Kacang Ijo dalam Kaleng

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Kacang ijo dalam kaleng. Minuman kaleng yang tidak diproduksi di negeri ini, padahal negeri ini menjadi penyedia bahan baku bagi industri tersebut” demikian paparan Faisal Basri dalam Konvensi Media Massa Nasional IV yang berlangsung di Hotel Borneo, Samarinda, kemarin (8/2). Begitu banyaknya produk-produk makanan ringan, mulai dari kacang gurih, ting-ting, kumis kucing, hingga asam jawa, yang diproduksi tidak di Indonesia. Malaysia dan Vietnam telah mendirikan industri makanan ringan yang bahan bakunya sebagian besar dari Indonesia.

Kondisi yang menyeramkan bagi bangsa ini. Disaat terdapat 39,05 juta penduduk miskin, ternyata Indonesia masih menyisakan kekayaan yang dikuasai oleh pemodal asing. 70% Perbankan di Indonesia hari ini kepemilikannya tidak oleh Indonesia. Belum termasuk sektor pertambangan, perkebunan besar, hutan tanaman industri, kehutanan dan perikanan, yang senyatanya dimainkan tidak oleh rakyat Indonesia. Tak pernah disadari mungkin oleh para pemegang kekuasaan, di saat mengejar investasi yang berlebih bagi peningkatan ekonomi tidak riil, senyatanya telah menghabiskan lahan-lahan produktif rakyat yang selama ini menjadi penopang kehidupan negeri.

Ichlasul Amal dari Dewan Pers Indonesia memaparkan bahwa hampir 90% aktivitas perekonomian dilakukan oleh kelompok mikro dan kecil. Pedagang Kaki Lima, yang hingga hari ini masih harus tergusur oleh kepentingan supermal maupun ruko, harus memasuki pertarungan ekonomi hanya demi bisa bertahan hidup hari ini. Lebih jauh ternyata, petani dan nelayan masih belum dianggap menjadi bagian penting dalam membangun pondasi ekonomi negeri. Penguasa masih hanya berkutat dengan stabilitas investasi, yang senyatanya, menurut Faisal Basri, telah menunjukan angka negatif (penurunan) dalam dua tahun terakhir.

Bila melihat di sektor pendidikan, maka bisa jadi bahwa inilah yang harusnya menjadi sektor kunci dalam membongkar arah pemerataan kesejahteraan di negeri ini. Pendidikan hingga hari ini hanya melihat pada kompetensi industri, teknologi dan bisnis raksasa, bukan pada kompetensi menguatkan sektor pedagang kaki lima, petani dan nelayan. Sekolah menengah dan perguruan tinggi berkutat dan berlomba untuk memfasehkan siswanya dengan bahasa asing dan teknologi informasi. Bukan salah memang, namun kemudian menjadi terlupakan bagaimana pondasi ekonomi bangsa yang sejatinya harus dihasilkan tak pernah tergarap dengan serius.

Negeri yang berlabelkan maritim dan agraris, hingga saat ini masih sangat sedikit menghasilkan teknologi sederhana yang bisa digunakan untuk menopang sektor riil rakyat. Penemuan telo (ketela) ungu melingkar oleh seorang akademisi perguruan tinggi negeri di Samarinda, mungkin hanya menjadi sebuah tulisan kecil dalam jurnal ilmiah. Bank beras lokal yang dikoleksi oleh sebuah lembaga, bisa jadi telah tak lagi bisa ditanam karena tak pernah juga dilakukan penelitian lebih lanjut untuk pemuliaannya. Hilangnya ikan patin di perairan Mahakam, bisa jadi karena telah lupa untuk mempersiapkan benih berkelanjutan bagi petani keramba.

Di luar itu, penguasaan lahan produktif (termasuk perairan produktif) oleh industri ekstraktif skala luas telah pula mengakibatkan tergerusnya budaya pertanian dan nelayan sebagian besar rakyat. Sudah saatnya berpikir ulang tentang desain pemerataan kesejahteraan rakyat di negeri ini. Bagaimana sektor ekonomi riil di tingkat rakyat bisa terfasilitasi dengan baik dan bagaimana kemudian teknologi mampu mendukung pengembangan ekonomi rakyat. Bukan sebaliknya, saat teknologi malah mengeliminir dan semakin memarginalkan sektor ekonomi rakyat. Sudah waktunya berpihak pada rakyat dan tidak lagi menghamba kepada modal!

[070209]
:: catatan kecil mengamati Konvensi Nasional Media Massa IV di Samarinda, 8 Februari 2007

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>