila tidak diinginkan untuk terjadi, namun sesuatu yang pasti adalah sebuah perubahan... :-)

  7. penerapan energi apapun tergantung pada kebijakan penguasanya, yang harus selalu berpihak pada rakyat. yang terjadi sekarang adalah energi untuk manusia ditentukan oleh perilaku dunia Internasional, dan negara mana yang paling berkuasa dia yang mengatur fluktuasi harga bahan bakar. Jadi seumpama saja biofuel menjadi solusi baru, maka seluruh dunia harus sepakat dulu tentang pemakaian dan kebijakan internasionalnya, jangan tiap negara ingin menonjolkan diri sebagai yang terkuat untuk penyediaan dan pemakaian biofuel kelak.

  8. mau rusak kek, mau ancur kek, gak penting itu. yg penting duit masuk terus.kita kan BUDAKNYA NEGARA MAJU.orang pinter udah banyak dan yg sok pinter apalagi. kalo pemerintah udah bilang gini... mau apa kau! ada yg kritis jg krn 'kurang/gak kebagian jatah'.. ada yg kritis krn pengen doang. jd gimana donk :D . so persetan mo setuju ato gak =)) =)) =))

  9. kok jalan sesat sih? klo sistemnya tanam di lahan kritis apa gak bagus? bikin aja petisi terus diundang-undangkan bahwa perkebunan bahan baku biofuel hanya boleh menggunakan lahan kritis (bekas tambang misalnya), tidak menggunakan tanaman yg bisa dikonsumsi (tebu, kelapa, sawit), tidak membuka lahan baru (babat hutan). tp emang ada investor yg mau? ... hehehehe duit lagi...duit lagi...

  10. yup.. saat ini sudah terlihat kesesatannya... sawit dimana-mana, tapi tetap saja minyak goreng berbahan CPO menjadi langka... belum termasuk ketika membuka lahan untuk perkebunan besar kelapa sawit tak pernah di lahan kritis... :-)

  11. Ho'oh je. Kadang2 aku berpikir..apakah perkembangan teknologi sering berbenturan dengan yang namanya politik, ekonomi, dan lingkungan??
    Seperti misalnya gini.

    ok, jika biofuel sebagai perkembangan teknologi yang positiv. Tapi apa kata pertamina ??
    Apa kata produsen kendaraan?? Honda ? toyota?

    HM...agak susah emang. Kita ini masih negara berkembang..so butuh duit buanyak. Sehingga kebijakan yang akan diambil sepertinya kan didominasi oleh kebijakan ekonomi dan politik.

    Sekarang sapa yang mau sekolah ( kuliah) menghabiskan biaya, Lulus sebagai engeneer, atau scientist yang punya bekal luas untuk melakukan berbagai penelitian untuk menemukan penemuan mutakhir, lalu berani kerja di dalam negri tapi g dibayar, semata-mata hanya untuk memajukan negeri tercinta ini.

    Hanya pada idelisme.
    Ada yang bisa "makan" dengan idealisme ??

    haha...kita masih money oriented.
    So..larinya ya keluar. Dan jarang yang memikirkan kemajuan pendidikan dan ilmu di Indonesia.

    Lalu bagaimana?

    Budaya masyarakat.

    Jika emang biofuel tu buanyak ruginya dalam hal proses, ya kita mndingberalih ke sumber energi lainnya.
    Tapi jangan hanya opini. Ada data penelitiannya g ya?

    Jika hanya beropini buta, berarti kita hanya melihat suatu masalah secara praktis dari penampaknnya aja.Tidak secara komprehensif dan mendalam.

    hehe..hanya komentar si.....

    Salam,
    -Gholib-

  12. Jelas aja Indonesia jadi heboh banget mau ngembangin bio-fuel, wong gara2 itu kan harga CPO jadi naek.
    padahal sistem perkebunannya belum diperbaikin.
    nanem sawit tapi mbabat hutan dulu, jadinya banjir deh kayak di sumatra barat kemaren..

    heran gak sih? kok ya kita punya pemerintah mau aja digoblokin sama orang luar negeri.
    disuruh bikin pltn, ayok aja, katanya buat lingkungan hidup bla bla, padahal yang untung juga pekerjanya yang notabene didatengin dari luar negeri itu.
    disurung ngembangin bio-fuel, ayok aja, nanem sawit dimana-mana, padahal yang untung juga orang luar, gara2 pemerintah pasti lebih milih untuk mengekspor ke luar daripada dipake di dalem negeri.

    padahal kalo pake BBRL yang beneran ramah lingkungan, kan semuanya ada di negeri ini. sebutin aja.
    panas bumi,ada.
    angin, ada, potensinya di kalimantan besar tuh.
    ombak, pantai selatan tuh rame!
    pasang-surut juga ada! di maluku sekitarnya potensinya gede tuh, malah kemungkinan kalo dikembangin bakal kelebihan hasilnya.

    apa lagi coba??

