Generasi yang Hilang
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Berjalan menyusuri riak Mahakam membawa sebuah kesegaran dan kehangatan baru dalam membuka cakrawala berpikir. Sepanjang aliran air yang coklat keruh dengan iringan eceng gondok serta silih bergantinya serpihan kayu ditambah dengan berjuta rombongan sampah, tidaklah mengurangi sebuah pembukaan mata, telinga dan hati dan menjernihkan otak.
Gambaran yang terlihat hanyalah sebuah pola kehidupan masyarakat yang sudah mulai berubah drastis dari apa yang selalu diagungkan sebagai kearifan tradisional. Tidak ada lagi rerimbunan pohon, tidak ada lagi lengkingan fauna, tidak ada canda dan tawa, yang terdengar hanyalah raungan mesin dan tawa bahagia di sepanjang arus.
Dimana akan terlihat Pesut yang menjadi kebanggaan Kalimantan Timur? Dimana terlihat hijaunya rimba Kalimantan? Dimana keindahan alam jamrud khatulistiwa? Tak ada yang tahu dan tidak ada yang mau tahu.
Begerak ke pertengahan aliran sungai, sudah terlihat jelas perubahan pola kehidupan yang dijalani oleh masyarakat. Masyarakat lokal yang selalu digembar-gemborkan memegang teguh kelestarian dan persahabatannya dengan alam tidak lagi terlihat. Semua berubah total setelah mencium aroma segar kertas berharga (baca: uang), segala asa terhadap impian membangun kelestarian alam sudah terbuang. Masih adakah yang tersisa?
Dalam perjalanan mewujudkan sebuah pencarian diri, ada beberapa hal yang terungkap dari dasar diri. Mengapa mental rakyat saat ini sudah tidak lagi sama dengan apa yang terjadi di generasi sebelumnya? Sikap menghormati dan menghargai seorang pemimpin, seorang senior dan juga terhadap orang tua seakan terkikis oleh aliran air. Apa yang menyebabkan?
Budaya instan, awal hilangnya sebuah generasi
Terungkap, dari perjalanan hidup seorang makhluk di dunia saat ini, sudah hilang sebuah perjuangan dan pengorbanan di dalam mempertahankan kehidupan. Segala sesuatu telah dengan mudah dapat diperoleh. Bagaimana seluruh manusia dengan mudah dapat memperoleh apa yang diinginkan tanpa harus mengeluarkan banyak keringat. Seorang yang bersekolah sudah bukan lagi keinginan diri untuk bisa lebih maju, tapi hanya sekedar sebuah formalitas mengikuti keinginan orang tua. Di sisi lain, pola hidup yang serba instan juga telah menciptakan iklim yang kurang baik di dalam pembentukan mentalitas seseorang. Bentuk kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anak bukanlah melalui sebuah ungkapan sayang dan perjuangan dari orang tua, sehingga anak merasa tidak begitu kuat rasa sayang yang diberikan. Sikap individualisme juga mulai tertanam sejak kecil, dengan bergaulnya anak dengan permainan elektronik yang membuat jiwa sosialisme anak tidak berkembang. Rasa peduli tidaklah tumbuh dalam diri anak.
Beberapa perubahan perilaku kehidupan manusia berawal dari beberapa hal di atas. Ungkapan seorang teolog di daerah pertengahan aliran Sungai Mahakam, adalah mengapa sekarang banyak yang berselingkuh? Jawabnya adalah sebagian besar disebabkan seorang istri tidak lagi berjuang dan berkorban didalam menyajikan makanan untuk suaminya. Tidak lagi sering terlihat ibu-ibu mengolah bumbu dapur dari bahan mentah. Saat ini sudah banyak bumbu masak instan, bahkan memesan makananpun bisa dilakukan. Dengan tidak adanya sebuah ikatan suami terhadap masakan istrinya, hal inilah yang menyebabkan suami tidak merasakan sebuah keterikatan dari istrinya sehingga lebih cenderung senang untuk mencari wanita lain dalam perjalanan hidupnya.
Sebuah perubahan yang besar telah terjadi dalam kehidupan anak manusia di dunia saat ini. Dahulu untuk dapat memakan sepiring nasi diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar. Dahulu beras harus ditanam sendiri, kemudian bergeser hingga saat ini telah didapatnya segala kemudahan, sehingga beras sudah dapat dibeli dengan mudah di swalayan, supermarket, pasar maupun di warung-warung. Kemudian dalam mengolah beras menjadi nasi, dahulu harus menghidupkan api dari kayu bakar, beralih dengan mempergunakan kompor minyak tanah, kemudian yang lebih canggih dengan mempergunakan kompor gas dan saat ini sudah dapat menanak nasi dengan menggunakan kompor listrik maupun rice cooker yang mempergunakan listrik.
