kebun kayu

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

Tiga tahun lalu, World Rainforest Movement bersama berbagai organisasi di dunia mendeklarasikan tanggal 21 September sebagai “International Day against Monoculture Tree Plantations” atau “Hari Internasional melawan Perkebunan Monokultur”. Begitu banyak dampak yang telah diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan (termasuk hutan tanaman) skala besar. Mulai dari penggusuran rakyat dari sumber kehidupannya, pengambilan lahan secara paksa, hingga pada pengrusakan aliran air bersih.

Perkebunan skala besar juga telah menghilangkan keanekaragaman hayati (biodiversity), mulai dari satwa liar tidak dilindungi hingga yang terancam punah. Belum lagi menghilangnya hamparan vegetasi hingga tanaman perdu, yang memiliki nilai lebih besar dibandingkan hanya dengan menghamparkan tegakan akasia, leda ataupun kelapa sawit. Apotek yang maha luas secara perlahan menghilang. Pasar tradisional pun tergerus. Kantor yang selama ini menjadi tempat bekerja komunitas lokal berganti menjadi sebuah hamparan padang yang tak lagi begitu bernilai, dan hanya menjadikannya sebagai pekerja.

Begitu banyak perijinan dikeluarkan oleh pelayan publik. Setelah selembar kertas didapat, para pemodal bercengkerama dengan perbankan dan lembaga keuangan (internasional). Saling berjanji memberi keping emas yang lebih banyak. Satu persatu pepohonan rebah. Tanah merah merekah. Satwa berlarian tak tentu arah. Sungai yang dulunya jernih perlahan semakin menjadi kecoklatan. Aliran sang waktu jadikan nadi kematian. Hamparan tanah sejauh mata memandang. Pemodal merapikan koper, beranjak pergi, meninggalkan bongkahan tanah merah yang mulai mengeras. Lupa sudah akan janji kesejahteraan bagi mereka yang hidup dari hutan kemarin. Kelapa sawit tak ditanam, apalagi akasia maupun leda. Ladang-ladang tak lagi menyisakan kesuburannya. Satu per satu anak negeri pergi ke kota, meninggalkan kampung yang tak lagi beri kehidupan. Mengais rejeki diantara keangkuhan gedung, menjadi pekerja, dan tak lagi menjadi tuan di atas tanah sendiri.

tak penting kebun kayu !

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>