dibalik sebuah berita formalin
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Media massa, menjadi sebuah alat baru dalam mendorong terjadinya pembukaan mata oleh pemerintah. Media massa, utamanya televisi, merupakan sebuah titik pembukaan mata yang sangat mengagumkan bagi kondisi Indonesia saat ini. Di antara semakin meningginya tayangan alam tak nyata, info-tainment, hingga un-reallity show, sangat diakui bahwa media televisi telah menjadi sebuah media advokasi yang mengagumkan.
Tak kurang dari lima belas menit, sebuah stasiun televisi komersial menayangkan keinginan sejumlah pengungsi anak Aceh untuk bertemu dengan Presiden SBY, walau tak terjadwalkan, kemudian terjadilah kunjungan tersebut. Tak lebih dari satu hari berita kelaparan di Yakohimo ditayangkan, membuat kabupaten di Papua ini menjadi pusat perhatian. Flu burung, busung lapar, gizi buruk, hingga bencana telah dengan sangat cepat tersajikan di sebuah kotak ajaib ini.
Belakangan, formalin, sebuah bahan yang digunakan untuk membantu keawetan makanan telah pula menjadi perbincangan keseharian dari warga negeri ini. Berbagai opini pun membanjiri berbagai media massa bentuk lainnya, hingga di berbagai mailing list. Di luar kontroversi ini, sebuah penghargaan layak bagi media televisi yang membuka ruang perdebatan di negeri ini.
Ada hal yang menarik ketika mulai kasus ini menghangat adalah saat berbincang dengan seorang staff di Balai Pengawasan Obat dan Makanan Kaltim. Di balik menghangatnya berita formalin, terkandungi juga sebuah pertempuran peningkatan peran kelembagaan BPOM di dalam tataran institusi kelembagaan pemerintah. Pertarungan antara Departemen Kesehatan dan BPOM.
Dari bincang sesaat terungkap bahwa senyatanya sejak 2001, kasus penggunaan formalin telah dilaporkan kepada Departemen Kesehatan, namun hingga akhir tahun 2005 tak satupun tindakan yang diambil maupun dilakukan oleh sebuah Departemen yang harusnya menjadi payung kesehatan rakyat. Dalam rentang waktu tersebut, BPOM mulai mengusulkan peningkatan kewenangan kelembagaan. Yang ternyata juga BPOM pun dipaksa untuk mengeluarkan biaya yang tak sedikit agar kebijakan dapat dihasilkan. Dan baru tahun 2004, BPOM memiliki kewenangan untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran penggunaan bahan berbahaya pada makanan. Hingga pada akhir 2005, BPOM mempublikasikan hasil temuan melalui media televisi yang pada akhirnya menjadi sebuah alat kampanye dan advokasi.
Publik bergejolak. Pemerintah mulai mencari cara untuk cuci muka. Klarifikasi. Pendapat berbeda. Sementara kalangan peneliti mulai berlomba melihat ini sebagai sebuah peluang. Penjual bakso dan mie ayam mengalami penurunan omset. Konsumen lebih selektif.
Kekuatan media televisi sangat digunakan dalam mengganggu kerangka pikir hari ini. Dengan sebuah sentuhan kemanusiaan dan kepentingan manusia, akhirnya telah berhasil menyentuh kepekaan manusia. Pesan pun tersampaikan dengan sangat baik (yang juga diikuti dengan pro-kontra pemikiran).
Menarik permasalahan formalin ke dalam aktivitas yang digeluti, tertemukan bahwa dalam halnya isu-isu lingkungan hidup, hingga saat ini belumlah menyentuh wilayah sensitif kemanusiaan. Kampanye masih berada pada wilayah mimpi. Tak ada yang sadar bahwa telah begitu banyak dana yang ‘dibuang’ untuk sebuah kampanye konservasi. Alat kampanye lingkungan hidup dibuat sebagai sebuah hasil program, bukan sebagai sebuah media.
“Dalam satu menit Indonesia telah kehilangan hutan seluas enam kali lapangan sepak bola” ternyata malah menggiring pemikiran rakyat untuk semakin tidak peduli dengan kerusakan hutan. Mengapa bisa? Sebagian besar rakyat Indonesia sangat menyukai permainan sepak bola. Dengan semakin banyak lapangan bola yang “dibuat” akibat kerusakan hutan, maka akan semakin menguntungkan bagi penggemar maupun penikmat sepak bola. Apalagi saat ini sudah semakin sulit menemukan ruang terbuka yang dapat dijadikan lapangan sepak bola.
Pesan kampanye lingkungan hidup hingga saat ini hanya berada di wilayah lingkungan hidup itu sendiri. Pesan kampanye yang dibangun di Indonesia pun sangat bias terhadap kondisi negara yang telah berteknologi sangat berbeda dengan Indonesia. Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan di sektor kesehatan. Sangat mudah menemukan sensitifitas kemanusiaan di dalamnya.
Apakah tidak mungkin lingkungan hidup bersensitifitas kemanusiaan? Bukan dalam sebuah jargon. Namun dalam berkehidupan. Menyentuh wilayah pribadi - keluarga - komunitas, tidak pada wilayah regional - negara. Hal inilah yang sangat dibutuhkan untuk menjadikan sebuah bola salju dalam gerakan pendidikan lingkungan hidup hari ini. Bentuk bolanya, gulirkan ia.
“selama kawan membaca coretan ini, tak kurang dari 7 orang saudara kita telah kehilangan sumber kehidupannya akibat pengrusakan hutan. haruskah perusahaan kehutanan - perkebunan skala besar - pertambangan - perusahaan air mineral - lembaga konservasi internasional tetap dibiarkan menggerogoti kehidupan rakyat Indonesia ? Yakinkanlah bahwa kawan tidak sedang mendukung penghilangan hak untuk berhidupan yang juga dimiliki saudara kita”











Wadah bamamay