E-volusi
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Evolusi. Sesuatu yang pasti terjadi. Perlahan, tak terlihat, tak terperhatikan. Beragam pendapat berkaitan dengan teori evolusi yang pernah disampaikan oleh Darwin. Yang kemudian banyak melihat sebagai sebuah kontriversi. Namun terkadang kontra-evolusi masih belum pernah membaca tulisan Darwin itu sendiri.
Evolusi. Titik perubahan yang akan tetap berubah. Bergerak mengikuti eksternal lingkungannya. Dipandang sebagai sebuah ruang penyesuaian kehidupan agar tetap bertahan hidup. Ketika menyaksikan begitu banyaknya spesies yang belum terungkap, sepertinya masih banyak spesies antara yang menandakan sebuah evolusi itu benar adanya.
Dalam sebuah kurikulum pendidikan. Tak penting sebuah evolusi. Yang terpenting sebuah re-volusi terhadap sebuah sistem pendidikan, termasuk didalamnya kurikulum dan metodologi pendidikan. Agar kemudian ada generasi yang mampu melakukan re-volusi di negeri ini.
tak penting evolusi !







hmmmm, akhirnya permintaan ku untuk tulisan ini, di kasih juga. tapi sepertinya tidak tepat menggandengkan evolusi DArwin dengan re-evolusi dalam pendidikan, ada mata rantai yang hilang, sehingga kebermankaannya tidak menyentuh.
maksudku kebermaknaannya tidak menyentuh, masih mengulas bagian permukaan dari sebuah sistem pendidikan, buak pada apa yang telah bisa dibuat oleh pendidikan itu sendiri.
re-volusi bukan re-evolusi
lebih jauh tentang hal yang dibongkar di sistem pendidikan, sila lihat di bagian ruang urai
Justeru….!
ketika pendidikan di lembar urai itu telah dimaknai (oleh saya) yang di bahas masih pada management, pengelolaan, sistem, keterlibatan parapihak, dampak ketidak berjalannannya sebuah sistem ideal dan berbagai buah pikiran yang (menurut saya = belum positif), sinisme terhadap makhluk yang disebut “pendidikan” itu tampak jelas, yang terurai malah emosi, dan rasa ketidakpuasan terhadap sistem.
Jika diakui itu benar, pertanyaannya adalah, sampai kapan? haruskah selalu larut sementara hakekat dari pendidikan itu sendiri semakin tenggelam? hakekat pendidikan yang bukan dimaktubkan dalam ijazah tapi dalam jiwa yang kelak akan jadi pendidikan sepanjang hayat?
kita selalu menganggap “tidak penting” tapi kita selalu memikirkannya? lantas apa makna penting itu?