Multi-stakeholders Participatory ?Nelayan” Meeting ?.
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Angin bertiup perlahan. Menyapu ombak di tepian pantai. Nelayan sedang memperbaiki jala. Pari kecil bermain nakal di tepian. Pasir putih terhembus. Lamun menari. Teripang terpaku. Kerapu kecil bermain lincah diantara karang. Wuusss… sang angin menerpa daun kelapa. Bakau kecilpun bergoyang lincah diterpa sang angin. Anak nelayan berbaju lusuh bermain bola bertelanjang kaki di atas pasir putih.
Beratus mil dari pantai. Di hotel berkelas, sejuk, berkursi empuk, berkumpul orang berdasi, berbaju rapi, bersepatu dan menenteng komputer jinjing. Makanan enak. Minuman segar. Ratusan juta uang tertumpah. Berbicara tentang nasib sang nelayan.
Sang Bule yang banyak uang dan mendanai pertemuan berpidato, “Hari ini kita akan bicarakan bagaimana pengelolaan kolaboratif terumbu karang. Kita ingin tahu bagaimana kondisi saat ini. Bagaimana potensi. Bagaimana usulan yang akan dilakukan untuk perbaikan. Kita akan bicarakan nasib nelayan. Kita susun program berdasarkan usulan nelayan.”
Sang Fasilitator berujar, “Kita akan bicarakan gimana nasib nelayan saat ini. Gimana nasib terumbu karang. Gimana agar nelayan dan terumbu karang bisa tetap hidup. Mari kita bicara secara partisipatif. Menggali usulan dari rakyat. Kita lakukan konsultasi publik.”
Sang LSM bilang, “Lihatlah bagaimana nasib sang nelayan. Rumah gubuk reot. Pendidikan rendah. Kesehatan buruk. Nasib tak tentu. Dikuasai pemodal. Mereka terpaksa harus membom ikan. Mereka terpaksa harus meracun ikan. Mereka terpaksa harus merusak karang. Mereka hanya perlu untuk hidup mereka. Pemodalah yang membuat mereka semakin rusak. Lihatlah bagaimana nelayan tetap miskin. Ikan sudah semakin susah dicari. Mereka tidak punya alat tangkap yang bagus.”
Sang Birokrat berpidato, “Saat ini nasib nelayan harus dipikirkan. Mereka selalu tidak pernah diperhatikan. Mereka masih sangat miskin. Tapi kita juga pernah bantu mereka. Kita belikan kapal, tapi dikembalikan oleh mereka. Kita kasih dana bergulir, tapi tidak bisa bergulir. Nelayan kita bantu dengan pelatihan. Peningkatan SDM nelayan itu penting. Pokoknya .. bla..bla..bla..”
Sang Akademisi berpendapat, “Iya. Kita harus bantu agar nelayan bisa mandiri. Bantu bagaimana nelayan berdaya. Kita harus buat agar nelayan menjadi makmur dan sejahtera. Penelitian kami di sana sudah membuktikan bahwa nelayan memang miskin. Itu riil. Jadi kita harus bantu dengan meningkatkan kapasitas mereka. Kita harus adakan pelatihan bagi mereka. Bantu mereka dengan modal.”
Sang Konservasionis berstatement, “Nelayan pengebom dan peracun harus dihentikan. Mereka merusak karang. Nelayan juga sering menangkap ikan kecil. Nelayan paling senang menangkap ikan napoleon yang dilindungi undang-undang. Aturan hukum sudah jelas. Mereka sudah melanggar hukum. Perlu tindakan hukum untuk mereka.”
Sang Pengusaha berbicara, “Kita ingin bermitra dengan nelayan. Kita pasti senang membantu nelayan. Kita ingin sekali agar nelayan juga bisa makmur hidupnya. Kita akan bantu nelayan. Kita pasti bantu mereka. Kita juga ingin agar laut lestari. Kita tidak ingin nelayan membom dan membius. Itukan merusak lingkungan.”
Sang Polisi dengan santai menjawab, “Kita ingin tegakkan hukum. Kita mau tangkap nelayan. Tapi bagaimana.. Kita tidak punya kapal cepat. Kita tidak punya uang solar. Kita tidak punya anggaran untuk itu. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa.”
Sang Anggota Dewan berorasi, “Bahwasanya nelayan kita memang miskin. Sudah sangat miskin. Mereka aset negara. Mereka aset bangsa. Mereka memang perlu dibantu. Harus ada program pemberdayaan masyarakat nelayan. Peningkatan SDM. Sekarang kan jaman otonomi daerah. Ini saatnya kita maju bersama. Kita punya banyak uang. Kita bisa bikin program untuk nelayan. Pasti nanti nelayan lebih sejahtera. Berdayakan mereka.”
Pertemuan berlangsung berhari-hari.. berminggu-minggu.. berbulan-bulan.. bahkan hingga bertahun-tahun.. masih di hotel yang berkelas itu. Yang sejuk itu. Yang berkursi empuk itu. Yang makanannya enak itu. Yang minumannya segar itu. Yang menguras uang ratusan juta keping itu. Tak henti terucapkan “berdayakan nelayan”. Tak pernah lupa dibicarakan “tingkatkan SDM nelayan”. Tak akan terlewatkan kata “perekonomian nelayan harus ditingkatkan”. Tak jua habis kata-kata “nelayan harus dibantu”. Tak terlewatkan kata-kata “tegakkan supremasi hukum”. Tak kering bibir berujar “laut harus lestari”.
Sementara, beratus mil dari hotel. Pari kecil berenang menyendiri. Bakau kecil tetap bergoyang seorang diri. Anak nelayan masih bermain bola bertelanjang kaki dengan baju lusuhnya. Nelayan tetap tinggal dalam rumah sederhananya. Kapalnya masih sangat kecil dibanding ombak. Perahunya selalu bocor. Tak ada sarana kesehatan. Tak ada sekolah. Tak ada uang di kantong. Tak ada modal. Dan di tengah lautan… byarrrrr…. bom tetap berdentum. Racun tetap ditebar. Tak peduli ikan berlabel dilindungi oleh undang-undang. Tetap ditangkap. Tetap dimakan. Tak hiraukan ajakan lestarikan terumbu karang. Karena nelayan tak butuh banyak bicara. Nelayan hanya butuh ikan. Ikan untuk dimakan. Ikan untuk dijual. Agar ada nasi dan sayur untuk temani makan ikan. Agar anak nelayan bisa membaca dan berhitung. Agar nanti bisa jadi seperti sang bule, bisa jadi seperti sang fasilitator , bisa jadi seperti sang LSM, bisa jadi seperti sang birokrat, bisa jadi seperti sang akademisi, bisa jadi seperti sang konservasionis, bisa jadi seperti sang pengusaha, bisa jadi seperti sang polisi, atau bisa jadi seperti sang anggota dewan. Dan sang anak tak lagi bermain bola dengan baju lusuh dan bertelanjang kaki.
Pangkajene, April 02, 2004 .:. 18.51











Wadah bamamay