berbohong atas nama konservasi

8 November 2006 | celoteh oleh

Nov
08

“Orangutans are starving. They are sick and many of those we are treating were injured after being attacked by machetes,” Willie Smits, an ecologist at the foundation told Reuters, adding that many also suffered from respiratory problems. He said 120 sick orangutans had been treated in three conservation centres over the past three months, and 10 to 15 of them had died. He estimated that in all 1,000 orangutans had died over this year’s dry season. [Reuters]

Berbohong kepada publik semakin sering dilakukan oleh pekerja asing di lembaga konservasi. Tentang angka yang tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Termasuk saat memproklamirkan sebuah kawasan orangutan, angka 2.000 ekor dalam kawasan 150.000 hektar dianggap sebuah temuan, sementara proses survey tak dilakukan dengan benar.

Pembohongan kedua dilakukan dengan menutup-nutupi informasi kematian orangutan di sebuah Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Satwa. Angka kematian yang tinggi di sebuah kawasan untuk perbaikan kondisi dan pelepasliaran kembali orangutan ini tak pernah menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian satwa, khususnya orangutan. Belum termasuk pemeliharaan orangutan oleh lembaga konservasi di Kaltim yang dilakukan dengan mengikatkan seutas tali pada leher orangutan yang masih muda.

Berbohong atas nama konservasi dilakukan demi aliran keping emas ke kantong para “penjelajah konservasi” yang sebenarnya tak lagi diakui keilmuannya di kalangan peneliti internasional. Ketidakpahaman tentang psikologi satwa, perilaku satwa hingga prinsip-prinsip dasar kesejahteraan satwa, sehingga dilakukannya pengabaian kepentingan satwa itu sendiri. Atas nama konservasi satwa, pembohongan publik masih akan tetap berlangsung.

tak penting berbohong atas nama konservasi !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2006. berbohong atas nama konservasi. http://timpakul.web.id/orangutan-7.html (dikutip tanggal 9 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

3 ikung mahalabiu gasan “berbohong atas nama konservasi”

Show / Hide Comments
  1. sylvie says:

    Di hari pahlawan ini, kesadaran akan kebohongan di negeri ini semakin kuat. tidak hanya demi konservasi, tapi demi kekuasaan ada juga manusia indonesia yang melakukan pembohongan fakta sejarah. sebut saja fakta supersemar, fakta gerakan PKI dan Gerwani, kebohongan demi kebohongan itu sudah terpatri sejak dibangku sekolah dasar. Jadi sebuah konsekuensi logis kalau kebohongan di Indonesia semakin mengakar hingga saat ini.
    Namun, di hari penuh kemerdekaan dalam makna patriotisme ini juga tampaknya seluruh manusia indonesia harus berani mengungkapkan kejujuran hati, dan bertanya sambil bercermin pada realita dengan seuntai tanya ” apakah salah satu pembohong itu adalah saya?”. Mari bertanya dengan nurani, apapun jawabnya, mungkin bagi sebagian orang tidak penting, namun yang paling penting adalah apakah “saya” juga memberikan kontribusi terhadap kejujuran di negeri ini. Kejujuran bukan hanya untuk orangutan, loch.

  2. timpakul says:

    semoga bisa tercapai …
    namun juga tak harus selalu sekedar tulisan… banyak yang bisa dilakukan, asal ada keinginan… :-)

  3. bangooyi says:

    Benar sekali…bang…konservasi lingkungan sekarang sudah dipakai oleh orang-orang yang “rajus”. Sudah saatnya kita berjuang, walaupun hanya sekedar tulisan. Saya yakin, suatu saat semua orang akan belajar lebih mencintai bumi pertiwi ini.

Bekomen yukz