(e)-leaderships

environment, education and information technology
Google

Kartini di Hari BUMI

By timpakul • Apr 21st, 2007 • Category: urai [ Cetak celoteh ] - 678 dilihat -
jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kartini, nama seorang perempuan yang sangat dikenal dalam sebuah emansipasi kelompok perempuan. Setiap tahunnya diperingati dengan berbagai arena perlombaan, mulai perlombaan memasak bagi lelaki, perlombaan berbusana kebaya, hingga sekedar perlombaan yang menghadirkan keriangan sesaat. Berbagai kantor pun mewajibkan karyawan perempuannya untuk mengenakan pakaian kebaya, pakaian yang dikenakan Kartini pada masanya. Seorang artis perempuan dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi mengatakan “Kalau dulu Kartini menggunakan rok mini, pastilah saat ini busana yang akan dipakai juga rok mini”.

Bukan masalah busana yang akan coba diangkat dalam tulisan ini, namun lebih jauh pada gagasan yang pernah dilahirkan oleh seorang Kartini melalui surat-suratnya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah kumpulan tulisan “Habislah Gelap Terbitlah Terang”. Begitu banyak kritik yang dilontarkan oleh seorang Kartini, termasuk juga ungkapan kepekaan sosial yang beliau coba sampaikan melalui tulisan beliau.

Menghilangnya Pemikiran Kartini

Saat ini, sebuah lontaran pemikiran yang pernah disampaikan oleh Kartini seakan tersapu oleh sehelai baju bernama kebaya. Keinginan seorang Kartini untuk mensetarakan diri dalam berbagai ruang kehidupan, berganti dengan semata sebuah kata “emansipasi” yang dimaknai hanya semata pada kemampuan perempuan melakukan pekerjaan lelaki. Surat-surat Kartini tak lagi banyak dibaca dalam setiap tahun diperingatinya Hari Kartini.

Sebagian besar surat Kartini berisi keluhan dan gugatan termasuk menyangkut budaya yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya untuk sebuah kemandirian dalam menentukan tujuan, memilih cara, melakukan aktivitas, yang dilakukan dalam kebersamaan, dengan bingkai keyakinan, kebijaksanaan, keindahan, kemanusiaan dan cinta tanah air. Kartini juga mengungkap pandangannya bahwa “agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang Esa dan Yang Sama.”

Kartini juga tak sekedar memperbincangkan posisi kelompok perempuan, namun lebih dari itu, Kartini mengangkat permasalahan penindasan yang terjadi di sekitarnya. Kartini melihat perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Upaya Kartini untuk mewujudkan cita-citanya bagi kelompok perempuan pun harus diwujudkan dengan menerima jalan yang selama ini menjadi bagian dari kritiknya, “poligami”.

Kartini, Perempuan dan Pembangunan

Memaknai sebuah perjuangan Kartini di saat sekarang, haruslah kembali melihat pada sebuah kondisi yang tengah terjadi. Posisi perempuan dalam lingkungan kehidupan sepertinya enggan beranjak dari ruang “penjara”nya. Telah banyak perempuan yang bekerja di sektor yang selama ini hanya dilakukan oleh kaum lelaki, namun bukan ini semata yang menjadi pemikiran oleh seorang Kartini pada masanya. Masih terlalu banyak kelompok minoritas (perempuan dan lelaki) yang harus menerima diskriminasi dalam menjalani ruang kehidupan.

Proses pembangunan negeri ini yang mengejar angka pertumbuhan telah memperbesar gurita penguasaan oleh kelompok kecil. Aset-aset alam yang harusnya menjadi sumber penghidupan bagi komunitas lokal, secara cepat beralih ke tangan-tangan kelompok kecil pemerintah yang berselingkuh dengan pemodal. Perlahan namun pasti, semakin banyak anak negeri ini yang jauh dari meningkatnya pengetahuan mereka, karena pendidikan dan kesehatan menjadi barang yang sangat mewah.

