Jelajah Maya Kalimantan Timur

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Internet, saat ini sepertinya hanya menjadi bagian bagi kelompok masyarakat menengah ke atas. Mahalnya peralatan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk menjelajah di dunia maya yang kaya akan informasi dan pengetahuan, menjadi sebuah hambatan utama dan pertama. Di luar itu, ternyata terdapat sebuah kondisi pensia-siaan keberadaan peralatan dan koneksi internet yang luar biasa di kalangan pemerintah. Sebuah temuan yang mengejutkan adalah keberadaan tidak kurang dari 26 komputer server yang hingga saat ini hanya tergunakan sebagian kecilnya.

Bisa jadi karena ketidaktahuan atau malah akibat dari terlalu banyaknya peralatan yang telah dimiliki, hingga tidak tahu lagi berapa banyak teknologi yang dimiliki. Hal yang menarik juga adalah ketika website Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur (kaltim.go.id) tidak lagi bisa diakses karena penyedia layanan tidak diperpanjang kontraknya. Baru setelah di”gugat” oleh beberapa kalangan, tersadarkan akan pentingnya pintu gerbang propinsi ini di dunia maya. Akhirnya, dengan sebuah aktivitas “gotong royong” akhirnya bisa kembali terbuka “gerbang maya” propinsi ini, walaupun harus berpindah alamat menjadi kaltimprov.go.id. Sebuah pekerjaan yang maha dahsyat yang dilakukan oleh tim dari sebuah sekolah kejuruan TI swasta di Samarinda agar supaya gerbangnya kembali terbuka.

Dari penjelajahan hingga saat ini, bisa jadi angka yang disajikan oleh APJII sebagai sebuah gambaran kondisi negeri ini. Baru 8% penduduk negeri ini yang menggunakan internet di tahun 2006, dengan tarif internet yang masih sangat mahal. Namun telah ada sebuah arah membaik di masa datang (seandainya mampu terlaksana), dimana Konferensi Teknologi Operasional Internet Asia-Pasific (Asia-Pasific Regional Internet Conference on Operational Technology/APRICOT) yang berlangsung di Bali tanggal 26-27 Februari 2007, menghasilkan komitmen untuk membuat internet dan teknologi informasi serta komunikasi yang tersedia dan terjangkau.

Grand Design TI: Perencanaan Masa Datang Perjalanan TI di Kaltim

Dunia ini terus bergerak. Kemajuan teknologi akan semakin menghasilkan teknologi yang mudah dan murah bagi pengguna. Menjadi penting membangun kesiapan pengguna teknologi agar tak menjadi gagap terhadap teknologi yang dihasilkan, atau malah menggunakan teknologi untuk kepentingan yang tak berguna. Bisa jadi dengan teknologi yang akan datang akan menghasilkan kejahatan terbaru pula. Inilah yang penting dibingkai di propinsi ini sebelum berlari mengikuti perkembangan jaman.

Dalam beberapa kali pertemuan yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan Investasi Daerah (BPID) Kaltim, telah digulirkan wacana membuat grand design teknologi informasi (GD-TI) di Kaltim. Sebuah kelompok dari berbagai kalangan telah dirangkul untuk bahu-membahu mewujudkannya. Mulai dari pengusaha, akademisi, sekolah, hingga komunitas TI. Hanya saja masih ada pihak yang enggan menggabungkan diri karena memiliki agenda tersendiri dan terlalu sibuk dengan mainannya sendiri. Inilah sebuah tantangan awal dalam mencoba membangun kerangka kerja besar bersama di dunia teknologi informasi di Kaltim.

Dari hasil penjajakan awal, ditemukan banyak sekali celah yang harus diperbaiki dalam konteks teknologi informasi di pemerintahan dan dunia pendidikan. Sumberdaya manusia yang belum memadai, peralatan yang tidak dikelola dengan baik, penggunaan perangkat lunak (software) yang tak resmi, hingga masalah kebijakan yang masih belum mendukung secara maksimal.

GD-TI haruslah dibuat sesegera mungkin. Selain dapat menunjang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional di Kaltim tahun depan, GD-TI juga akan menjadikan sebuah pencapaian yang terukur dan terarah bagi pengembangan TI di Kaltim. Usaha awal yang sudah cukup baik, hanya saja masih penting untuk membuka keterlibatan lebih banyak pihak untuk berkontribusi pemikiran dalam penyusunan dan pelaksanaan GD-TI Kaltim.

