menapaki ruang

langkah perlahan di sela rerumputan
Google

ketika aku tak tahu besok aku harus makan apa

By timpakul • 6 Dec 2003 • Category: urai [ Cetak celoteh ] - 197 dilihat

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Waktu di laptopku sudah menunjukkan lewat tengah malam. Namun kawanku belum enggan untuk berhenti bercerita tentang sebuah kegundahan jiwa dalam memaknai sebuah kematian kehidupan bergerakan.

Sangat banyak kawannya yang semakin hari semakin enggan untuk berbicara gerakan. Semakin hari semakin enggan berbicara revolusi. Entah apa yang membuat hal tersebut harus terjadi, namun hal tersebut telah terjadi.

Dari sebuah gerakan perlawanan, menjadi sebuah perjalanan hidup dengan merangkak. Dari sebuah gerakan pemberontakan, menjadi sebuah pemenuhan isi perut. Dari sebuah perjuangan, menjadi sebuah kebertahanan untuk tetap dapat melihat suramnya dunia.

Tak banyak pihak yang sempat memikirkan seperti apa yang dipikirkan oleh kawanku ini. Aktivis yang telah tumbuh banyak di negeri ini akhirnya satu persatu berguguran setelah harus kembali pada dunia nyata, dimana perut tak mungkin diisi dengan ideologis, dimana badan tak mungkin berbaju surat protes, dan anak tak mungkin hidup beratapkan perjuangan.

Ini mungkin adalah hal yang terlalu sering dilupakan. Kembali melihat pada realita kehidupan dimana hidup tak akan pernah berhenti untuk menunggu lahirnya kesempatan baru. Roda kehidupan terus bergulir diantara cepatnya perputaran otak dan peredaran amarah jiwa. Mungkin tak akan ada yang sanggup dengan sebuah laju perubahan yang terjadi dalam dunia nyata yang katanya fana ini.

Otakku semakin tak mampu berpikir setelah sekian lama berada dalam sebuah kotak sempit tak berujung. Dalam sebuah labirin tak jelas arah. Sekian lama aku coba uraikan pertanyaan yang terlontar oleh kawanku ini. Bukan hanya saat ini, jauh sebelum aku menentukan bahwa aku harus melakukan sesuatu agar ada sebuah kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya. Aku juga telah cukup lama mengabaikan hal tersebut, aku tak pernah mau terseret dalam alur hidup, namun ternyata telah banyak yang terhanyut di dalam derasnya aliran kehidupan.

Aku coba menjelajah dalam ruang tak bersekat untuk melihat arah mana dalam labirin jiwaku yang harus aku tempuhi. Menjauh dari permukaan kehidupan yang jelas-jelas tak pernah diketahui apa yang akan terjadi esok hari. Meninggalkan ruang hati yang terkungkung kemunafikan hidup. Aku selalu mencoba untuk lari dari sebuah jalan yang sebenarnya menampakkan kemeriahan kehidupan. Hingga aku juga belum temukan sebuah jawab atas tanya kawanku tadi.

Kita harus berjuang, kita harus melawan, kita harus berani teriak lawan. Jangan pernah berhenti berjuang. Libas semua lawan didepan. Teruslah berjuang. Bersatulah rakyat, kita pasti menang. Usir pengusaha. Enyahkan kapitalis. Tolak privatisasi.

Ah.. semua adalah kesemuan. Ketika harus kembali mendarat pada kehidupan, semuanya adalah kepalsuan. Revolusi, reformasi, pemberontakan, advokasi, dan sejuta hal dalam melawan kekuasaan, hanyalah sebuah kata semu yang tak pernah mampu memberikan ruang hidup pada makhluk kecil yang membahagiakan jiwa.

Apa yang sebenarnya ingin diraih? Kemerdekaan? Kesejahteraan? Kebahagiaan? Kemandirian? Atau apa? Semua hanyalah riasan pikiran yang dilakukan untuk mempertahankan hidup. Aku sendiri belum pernah mampu mengatakan diriku mampu untuk berdiri diatas kakiku sendiri. Semua berlaku seperti yang selama ini lawan lakukan. Tak pernah ada sebuah kata pasti dalam aliran hidup ini.

Apakah benar tak ada jawab atas semua? Aku ragu dengan ini. Aku masih yakin ada sebuah jawab dalam melihat dimensi lain sebuah perjuangan. Aku masih tetap berketetapan bahwa jawab itu pasti ada. Hanya tinggal kemenerimaan akal saja yang kadang menghalangi hadirnya sebuah jawab.

Jiwa dan nurani telah tergadaikan selama berada dalam sebuah kotak hitam yang penuh dengan labirin kepalsuan ini. Haruskah berjuang untuk orang lain, disaat jiwa tak mampu berjuang untuk asa dan hidup sendiri? Mungkin hanya satu jawab, aku harus berhenti berkata bahwa aku sedang berjuang untuk mereka, karena aku hanyalah berjuang untuk diriku sendiri.

[ timpakul :: tpu.031206.1816 ]

  • Facebook
  • Delicious
  • Google Bookmarks
  • Multiply
  • Twitter
  • Technorati Favorites
  • Care2 News
  • StumbleUpon
  • Gmail
  • Share/Save/Bookmark
  • No Related Post

timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word