Perkembangan teknologi itu adalah suatu keharusan, namun bila ditelaah lebih mendalam, ternyata ada beberapa kemajuan teknologi justru menghilangkan filosofi kehidupan yang menyebabkan manusia merasa mudah memperolehnya sehingga tidak lagi memahami sebuah nilai perjuangan dan pengorbanan.
Mengapa anak-anak bisa melawan dan sukar diatur oleh orang tuanya? Karena wacana anak dibiarkan terkungkung dalam kebebasan yang tanpa batas, sehingga segala bentuk norma serta etika tak lagi tertanam dalam diri anak. Minimnya komunikasi juga membuat anak merasa bukan bagian dari orang tuanya.
Mengapa banyak anak yang meninggalkan sekolah (baca: bolos)? Hal ini dimungkinkan karena begitu mudahnya akses didalam meraih dunia pendidikan dan begitu mudahnya dirinya keluar dari dunia pendidikan tersebut. Tidak ada sebuah perjuangan berat yang harus dilakukan oleh seorang anak didalam memperoleh kenaikan kelas, bahkan memperoleh nilai, hal ini membuat semakin menumbuhkan jiwa keengganan di dalam menjalani sebuah rutinitas studi. Selain itu, tidak adanya respon dari orang tua terhadap evaluasi keberhasilan pendidikan anak juga semakin berkurang. Tidak ada sebuah rasa bangga dari orang tua bila anaknya bisa memperoleh nilai yang tinggi dalam studinya. Hal ini membuat anak menjadi enggan untuk memperkaya dirinya di dalam belajar. Selain itu, sudah terlalu banyak anak yang mengeluh bahwa pilihan minat studinya sudah bukan lagi merupakan pilihan dan keinginan si anak. Apakah hal ini benar?
Pembentukan mental anak juga merupakan bentukan dalam masa kecilnya. Permainan elektronik yang begitu pesatnya berkembang membuat anak sudah terjauh dari permainan-permainan anak yang mensosialisasikan dirinya di lingkungan. Permainan tradisional anak sudah jarang ditemui di masyarakat. Belakangan ini anak-anak lebih suka bermain permainan elektronik yang menumbuhkan jiwa individualisme si anak. Sedangkan permainan anak tradisional yang sudah ditinggalkan terlihat dapat menumbuhkan jiwa sosialisme dan kebersamaan anak. Akankah anak bangsa kehilangan jiwa solidaritas, kepedulian dan jiwa sosialnya?
Berkorelasi dengan hal-hal tersebut diatas, maka ada hal yang menarik untuk dibongkar. Mengapa saat ini cenderung setiap orang selalu berupaya menyelamatkan dirinya, mengayakan dirinya, tidak tumbuh jiwa sosialnya, tidak peduli dengan alamnya, mencari keuntungan sendiri, begitu banyak perselingkuhan, begitu banyak korupsi, begitu banyak kolusi, begitu banyak hal yang berubah dalam perilaku hidup manusia? Banyak sebabnya. Dan mungkinkah hal tersebut juga bermula hanya dari perut? Dan mungkinkah semua itu bermula dari pembentukan mental sejak awal? Itulah jawabnya.
Disisi lain, sebagian besar manusia yang hidup di dunia saat ini selalu berupaya mencari sesuatu yang mudah dan serba instan. Makanan pun lebih memilih makanan instan ataupun cepat saji. Ada beberapa nilai yang hilang dalam sebuah perubahan pola makan tersebut. Pertama, dengan semua makanan yang serba instan itu ternyata membuat manusia enggan untuk berpikir, karena semuanya dengan mudah dapat diperoleh. Kedua, nilai gizi yang terkandung dalam makanan instan tidak sebanding dengan makanan-makanan yang diolah dari bahan-bahan alami. Ketiga, hilangnya perjuangan dan pengorbanan serta kemampuan dan ketrampilan ibu-ibu rumah tangga dalam meramu dan menyiapkan makanan bagi keluarga, mengakibatkan perubahan nilai-nilai tradisi dari keluarga. Misalnya saja, meningkatnya perselingkuhan, banyaknya kasus broken home, banyaknya anak-anak yang salah pergaulan dan lain sebagainya. Inilah yang menciptakan sebuah generasi yang hilang.