Internet Exchange: Jalan Alternatif TI

Selain GD-IT yang menjadi penting, internet exchange yang merupakan infrastruktur fisik yang memungkinkan penyedia jasa internet (ISP) yang berbeda untuk menggunakan jalur secara bersama dengan persetujuan, menjadi kebutuhan wilayah ini, terutama juga dalam mendukung perwujudan e-government dan me-rakyatkan internet. Semakin banyak bertumbuhan ISP di Samarinda dan Balikpapan, ditambah dengan akses internet yang dimiliki Pemerintah Propinsi maupun kota, perguruan tinggi dan sekolah kejuruan, maka akan semakin memungkinkan dilahirkannya SIX (Samarinda Internet Exchange) maupun KTIX (Kalimantan Timur Internet Exchange).

Keuntungan pertama adalah semakin mudahnya jejaring informasi yang akan dibangun antar instansi pemerintah, termasuk juga terhadap kelompok perguruan tinggi dan swasta maupun masyarakat pada umumnya. Keuntungan lainnya adalah akan bisa terbangun sebuah kawah informasi yang sangat luar biasa yang dapat diakses dengan cepat dan biaya lebih murah, bila saja semangat kebersamaan dalam mewujudkannya tetap terjaga.

Kepentingan bisnis pasti akan tumbuh dalam proses perjalanannya. Menjadi penting untuk tetap terjaga sebuah roh kebersamaan di dalamnya. Pengetahuan bukanlah hanya semata milik perseorangan, pengetahuan akan lebih berarti bilamana digelontorkan pada pihak yang lebih banyak.

Jelajah Maya Kalimantan Timur

Berikutnya yang menjadi tantangan terberat adalah bagaimana masyarakat Kaltim berkehendak untuk menggunakan teknologi yang tersedia. Ketika faktor harga telah mampu ditekan serendah mungkin, apakah kemudian masyarakat Kaltim akan tergiur untuk berselancar di jagad maya?

Pertanyaan bagi penggila TI saat ini adalah ketika semakin banyak akses internet murah, bahkan gratis pada sebuah tempat, namun kemudian masih banyak kelompok yang seolah tidak tertarik dengan gunung informasi yang akan tersajikan. Benar saja bahwa hingga saat ini hanya 8% penduduk negeri yang telah mengakses internet dikarenakan faktor tarif yang masih selangit. Namun apakah kemudian akan meningkat tajam ketika tarif menjadi sangat murah?

Memasyarakatkan TI bukanlah semudah memasyarakatkan teknologi telepon genggam. Masih banyak hal yang menjadikan sebuah kesenangan yang tidak sekedar melihat situs porno ataupun ber”marketing” di dunia maya. Dunia maya harus bermanfaat secara pengetahuan bagi kehidupan keseharian masyarakat, dimana dengan keberadaannya akan terjadi peningkatan ekonomi kerakyatan hingga terbangunnya jejaring kehidupan sosial-kultural yang lebih luas. Jagad maya adalah ruang kehidupan yang berbeda, dan akan sangat berarti bila disandingkan dalam berkehidupan di negeri ini.

Pertanyaan penting bagi pelayan publik (pemerintah) dan masyarakat Kaltim adalah apakah memang dibutuhkan sebuah jejaring informasi (teknologi informasi) bagi kehidupan di Kaltim ini? Bila ya, marilah bersama mendesakkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk kembalinya domain kaltim.go.id sebagai langkah pertama. Dan kemudian menjadi penting untuk bersama membangun grand design teknologi informasi di Kaltim, serta dilanjutkan dengan bersama mewujudkannya.

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

5 ikung bamamay celotehan “ Jelajah Maya Kalimantan Timur ”

  1. “Pertanyaan bagi penggila TI saat ini adalah ketika semakin banyak akses internet murah, bahkan gratis pada sebuah tempat, namun kemudian masih banyak kelompok yang seolah tidak tertarik dengan gunung informasi yang akan tersajikan”
    Benar saja, buktinya di kampus unmul yang gratis koneksinya, mahasiswanya sebagian besar seolah acuh dan gak tertarik pada fasilitas tsb. Paling yang dibuka situs porno, friendster, atau Mirc. untuk email dan milis pun mereka masih ogah-ogahan. Sudah dicoba di perkenalkan dengan hal lainnya, cuman kalo mang ga da ketertarikan tetep aja susah, ada aja alasan inilah, itulah. Padahal kalo semuanya mengerti…komunikasi, sistem perkuliahan, dan hal lainya bisa lebih mudah dan murah. Hal ini saya rasakan benar di lingkungan kampus sekitar saya. Entah bagaimana caranya supaya bisa menimbulkan minat ke arah sono?? mungkin saja itu berjalan seiring dengan kemajuan zaman??

