Kaltim Negeri Kaya
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
[photopress:kt_miskin.JPG,full,alignright]Kalimantan Timur selalu diidentikan dengan negeri kaya. Tak salah bila melihat pendapatan domestik bruto yang mencapai Rp 156,432 triliun. Namun bila menyaksikan 18% penduduk atau sejumlah 682.842 jiwa penduduknya yang masih miskin, menjadi sangat ironis.
Lebih dari 6 juta hektar hutannya telah terdegradasi dari luas kawasan hutan 14 juta hektar. Bila melihat tata guna lahan di Kaltim, maka hanya tersisa kurang dari 30% untuk proses-proses kehidupan rakyat di dalamnya. Selebihnya telah menjadi milik pemodal dan pemerintah (dalam bentuk kawasan konservasi dan kawasan lindung).
Areal pertanian pun digantikan dengan areal pertambangan batubara dan perkebunan besar kelapa sawit. Kampung yang dulunya menjadi lumbung padi, sekarang menjadi lumbung debu. Tak ada lagi tempat untuk berkehidupan bagi rakyat Kaltim.
Belum termasuk keinginan lembaga konservasi internasional yang selalu mengatakan pentingnya konservasi. Kemudian menjadikan rakyat di kampung semakin terbatas ruang kehidupannya untuk sekedar berburu dan meramu. Pola-pola pengelolaan kekayaan alam pun kian digeser menjadi pola intensifikasi dan pertanian menetap, yang menjadikan rakyat harus kembali belajar untuk memahami teknologi baru tersebut.
Rotan dan madu sudah semakin menipis. Sarang burung walet dan telur penyu dikuasai pemodal lokal. Yang tersisa hanyalah padang ilalang tak bertepi. Sungai yang mengering dan tercemar menjadi sumber air bersih. Inikah potret negeri kaya?
tak penting menjadi negeri kaya !







Wadah bamamay