Maraknya pengrusakan alam mengatasnamakan kesejahteraan juga semakin merebak dalam era saat ini. Keuntungan sekejap memang telah diraih, tapi apakah tidak pernah terbersit didalam benak dan hati anak manusia, apa yang akan dialami oleh anak-cucu-cicit-buyut nantinya. Inilah yang perlu dibongkar. Bagaimana mendidik anak manusia? Bagaimana memberikan pengetahuan? Bagaimana pola pendidikan yang harus dijabarkan?
Intinya adalah sebuah komunikasi, keterbukaan, sosialisasi dan kejujuran diri masing-masing individu. Akankah kesejahteraan dapat terwujud? Pasti, bila manusia telah mengalami dampak dari apa yang pernah mereka lakukan.
Dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan manusia, saat ini sudah dapat disaksikan beberapa akibat dari perubahan yang terjadi, yaitu terciptanya generasi yang hilang (the lost generation) dimana kemampuan kreatifitas, intelektualitas, mentalitas, dan kecerdasan dari masyarakat di Indonesia telah berkurang. Semuanya telah berpikir untuk diri sendiri, tidak berpikir untuk sebuah kebersamaan. Segala hal dinilai dengan materi, bukan dengan sebuah kepuasan diri. Akankah generasi yang hilang ini dapat kembali ditemukan? Jawabnya adalah dapat, apabila mulai dibangun kembali sebuah tradisi yang selama ini terlupakan.
Memperbaiki kesalahan di masa lalu
Menjadi sebuah bagian dari anak negeri yang sedang dalam kondisi kekacauan dan kekalutan serta di ambang kehancuran tidaklah mudah. Indonesia telah terlalu jauh meninggalkan kepentingan masyarakat yang ada di pelosok negeri. Teknologi yang dikembangkan oleh pemerintah tidaklah diperuntukkan bagi masyarakat secara luas, tapi hanya sebagai sebuah proyek mercu suar.
Akanlah sangat aneh, dimana bangsa yang memiliki Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi, PT PINDAD, PT PAL, PT IPTN, serta beberapa pabrik teknologi maju lainnya, masih harus mengimpor alat-alat pertanian. Padahal bangsa Indonesia sebagian besar masyarakat hidup dari tanah dengan bertani, berladang dan berkebun.
Dilihat dari beberapa sisi, maka dalam mengembangkan kemampuan dan pengetahuan anak negeri harusnya dapat memenuhi dari tiga aspek, yaitu managerial (leadership), wira usaha (entrepreneurship), dan cerdas (intelektual). Dimana hal tersebut akan dapat tercapai apabila sistem yang membungkus hal tersebut memiliki unsur-unsur kesamaan hak dan kesempatan, motivasi, serta sarana dan prasarana yang mendukung.
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia sudah seharusnya kembali kepada apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Teknologi pertanian, misalnya traktor tangan, penggiling padi dan lainnya sudah saatnya dikembangkan dan diproduksi oleh bangsa sendiri. Dalam kebijakan nasional pengembangan teknologi tersebut, juga harus memperhatikan pasar (kebutuhan masyarakat), teknologi yang dimiliki oleh masyarakat, serta kemampuan riset.
Sudah saatnya Indonesia mengembangkan teknologi berbasis rakyat yang tepat usaha dan tepat guna. Dimana teknologi tersebut diterima oleh masyarakat, ekonomis, efisien serta differensial.
Untuk masuk ke masyarakat, harus diketahui kebutuhan masyarakat, inisiatif dari masyarakat, serta mengapa teknologi tersebut mereka perlukan. Inilah yang harus dilakukan pengkajian dan pengembangan yang harus dilakukan dalam mengembangkan anak negeri, hingga suatu saat sampailah pada kejayaan kembali kerajaan Indonesia di permukaan bumi.
Membangun anak negeri juga harus dilakukan dengan sebuah sistem yang berkesinambungan dan kontinyu, sehingga apa yang telah mereka miliki dapat terus dikembangkan dan dapat juga dimiliki oleh generasi berikutnya. Kondisi saat ini adalah bangsa Indonesia tidak pernah memikirkan sebuah sistem yang mengena kepada obyek langsung masyarakat tapi hanya berpikir pada dataran bagus dari sisi kebijakan.