    [tanggapi]

  2. aku mengenal internet di taun 1999, awalnya cuma email. tahun selanjutnya aku menggunakan internet untuk memperoleh buku dan informasi untuk kuliah. tahun 2005 aku bilang diriku sangat familiar dengan internet. banyak buku, informasi, bahkan ide baru yang muncul yang kemudian mempengaruhi aktivitas dalam memberikan pengajaran dan pelatihan untuk mahasiswa di palembang. kebutuhan akan internet semakin meningkat di akhir 2005 hingga saat ini. Selain informasi, buku, dan wawasan aku banyak memperoleh teman baru, berbagi buku, berbagi makalah, berbagi kreativitas, semua aku dapet dari internet. Aku bagi semua yang aku dapet untuk komunitas mahasiswa di kampusku. Selain itu aku malah juga menggunakan internet untuk teman berbagi keluh kesah juga. karena terkadang internet dirasakan lebih memberikan “bahu” nya untuk berbagi. So, aku dapet pengetahuan, juga dapet temen. biaya? mungkin mahal, tapi itu aku dapet udah satu paket sama fasilitas yang sudah seharusnya aku dapet sebagai ganti buah pikiranku, hehhehe. di Indonesia cuma 8% yang pake internet? masa sich? aku enggak percaya.

    [tanggapi]

  3. Katanya internet bikin dunia seperti tanpa batas, kita bisa mendapatkan hampir semua informasi yang diinginkan, menyampaikan pendapat dan informasi dengan bebas, termasuk mengkomunikasikan bisnis kita. Pagi tadi sempat menyaksikan (disalah satu tv swasta nasional) tentang bagaimana internet mampu membantu seorang pengusaha memasarkan produknya. Menyaksikan itu membuat teringat seorang kawan akan semangatnya mengembangkan usaha rumah makan dengan sebuah produk unggulan. Kawan ini bahkan telah mempromosikan usahanya, walaupun secara tak langsung, melalui internet (yang sepengetahuanku rumah makannya bahkan belum dibuka).
    Jauh dari tempat kawanku tadi, sebuah kota pulau di sebelah utara Propinsi Kalimantan Timur, terdapat sebuah warung sate yang sudah terkenal kelezatannya bagi masyarakat disana. Letaknya tak jauh dari pertokoan THM yang merupakan pusat dari kota ini. Dalam semalam, tak kurang dari 2.500 tusuk sate ludes terjual permalam (karena hanya dijual pada malam hari), dengan harga Rp 1.000 pertusuk anda bisa menghitung sendiri berapa keuntungan kotornya (belum lagi bila ada pesanan tambahan, seperti resepsi pernikahan, lebaran, tahun baru dan keramaian lainnya). Tak ada internet yang membantu pemilik warung ini untuk memasarkan produknya, yang mereka punya adalah kepercayaan dari konsumen akan kualitas dan cita rasa produk yang mereka beli. Kondisi seperti ini seperti ini membuat si pemilik warung dan mungkin juga banyak pengusaha kecil lainnya, tak pernah terpikir untuk menggunakan internet dalam memasarkan produknya. Belum lagi karena pemahaman mereka yang terbatas sekali akan internet dan mahalnya biaya untuk menggunakannya.
    Ternyata dunia tanpa batas tersebut masih terbatas sekali penggunaannya, dan memiliki batas untuk bisa diakses oleh banyak pihak. Dan juga dunia tanpa batas itu masih dibatasi oleh benda berbentuk kotak yang bisa menampilkan tulisan dan gambar.
    Berharap suatu saat pemilik warung sate tersebut dapat mengembangkan usahanya lebih besar lagi sehingga akses internet menjadi sangat dibutuhkan untuk membantu memasarkan produknya.

    [tanggapi]

  4. bukannya di Tarakan udah ada free-wireless-internet?

    [tanggapi]

  5. ya itulah untuk mengakses dunia tanpa batas itu masih dibatasi oleh benda berbentuk kotak yang bisa menampilkan tulisan dan gambar….:)

    [tanggapi]

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>