makna sebuah gelar
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
“menjadi profesor itu adalah sebuah pilihan” demikian ungkap seorang Doktor pada sebuah workshop.
memiliki sebuah gelar dalam pendidikan adalah sebuah pilihan. namun pilihan itu kemudian menjadi sebuah keinginan yang tak terelakkan. karena penilaian perolehan kompensasi atas sebuah pekerjaan kemudian dinilaikan dari gelar pendidikan yang dimiliki oleh seseorang. makin tinggi gelar yang dimiliki, maka semakin tinggi pula kompensasi yang diperoleh.
“bapak itu sudah kerja 20 tahun, dan tak ada yang memiliki keahlian seperti beliau, tapi tetap saja tak mungkin berkembang karena tingkat pendidikannya yang tak memadai” ujar seorang ibu.
penilaian kompensasi masih belum sepenuhnya berdasarkan kemampuan ataupun keahlian yang dimiliki. hingga bisa saja, seorang yang berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama, namun kemudian memiliki keahlian dalam mencipta, lalu tetap saja masih dipandang tak berkeahlian apapun.
masih terlalu lebar jurang atas kemampuan seseorang dalam hal mengolah kerja otak dibandingkan dengan kemampuan untuk menempuh jenjang studi yang lebih tinggi. kesenjangan ini kemudian melahirkan kesempatan hanya bagi mereka yang memiliki pundi-pundi keping emas. belum adanya pendidikan gratis hingga ke jenjang yang lebih tinggi, ditambah dengan meningginya harga kebutuhan pokok, mengakumulasikan pada sebuah situasi, pengekangan kesempatan berkarya pada generasi negeri.
kepentingan pelayan publik sepertinya hanya berorientasi pada kepentingan kelompok pemodal. minimnya dukungan kepada kreatifitas anak negeri dapat terlihat dari lahirnya beragam peraturan yang mengekang kebebasan ekspresi, walau hanya dalam bentuk kata dan kalimat. kerja otak harus dibelenggu, karena terlalu khawatir hilangnya kekuasaan. moral seolah menjadi sebuah dewa, yang entah akan dimana batasnya.
masih terlalu banyak keterpurukan negeri ini, menjelang seratus tahun kebangkitannya. kepentingan sekelompok kecil orang, yang sangat dilarang dalam dasar konstitusi negeri, selalu berada di barisan terdepan. kepentingan rakyat negeri, semakin tersingkirkan. walau hanya untuk sekedar memperoleh sekeping emas untuk membayar biaya pendidikan yang tak murah di negeri ini.
pilihan berkehidupan semakin menyempit. masih terlalu banyak rongga-rongga yang ingin dipenuhkan oleh keserakahan. namun inilah potret sebuah negeri, yang masih bahagia walau sedang dijajah. yang masih mampu mengulas senyum, walau derita tak kunjung usai. yang masih mampu mentertawakan dirinya, disaat perut belum jua terisi dari pagi ini. hidup, bukan sekedar mengalir bagai air.
tak penting sebuah gelar !







Wadah bamamay