Pemanasan Global dan Bencana Ekologi
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Pemanasan global atau meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi telah semakin menunjukkan wujudnya. Iklim yang tidak dapat diprediksi, musim kemarau yang semakin lama, musim penghujan yang semakin pendek dengan intensitas tinggi, hingga suhu permukaan bumi yang semakin meningkat.
Bencana ekologi kian semakin sering terjadi di berbagai belahan di dunia. Kejadian banjir, kekeringan dan longsor telah menjadi berita harian. Dalam setiap tahunnya, berbagai daerah di Kaltim mengalami tiga kali kejadian banjir. Bahkan di tahun ini, kejadian banjir telah menjadi sebuah kejadian yang sangat luar biasa dibandingkan tahun sebelumnya, karena telah terjadi dalam waktu yang lebih lama dan wilayah kejadian yang lebih luas.
Sementara di sebagian wilayah lain di dunia dan Indonesia tengah mengalami kekeringan berkepanjangan. Tanah-tanah merekah dan tak cukup baik untuk diusahakan sebagai lahan pertanian. Krisis air bersih juga melanda wilayah-wilayah tersebut. Perubahan iklim juga mengakibatkan semakin meluasnya penyebaran penyakit dan munculnya jenis-jenis penyakit baru.
Penghilangan pepohonan (pembalakan hutan) telah mengakibatkan berkurangnya kemampuan penyerapan gas rumah kaca, serta meningkatkan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Selain itu, pemanasan global juga disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.
Semakin meluasnya perijinan yang diberikan kepada industri ekstraktif dan industri besar dan berskala luas oleh pemerintah juga sangat berkontribusi terhadap terjadinya pemanasan global yang disertai krisis pangan. Lahan-lahan produktif rakyat secara paksa dialihkelolakan kepada pemodal-pemodal besar dengan dalih untuk menopang ekonomi makro negeri. Perluasan lapangan kerja dan kepastian investasi menjadi sebuah slogan yang diangkat untuk melakukan penggusuran lahan produktif rakyat.
Agresifnya pemerintah dalam berpihak pada investasi juga telah secara nyata menghadirkan kejadian bencana ekologi di berbagai wilayah di negeri ini. Banjir dan kekeringan juga tidak hanya semata disebabkan akibat pemanasan global, namun lebih disebabkan pada hancurnya tatanan ekosistem sebuah kawasan akibat pembukaan hutan, rawa, kerangas dan pegunungan kapur bagi kepentingan industri.
Untuk itu, FORUM SATU BUMI mendesak Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten-Kota di Kalimantan Timur untuk:
- Menghentikan sementara pemberian ijin pembalakan hutan selama 2-3 tahun;
- Menghentikan dikeluarkannya perijinan baru terhadap industri pertambangan;
- Melakukan audit lingkungan terhadap perusahaan dan industri yang mengeksploitasi kekayaan alam Kaltim;
- Melakukan re-kalkulasi kekayaan alam Kaltim dan menghitung ulang jejak ekologi (ecological footprint) Kaltim;
- Memberikan pengakuan terhadap wilayah kelola rakyat yang selama ini memiliki tata aturan pengelolaan ekosistem yang baik;
- Melakukan upaya perbaikan dan pencegahan pengrusakan lingkungan hidup, diantaranya dengan melakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan yang bebas korupsi, menegakkan hukum terhadap pelaku pengrusakan dan pencemaran lingkungan hidup, serta dengan melakukan pendidikan lingkungan hidup kepada publik.
Dukungan publik untuk mengantisipasi dampak dari perubahan iklim dapat dilakukan dengan turut mendesak pemerintah untuk serius mencegah bencana ekologi dan krisis pangan yang akan terjadi di Kalimantan Timur. Selain itu, publik juga dapat melakukan upaya â€Âadaptasi†dan â€Âmitigasiâ€Â. Kegiatan beradaptasi antara lain menanam pohon untuk menghindari longsor dan menyerap polusi udara, pembuatan sumur resapan serta menghindari daerah pemukiman di lereng bukit. Kegiatan mitigasi atau pengurangan efek gas rumah kaca dapat dilakukan dengan hemat energi, tidak konsumtif, mengurangi dan mengelola sampah, serta efisiensi penggunaan transportasi. [selesai]
—–
Pernyataan FORUM SATU BUMI dalam Hari Lingkungan Hidup Dunia - 5 Juni 2007



(2 votes, average: 3.5 out of 5)







ok
[tanggapi]