orangutan

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

agak aneh adanya kalimat: “senang sekali adanya indikasi dari teman-teman untuk membantu menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya” Apakah lembaga pelestari orangutan berpikir hanya mereka yang berjuang untuk kelestarian orangutan dan habitatnya? Dimana lembaga pelestari orangutan saat tata ruang kaltim didesakkan oleh pemerintah propinsi untuk semata kepentingan eksploitatif? Apa respon lembaga pelestari orangutan terhadap tambang batubara “legal” di sekitar kawasan mereka?

Lembaga yang berkata melestarikan orangutan bagi saya bukan sedang berpikir tentang kelestarian orangutan dan habitatnya. Di tahun 1999, ketika ada rencana besar untuk membongkar Hutan Wisata Alam Bukit Soeharto, penggalangan dukungan kepada para pihak untuk melawan pembuatan kebijakan yang mengancam kelestarian kawasan hanya memperoleh jawaban dari lembaga pelestari orangutan saat itu adalah bahwa kawasan itu bukan kawasan habitat orangutan. Ini membuat penting dipertanyakan keberadaan lembaga pelestari orangutan. Saat itu, pikiran yang ada mungkin kawan-kawan lembaga pelestari orangutan belum pernah belajar tentang habitat Kaltim dan juga tidak sadar bahwa kawasan yang saat itu ditempati adalah bagian dari kawasan Hutan Wisata Alam Bukit Soeharto.

Tentang kawasan pelepasliaran. Kesalahan terbesar sehingga terbatasnya kawasan pelepasliaran orangutan adalah pemikiran sempit para pihak yang mengatakan dirinya sebagai ahli primata, khususnya orangutan. Dalam rekomendasi mereka, selalu diungkapkan bahwa kawasan pelepasliaran harus merupakan kawasan steril dari orangutan, dengan kekhawatiran penyebaran penyakit dan persaingan teritori.

Asumsi sederhana, bilamana dari pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan akan dilepasliarkan orangutan, ternyata masih belum mampu disembuhkan penyakitnya, menunjukkan ketidakberhasilan penanganan penyakit. Kedua, kalau telah jelas hasil evaluasi terhadap kawasan pelepasliaran orangutan, semisal HL Sungai Wain dan HL Beratus, maka akan bisa diberikan rekomendasi pada kawasan mana sebenarnya layak untuk pelepasliaran. Sayangnya, pada kedua kawasan tersebut, walaupun telah dilakukan monitoring, namun publik tidak pernah tahu bagaimana hasil monitoring.

Konsen utama dalam hal orangutan adalah evaluasi independen terhadap kegiatan rehabilitasi dan re-introduksi orangutan. Hentikan sementara pengambilan orangutan dari masyarakat maupun dari berbagai pihak, hingga ada kejelasan tentang sistem pengelolaan rehabiltasi dan reintroduksi orangutan dan kawasan pelepasliaran. Edukasi publik yang memelihara orangutan dengan melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap mereka yang melakukan pemeliharaan.

Orangutan akan terus berdatangan ke kawasan pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan, karena prosedur standarnya adalah seperti itu. Dan tidak pernah ada komplain dari pihak lembaga pelestari orangutan berkaitan dengan SOP tersebut.

Tawaran kemudian untuk orangutan yang mendesak dipindahkan diambil adalah translokasi, tanpa melalui pusat rehabiltasi dan reintroduksi.

Tidak pernah satukalipun terdengar komentar lembaga pelestari orangutan berkaitan dengan pengrusakan habitat yang dilakukan oleh KPC di Kaltim, sementara sering sekali dilakukan evakuasi orangutan dari areal KPC. Demikian juga ternyata untuk kawasan Berau. Orangutan dari Lesan adalah bukan yang pertama.

Pihak lain juga bukan orang yang tidak paham dengan penyakit dan psikologi orangutan. Bila lembaga pelestari orangutan tidak membuka ruang bagi publik untuk menyaksikan kawasan seluruh pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan, maka tidak akan bermanfaat diskusinya. Akan lebih baik bila lembaga pelestari orangutan bisa mempublikasikan berapa jumlah orangutan yang diterima, dikelola, mati (termasuk penyebab kematian) dan dilepasliarkan (termasuk analisis keberhasilan), sejak pertama kali lembaga pelestari orangutan berdiri. Berikan kesempatan kepada publik untuk berkomentar.

Satu hal yang pernah terungkap dalam perbincangan informal dengan seseorang yang meneliti keberhasilan reintroduksi. Dengan suara perlahan dijawab, itu tidak berhasil. Ketika diminta untuk menyampaikannya ke publik, sepertinya beliau enggan menyampaikannya.

Kalau berbicara lembaga pelestari orangutan ingin diskusi, dari hasil beberapa kali diskusi, tanpa tanggapan dari lembaga tersebut, nyatanya beberapa masukan dan saran juga tak pernah direspon. Termasuk untuk pembentukan badan pengelola di Hutan Lindung Beratus. Rumor menyatakan bahwa itu tidak sesuai dengan program, sehingga tidak mungkin dilakukan.

Bila sudah demikian, apakah benar masih ingin berdiskusi?

Orangutan hanya bagian kecil dari penghuni permukaan bumi. Manusia, tumbuhan dan satwa memiliki hak yang sama untuk memperloleh kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kepentingan segelintir makhluk rakus yang membongkar isi perut bumi, menyajikan gurun dan menghisap tetesan air bersih terakhir. Menyusu pada kelompok pengrusak sama halnya dengan meminum darah saudara sendiri.

Orangutan. Masih merupakan barang dagangan. Tidak hanya fisik orangutan, namun program orangutan masih sekedar menjadi mata kail kucuran dollar ke kantong penjajah negeri.

tak penting orangutan !

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>