saat kancil tak lagi mencuri timun
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Di sisi lain, Komaruddin menyatakan, maraknya korupsi disebabkan pola pendidikan yang keliru. Ia mencontohkan, cerita “Kancil Mencuri Timun”, yang selalu dianggap kisah menarik dan cerdas. Padahal, di sana ada unsur mencuri yang merupakan awal munculnya korupsi. Dengan demikian telah terjadi penumpulan sensitivitas terhadap bahaya korupsi. [Kompas]
dongeng kancil mencuri timun, walau saat ini sudah jarang diperdengarkan, sepertinya masih terngiang di otak generasi hari ini. beberapa pihak menganggap inilah yang menyuburkan budaya korupsi di negeri ini. namun ada pula pihak yang menganggap kesemuanya bergantung pada penyaringnya dan kemampuan berpikir si penerima dongeng.
banyak dongeng yang didengarkan, bahkan hari ini bertambah dengan “hujan” sinetron. bahkan ibu tiri telah dilekatkan sebagai seorang yang sangat teramat jahat. terlebih semakin banyaknya rakyat kaya di layar kaca. potret berbeda ditampilkan ke dalam visual publik di negeri ini.
mimpi pun terbangun dengan semakin banyaknya kuis tak berpikir dan berenergi berhadiah berkantong-kantong emas. belum lagi semakin mudahnya menjadi idola. negeri ini memang sedang sakit. bahkan mungkin sedang sekarat. namun, seperti kebanyakan makhluk yang bernama manusia, selama belum mengganggu periuk nasinya, tak terasa bara api sedang membakar perlahan tanah tempat kakinya berpijak.
kancil tidak selalu harus menjadi pencuri. bahkan gajah pun tak bermaksud mencuri di kebun manusia. hilangnya sumber kehidupan satwa merupakan potret hilangnya sumber kehidupan rakyat negeri. kepentingan segelintir makhluk menjadi utama. pelayan publik di negeri berkekayaan alam ini sudah selayaknya memberikan pencerdasan pada penghuni negerinya. tidak malah melakukan penjajahan berkelanjutan.
tak penting kancil menjadi pencuri !











Wadah bamamay