    *jadi gemezzz!!*

  13. Bagus banget tulisannya....
    Nggak banyak lho yang lihat biofuel seperti anda, salut!
    aku setuju dengan kalian semua, emang sih setiap hal pasti ada baik dan buruknya, masalahnya di sini kita pingin Indonesia jadi lebih baik tapi terbentur pada birokrasi politik n ekonomi.Ada berapa sih dari kita yang punya cukup kekuasaan untuk menggerakkan sejuta rakyat, dibandingkan dengan kekuasaan pemerintah. Ada berapa banyak pejabat di luar sana yang peduli (dari hati) pada kicauan-kicauan kita di sini, jangan-jangan malah mereka ga tahu keberadaan kita. Jalan terbaik yang bisa kita tempuh ya..
    Mulai dari diri sendiri, biasain jalan kaki or naek sepeda misalnya.
    Oh ya bagi temen-temen yang konsen ke pendidikan lingkungan untuk anak-anak n remaja, saya butuh banyak masukan. Saya punya satu kelompok lingkungan (eco club) dan masih bingung dengan materi yang bisa diberikan.
    teman bisa menghubungi saya di onymus.ann@gmail.com
    Thx

  14. ga semua biofuel seperti itu. mungkin yang kamu maksud biofuel selain biomassa. kalau itu aq baru setuju. soalnya biomassa kan bahan baku-nya ga dari sumber pangan tapi dari limbah gimana bisa disebut jalan sesat energi hijau.

  15. bener banget artikelnya..kenapa gak mentingin kebutuhan dalam negeri dulu..bukan cuma menghabiskan resources tapi di satu sisi juga mengancam kelestarian lingkungan di negeri ini. so, termakan dollar tapi indonesia termakan oleh polusi yang membahayakan.

  16. Terima kasih atas artikelnya..

    Sangat membantu dalam penyusunan karya tulis kami.

    ^_^

  17. biofuel tuh apa c???
    hehe
    trus manfaatnya apaan??
    kerugiannya apaan???
    pokoknya kesimpulannya tuh gimana solusi yang paling baik buat negara kita???

  18. Saat ini kami sedang melakukan penelitian Pembuatan BIodiesel dari Alga. Sebuah sumber daya yang berpotensi. Informasi lebih detail dapat dilihat di http://kamase.org

  19. bener katamu , aku salut.terus enaknya gimanaaa....?
    aku pusing deh mikirin indonesia, selalu pada posisi salah meluluh !!!!!.

  20. ah tersarah antum2 kabweh energi teu bisa dijiun tapi ngan bisa diubwah snajan urang bisa ngaubah eta energi tetep we bakal aya anu beak conto energi matahari cenah moal beak tapi atmosfer ruksak sagalana oge aya resikona!!!!!!!!!

  21. kalo dipikir semuanya ada baik-buruknya. kalo bicara mental emang susah. dan niat baik yang terburu-buru tanpa kajian yang mendalam ya bahaya juga. ada paradigma dalam bidang transportasi, mass transport dan moving less. so, perbaikan sarana umum, tata letak dan guna lahan yang optimal, setidaknya mengurangi penghamburan bahan bakar.

  22. iyah jalan sesaattttttttttttttttt

  23. wew?! liat aja jakarte... akibat nurutin ego kalangan atas, 1 keluarga bisa punya mobil lebih byk dari yg ngisi rumah. trus pejabat kebanyakan studi banding, pulang bukannya bawa ilmu malah bawa pengalaman. Di jepang aja rela-rela ke kantor jalan kaki, kalo jauh ya naek sepeda... keringat juga ilank klo dah kena AC.

  24. Salam kenal..
    Blognya bagus..
    Btw,,
    Apa pendapat anda mengenai energi nuklir..?
    Pro atw kontra dengan pembangunannya di Indonesia..?

  25. sila liat di posting bulan januari 08

  26. punya data tentang dampak buruk biofuel gak? soalnya saya selalu nemu fakta yang kontradiktif tentang penggunaan
    biofuel ini.... jadi bingung euy

  27. wah, bgs banget nih artikelnya!

    lmayan bwt nambah2 bahan paper....

    thankz bgt yupz....

    aboutwhatisthis.blogspot.com

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word