Kawasan Konservasi: Apa Yang Dibutuhkan oleh Komunitas?
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Tuesday, December 27, 2005, 4:38:40 PM, mirzassadjad wrote:
Intinya, daripada kita ‘hujani’ mereka dengan ‘kalimat-kalimat filosofis’ begitu, lebih baik fokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat saat ini. Kalau mereka gak terlalu berkepentingan dengan keberadaan TN, jangan terus ‘disuruh-suruh’ supaya berkepentingan ( bahasa kerennya : Meningkatkan posisi tawar ) atau diming-imingi dengan ‘kemakmuran’ yang berasal dari SDA..yang mungkin masih ‘diatas awan’ sana.. [milis rimbawan-interaktif]
Kalau bertanya apa yang menjadi kebutuhan rakyat, lebih baik bertanya pada komunitas di lokasi tertentu. Karena kebutuhan akan berbeda. Dan keinginan sangat berbeda dengan kebutuhan.
Secara umum (bukan bermaksud meng-generalisasi-kan), sebuah kebutuhan rakyat adalah:
1. Kepastian untuk berkehidupan, meliputi pengakuan wilayah kelola, akses terhadap kekayaan alam, akses pasar lokal-regional
2. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, serta kesempatan mengembangkan diri dan komunitas
Ketika kawasan konservasi dikelola, maka ia akan menjadi sebuah etalase ekologi dan wilayah bisnis. Penelitian silih berganti. Eksplorasi dilakukan. Rakyat menjadi penunjuk jalan, atau sekedar porter. Hasil penelitian dibawa ke negeri antah berantah. Rakyat tak pernah tahu apa yang dilakukan dan mengapa ini dilakukan. Semakin tidak pahamlah tentang apa yang sedang terjadi.
Berikutnya, mereka dipaksa untuk mengerti bahwa kawasan tersebut tidak boleh diakses, hewan buruan hanya hewan tertentu, tak boleh mengambil kayu untuk sekedar buat pondok dan rumah, dan selanjutnya dipersilahkan untuk keluar dari kawasan kelola mereka.
51 Taman Nasional di Indonesia, adalah wilayah dengan konflik. Permasalahan tenurial yang tidak terselesaikan. Inisiatif kebijakan dari pusat. Bahkan seorang staf Dephut pernah berujar, “wah… SK Taman Nasional yang itu salah tuh…. paparan tentang kondisi kawasannya nggak benar“. Dalam kepala saya cuma satu pertanyaan, kalau SK saja nggak benar, apalagi prosesnya penetapan hingga pengukuhan nantinya.
Sebagian besar kawasan Taman Nasional di Indonesia dikelola oleh NGOIntl. Adakah kesejahteraan rakyat di kawasan tersebut? Telah berapa banyak penelitian yang dilakukan di kawasan tersebut? Berapa banyak komunitas lokal yang tahu telah dilakukan penelitian sebanyak itu? Berapa banyak donasi yang dialirkan ke NGOIntl di kawasan tersebut? Pertanyaan terakhir, Kok mau sih Investasi di kawasan tersebut? Ada apa sebenarnya? Awalnya saya berpikir bahwa ini sekedar BISNIS KONSERVASI, namun pada beberapa kawasan hal tersebut lebih dari sekedar BISNIS KONERVASI. Dan saya yakin tidak seorangpun dari orang Indonesia yang hari ini bekerja pada lembaga-lembaga tersebut pernah mau tahu dengan apa yang sebenarnya sedang diinginkan oleh NGOIntl, karena hanya berstatus sebagai pekerja. Pedulikah akan nasib negeri ini ke depan?


(1 votes, average: 4 out of 5)





Wadah bamamay