Pembangunan mental spiritual anak negeri juga harus diperbaiki sistemnya, jangan menggunakan sebuah sistem pemaksaan kehendak dan intervensi. Percayalah, sebuah kuantitas yang banyak belum menjamin terhadap keberhasilan pembangunan mentalitas. Kejenuhan dan kebosanan akan meimbulkan pemberontakan.
Saat Kaltim ?Bangun? dari Tidur Panjang
Seiring dengan bergulirnya keinginan daerah untuk mengelola sendiri hasil kekayaan alam yang ada di daerahnya, diikuti dengan semangat otonomi daerah yang saat ini sedang menjadi berita hangat di kalangan elit politik hingga kalangan rakyat jelata, masih ada kekhawatiran akan kemampuan sumber daya manusia di daerah dalam mengelola sendiri kekayaan yang dimilikinya. Perdebatan panjang sering terjadi. Walau demikian harus diakui bahwa sebagian masyarakat lokal, terutama masyarakat adat telah memiliki cara dan ciri sendiri dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Kalimantan Timur sebagai salah satu daerah yang terkaya di Indonesia tidak pernah ketinggalan dalam perebutan hak pengelolaan sumber daya alam dengan para penguasa di pusat. Namun hingga saat ini, Kaltim masih merupakan daerah yang belum memiliki kesatuan aksi dalam memperjuangkan kembalinya harta kekayaannya ke daerah. Perjuangan yang dilakukan cenderung bergantian dan berbeda visi dan misi yang dibawa, sehingga terkesan Kaltim itu sangat banyak.
Seandainya saja Kaltim sudah berhak mengelola sumber daya alamnya sendiri, pertanyaan yang akan muncul adalah sudah siapkah sumber daya manusia yang ada di Kaltim ini untuk mengelolanya? Mengapa pertanyaan ini muncul? Hanya satu jawabannya. Sudah lama rakyat Kaltim hanya menjadi penonton dalam pengelolaan sumber daya alam dan sebagian kecil terbuai dalam cengkraman orang pusat dengan imbalan berlembar-lembar duit.
Selama ini, rakyat Kaltim tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar menjadi pengelola sumber daya alamnya. Rakyat Kaltim memang ada yang menjadi karyawan atau lebih tepatnya menjadi buruh, sehingga tidak banyak ilmu dan teknologi yang dimiliki oleh rakyat Kaltim. Di kalangan elit politik dan kalangan pemimpin, belum banyak yang aktif dan kreatif menghasilkan ide-ide baru dan bagus dalam mengelola daerah. Sangat jarang ditemui seorang birokrat pintar otaknya, yang pintar hanya mulutnya saja. Karena selama ini segala sesuatu adalah hasil pemikiran orang pusat, sedangkan hasil pemikiran orang daerah tidak pernah terpakai sehingga membuat para pemikir daerah menjadi enggan dan akhirnya tidak bisa lagi berpikir untuk daerahnya.
Melihat kondisi yang ada, akhirnya Kaltim tersadar akan kemampuan dan kondisi yang ada saat ini. Sehingga mencuatlah keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang ada di Kaltim ini. Namun masih ada permasalahan baru yang timbul, yaitu masalah klasik, masalah pendanaan.
Menggali sumber dana untuk peningkatan SDM
Berawal ide dari orang pusat untuk menggali dana dari sektor kehutanan, akhirnya malah berbuntut timbulnya gejolak di daerah. Tarik-menarik dan saling merasa penting untuk diberi dana mulai bermunculan. Dana yang awalnya akan ditarik dari sektor kehutanan untuk setiap meter kubik kayu yang dihasilkan dan juga dari sektor perkebunan atau dikenal dengan istilah levy and grant, akhirnya menjadi perdebatan yang hangat di Kaltim. Gubernur sudah membentuk badan untuk mengelola dana tersebut, namun DPRD Tk. I Kaltim meminta agar dana tersebut masuk saja ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), namun hingga saat ini masih belum ada kejelasan.
Perdebatan mengenai levy and grant ini terus berkembang. Beberapa pengusaha mendesak agar segera saja dibuat perda yang mengatur hal ini. Sayangnya, mungkin karena dananya belum ada sehingga otak pemimpin daerah ini masih beku, usulan tersebut hanya sekedar usulan tanpa ada sebuah langkah lanjutan yang konkret. Para anggota dewan pun masih terbuai di kursi empuknya dan hanya berbicara ngalor-ngidul tentang otonomi daerah tanpa ada gerakan nyata.
