orangutan di sawit

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

In your home right now there are likely to be a number of products that you use & consume everyday which contain Palm Oil from Borneo or Sumatra. To enable us to have these products millions of hectares of natural Rainforest are being destroyed to be replaced with Palm Oil Plantations. [GoPetition]

pembukaan perkebunan kelapa sawit skala luas di berbagai wilayah di Kalimantan dan Sumatera telah mengganggu kehidupan komunitas lokal/adat. tak banyak yang kemudian melakukan kampanye di negara-negara utara. namun kemudian, ketika orangutan terganggu oleh pembukaan hutan untuk perkebunan besar kelapa sawit, sangat banyak yang melakukan kampanye di negara utara.

orangutan, yang terkadang mengganggu turis, menjadi sebuah icon kampanye penting bagi masyarakat belahan utara bumi ini. kegemasan masyarakat negara utara terhadap satwa selama ini telah menjadikan negara-negara tropis harus terus berjuang untuk melestarikan habitat satwa, dan melepaskan ikatan kultural antara manusia dengan hutan sekitarnya, yang selama ini telah menjadi sebuah ikatan keberlanjutan ekosistem.

program-program konservasi yang dilakukan pun, yang didanai oleh negara-negara utara pun kemudian memegang penuh konsep konservasi klasik dan pada beberapa kawasan konservasi di negara tropis, pada akhirnya meniadakan manusia di dalam kawasan konservasi. sementara itu, pola konservasi kultural komunitas lokal telah pula sangat kuat membangun keberlanjutan habitat bagi kepentingan manusia di sekitarnya, dan juga tentunya bagi satwa. hanya saja, beberapa lembaga konservasi internasional kemudian menganggap masyarakat di dalam kawasan konservasi sebagai sebuah ancaman bagi konservasi.

dalam pergerakannya, kemudian barulah hadir gagasan program konservasi beserta masyarakat. namun kemudian, program konservasi yang diberi label “colaborative conservation” ini pula masih tidak begitu kuat memberikan pengakuan terhadap keberadaan komunitas lokal. kelompok rakyat masih dipandang sebagai kelompok eksternal di kawasan yang selama ini menjadi tempat berkehidupan, hanya karena diberi status hukum oleh negara sebagai kawasan konservasi.

penempatan terminologi konservasi yang lebih tepat sudah saatnya digulirkan dalam ranah akademik maupun peraturan perundang-undangan. menempatkan komunitas lokal sebagai pengelola kawasan yang dilindungi untuk kepentingan antar generasi akan lebih mampu memberikan ruang kehidupan yang nyaman juga bagi satwa. entah kapan kelompok akademisi mau mengeluarkan kajiannya dengan lebih jujur, namun bisa jadi hal tersebut terwujud esok pagi.

tak penting orangutan di sawit !

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>