miskin
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
“kami ingin meminjam kepada lembaga keuangan yang ada, tapi tak ada yang kami bisa jaminkan. namun ada seorang tetangga yang memberi kami pinjaman. saat ini kami sudah bisa memperoleh pendapatan yang lumayan.” tulisan seorang kawan.
kemiskinan bukan semata permasalahan keberadaan uang yang beredar di publik. kemudahan mengakses uang untuk dapat digulirkan menjadi sebuah permasalahan yang tak pernah mampu dipecahkan oleh negeri ini. menguatnya sistem rentenir ataupun lintah darat hingga saat ini adalah karena lembaga pekreditan yang dibangun pelayan negeri masih belum mampu menyediakan kemudahan dan memperhatikan sisi sosial dari seorang klien.
apa yang dilakukan oleh peraih nobel adalah untuk menghilangkan birokrasi yang selama ini menggerogoti akses publik terhadap lembaga perkreditan. sebuah upaya lain yang juga selalu dibangun oleh sebuah kelompok di borneo adalah melakukan hal yang sama. hanya kemudian, masih penting ada sebuah kebijakan yang berbeda terhadap dua hak dasar (setidaknya) yang harusnya didapatkan rakyat, yaitu pendidikan dan kesehatan. bila saja ini terselesaikan, maka negeri ini akan lebih cepat mencapai cita-cita kemerdekaannya.
tak penting miskin !











Saya berasal dari sebuah keluarga yang bisa dibilang hanya pas-pasan bahkan terkadang kekurangan,terutama bila ada keluarga saya yang sakit,kami pasti terbelit hutang pada rentenir,hal itu masih berlanjut sampai saat ini,kami terus gali-tutup lubang.
“Sebenarnya upaya pemerintah dalam mengatasi pendidikan dan kesehatan itu teramat sangat minim,buktinya masih ada sekolah yang dipungut biaya spp padahal sudah ada BOS.”
[tanggapi]