Sementara hal tersebut masih diperdebatkan, akan lebih baik apabila kalangan akademisi, pengusaha, LSM maupun birokrat membicarakan sebuah konsep yang nantinya akan dipakai dalam melaksanakan levy and grant tersebut. Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Siapa yang akan mengelola? Untuk apa dan siapa dana tersebut? Berapa besarnya ?pungutan? dari setiap meter kubik kayu? Kapan memungut? Apa sanksi (bila dikehendaki) kalau tidak menyetorkan dana? Dan masih banyak pertanyaan lain yang harus terjawab.
Sebenarnya ada sebuah kekhawatiran bila terlalu banyak pungutan yang dikenakan kepada pengusaha hutan. Pengusaha hutan sudah wajib membayar Dana Reboisasi, Provisi Sumber Daya Hutan dan pajak, sumbangan sosial melalui APHI serta dana bagi masyarakat sekitar hutan, dan sekarang ditambah lagi dengan adanya levy and grant sehingga akan membuat begitu banyaknya pungutan di sektor kehutanan ditambah lagi dengan pungutan-pungutan lainnya yang tidak ada peraturannya secara khusus. Dengan banyaknya dana yang dikeluarkan oleh pengusaha hutan, ada sedikit kekhawatiran nantinya akan berlaku hukum ekonomi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Mungkin hutan akan semakin ranggas dijarah dan dimakan oleh pengusaha hutan. Apapun yang bisa menghasilkan uang dari hutan akan diuangkan. Untuk itu, fungsi pengawasan yang sampai sekarang belum benar-benar dilaksanakan agar nantinya dapat dilaksanakan dengan sebenar-benarnya sesuai dengan aturan yang ada.
Selain levy and grant, masih ada usaha lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan sumber daya manusia. Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI di tahun 1999 pernah menggulirkan usulan Land Grant College(LGC). Namun inipun belum terealisasi dalam bentuk aturan yang jelas dalam peraturan perundang-undangan. LGC adalah pemberian lahan hutan kepada perguruan tinggi (PT) dan lembaga penelitian dan pelatihan (LPP) agar mereka dapat melakukan pengembangan ilmu dan teknologi serta dapat menghasilkan uang dari hasil hutan yang ada. Pada homepage Dephutbun, dikatakan bahwa MoU pemberian lahan sudah ditanda tangani, namun ternyata berdasarkan informasi yang ada, saat ini baru digodok kriteria lembaga mana yang layak memperoleh LGC tersebut. Akan tetapi, nantinya diharapkan agar lahan hutan yang diberikan kepada suatu lembaga dapat benar-benar dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Sementara hingga sekarang, hanya sektor kehutanan dan perkebunan yang diperebutkan untuk membangun sumber daya manusia di Kaltim. Mengapa kok sektor lainnya tidak pernah diperebutkan? Bagaimana dengan sektor pertambangan? Sangat banyak perusahaan pertambangan yang beroperasi di Kaltim. Ada yang menambang batu bara, minyak bumi, gas alam hingga emas. Sementara, berapa banyak sih mereka ?diperas? untuk membangun daerah? Hanya sedikit ?pengorbanan? mereka hingga saat ini. Apakah hanya karena sektor pertambangan sukar diperbaharui hasil buminya? Mengapa pemerintah tidak ?memaksa? sektor pertambangan untuk mendanai pengembangan sumber daya manusia di Kaltim ini?
Menggapai impian dengan menemukan kembali generasi yang hilang
Dengan berbagai alternatif langkah di atas, diharapkan generasi yang hilang dapat kembali ditemukan dan mencegah lebih dalamnya bangsa Indonesia terpuruk dalam lobang yang digalinya sendiri. Semua manusia menginginkan sebuah kesejahteraan, rakyat menginginkan pemerintah yang bersih, berwibawa, demokratis dan transparan, serta kehidupan yang tentram dan damai.
Cepat atau lambatnya suatu proses tergantung dari niat, keinginan dan usaha yang dilakukan. Semakin cepat pemimpin bangsa tersadar dari buaian mimpi indah saat ini dan semakin cepat masyarakat terbangun dari tidur panjangnya, akan semakin cepat pula membawa negeri ini seperti yang diimpikan bersama.











Wadah bamamay