Andai saja Kartini hidup di masa kini, tentunya beliau akan sangat sedih bila yang semakin sering diperbincangkan hanyalah model pakaian, sepatu, tas ataupun telepon genggam terbaru. Sementara masih sangat banyak anak negeri yang tak menyentuh nasi hanya karena tempatnya berladang dan bersawah harus digantikan oleh tambang dan perkebunan (kelapa sawit) yang maha luas. Masin teramat banyak anak negeri yang menantikan tetesan air hujan untuk sekedar pelepas dahaga karena sungai dan danau telah tercemari.

Keinginan pelayan publik (pemerintah) negeri ini yang sangat kuat terhadap angka pertumbuhan, telah menjadikan sektor ekonomi rakyat semakin terpuruk. Walaupun sejarah telah mencatat, keruntuhan ekonomi negeri ini beberapa tahun lalu telah ditopang oleh ekonomi rakyat agar tak terpuruk ke jurang yang lebih dalam.

Kartini di Hari Bumi

Satu hari setelah memperingati hari Kartini, penduduk dunia merayakan Hari BUMI. Sebuah momentum perenungan terhadap kondisi bumi yang kian hari kian memprihatinkan. Pemanasan global telah mencemaskan kelompok peneliti, karena diyakini telah mencairkan lapisan es di belahan utara, dan secara perlahan menaikkan tinggi air permukaan. Ketidakpastian iklim pun terjadi, bencana banjir dan kekeringan menjadi sebuah fenomena yang kian menakutkan.

Kelompok perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap ancaman dampak pemanasan global yang terus berlangsung. Tingginya emisi zat pencemar yang dihasilkan oleh industri, terutama di negara belahan utara, telah mengakumulasi dan memaksa atmosfer membuka diri dari radiasi matahari yang merubah sistem kehidupan. Perjanjian internasional pun enggan disetujui oleh Amerika Serikat, sebagai negara penghasil emisi pencemar yang sangat tinggi di bumi ini. Keangkuhannya hanya akan mempercepat kematian bumi.

Sementara itu, negara-negara selatan dipaksa untuk tetap mempertahankan hutannya. Lembaga Konservasi Internasional dari negara utara-pun hilir mudik dengan dana yang tidak sedikit berkunjung dan membuat aktivitas di negara-negara selatan. Namun hingga saat ini, tidaklah terlihat hasil yang menggembirakan. Selain perut-perut pekerjanya yang semakin membesar, proses pengrusakan atmosfer oleh negara utara tetap saja berlangsung, dan pula pengrusakan hutan di negara-negara selatan semakin cepat akibat permintaan kayu dari negara-negara utara.

Kartini mungkin tak pernah akan mengerti tentang Hari BUMI. Namun andai saja Kartini hidup di masa saat ini, tentunya bukan semata menulis surat tentang kungkungan budaya ataupun minimnya kesempatan memperoleh pendidikan bagi kaum perempuan negerinya. Kartini mungkin saja akan menuliskan tentang limbah industri, pembalakan haram, hingga tercemarnya laut akibat limbah tambang. Atau bisa jadi Kartini hanya menuliskan sajak-sajak kesedihan perempuan dan anak-anak di negerinya yang harus menerima beban lebih besar akibat kehancuran ekologi yang diakibatkan begitu banyaknya penguasaan aset alam oleh pemodal asing.

Kartini, tidak akan begitu bangga terhadap perempuan yang hanya sibuk mematut diri di depan cermin untuk memastikan dirinya akan menang dalam perlombaan berbusana kebaya. Kartini akan lebih bangga bilasaja perempuan negeri ini bergandengan tangan untuk mewujudkan pendidikan dan kesehatan gratis dan berkualitas di setiap pelosok negeri. Kartini juga akan lebih bangga bila bangsa ini berhenti memberikan ruang bagi perusak lingkungan hidup. Kartini akan sangat bangga bila bangsa ini mandiri dan memiliki rakyat yang tak lagi sedih karena selalu tergusur.

Kartini di HARI BUMI, sudah saatnya bersatu melawan pengrusak ekologi dan menghilangkan penindasan di atas permukaan BUMI.

Random Posts

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word