urai keyakinan jiwa
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
serangkai mawar putih itu baru aku beli kemarin sore
dari seorang penjual bunga di sebuah simpang empat
pada sisi sebuah mal yang berdiri megah di tanah rawa
kuberikan agar kau letakkan di sebuah vas porselen
di tepi tempat tidur kayu yang mulai rapuh
agar wanginya mewarnai mimpi indahmu malam hari
segenggam melati putih itu baru aku petik kemarin sore
dari samping sebuah sekolah tua yang mulai tak berdinding
pada sisi sebuah gedung pemerintah yang berdiri megah di perbukitan
kuberikan agar kau letakkan di sebuah mangkok kaca
di atas lemari kayu yang tak lagi berpintu
agar wanginya menghiasi mimpi indahmu malam hari
sembilan lembar daun pandan itu baru aku lepas dari tangkainya kemarin sore
dari samping sebuah puskesmas yang didingnya tak lagi putih
pada sisi sebuah pabrik yang mencemari sungai tempat dirimu membersihkan diri
kuberikan agar kau letakkan pada tanakan nasi sarapan pagi
di atas sebuah piring plastik yang mulai keropos
agar semerbaknya meningkatkan gairah makanmu pagi hari
sebongkah kamboja kecil itu baru aku cabut dari tanahnya kemarin sore
dari samping sebuah perkuburan tanpa batu nisan
pada sisi sebuah kolam yang tak lagi ada ikannya
kuberikan agar kau tanam pada pekarangan rumahmu
di antara rerimbunan pohon buah terakhir di kampung
agar menyebarkan aroma kesejukan di sepanjang harimu
mawar putih
melati putih
daun pandan
kamboja
menyatu dalam mangkok tak bertepi
helai demi helainya kautaburkan
pada sebuah gundukan tanah memerah
yang di dalamnya telah terbaring kaku
sebuah jasad yang tak kan kau kenang
bersama dengan tak terdengarnya genderang perlawanan
berhembus di antara celoteh keyakinan akan sebuah kemenangan
dalam sebuah mimpi panjang akan kemerdekaan sejati
saat rakyat kuasa dalam ruang kehidupannya
aku harus berada dalam kamar hampa
menantikan pengadilan tanpa pembela
sebelum menuju sebuah rumah keabadian
di sisi bintang merah di langit ketujuh
[071015]
:: urai keyakinan jiwa








Ketika ia mulai meredup cahayanya
sebagian dari kita mulai tersadar
Ketika ia semakin meredup
sebagian dari kita mulai melek dan berteriak,
“Oh no…!!!”
Ayo kawanku, Bangun dari mimpi yang melenakan itu
Bangkitlah dan temukan apa yang kini meredup dari duniamu, dunia kita, dan dunia anak cucu kita nanti
Ayo Bergerak demi kehidupan yang lebih baik di masa depan, dan masa setelah kita tiada
Bandung,
Arki Rifazka
Aktivis LSM GRADASI (Gerakan Pemuda Pro Reformasi)
ya… bangkit… bersatu… bersarekat… berlawan…