apa benar tak ada yang peduli?
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
malam hari tadi berbincang dengan seorang peneliti primata dari ceko. berbincang tentang primata, satwa, hingga akhirnya berbincang tentang kepedulian mahasiswa dan masyarakat indonesia terhadap permasalahan konservasi.
ironis. kata ini yang mengganggu kepala saya. disampaikannya bahwa sangat sukar sekali mencari mahasiswa yang mau melakukan penelitian satwa dengan berlama-lama di dalam hutan. juga ketika berbicara tentang rencana pembangunan jalan yang melintasi kawasan mangrove di kota Balikpapan, tak banyak yang peduli, katanya. apalagi ketika dikatakan bahwa terlalu mahal bayaran orang indonesia saat beraktivitas di isu konservasi.
sangat menyentakkan. seakan saya harus terbangun dari sebuah fenomena kegelisahan yang saat ini selalu dihadapi. relawan yang semakin berkurang. kepedulian yang semakin menipis. namun tetap saja di kepala saya berpikir bahwa tak mungkin tak ada yang peduli. masih banyak yang punya rasa kepedulian. hanya mungkin saya tak pernah tahu dimana mereka berada.
tanya ini bagi kawan semua. benarkah tak ada yang peduli? haruskah permasalahan lingkungan hidup dan pelestarian satwa hanya menjadi milik mereka yang berada di belahan utara bumi? adakah yang menjawabnya?






jangan lupa kang timpakul, semua itu ada saat/phasenya,
jadi pola pikir wong indonesia lagi tahap (bingung) repot nasi/cari sesuap nasi, apapun bakal dijadikan do it …,
phase berikut kumpulkan sebakul..cita berikut selumbung nasi;
wong utara juga menjalani dan melampaui phase…dialami wong indonesia, kemudian mengajarkan kepada wong indonesia bagaimana memperlakukan lingkungan dng bijak bestari, bercermin pengalaman buruk pernah mereka lakukan. Sebenarnya wong indonesia itu lebih arif & bersahabat dengan lingkungan
(dahulu, coba tengok budaya lokal menjaga keseimbangan alam makro dan mikro kosmos, ditasbihkan oleh paham modern sbg. takhayul, kuno karena “ketakterjangkauan” filosofi modern membatasi, definisi, melihat berdasar fakta menisbikan phenomena..). CELAKAnya kaum muda berguru kepada paham baru modern menanggalkan pusaka&pustaka “ilmu tua” & lucunya kaum modern/utara sibuk menggali & mencari pusaka wong indonesia.
mpun cocog lah peribahasa melayoe,”anak di pangkuan dilepas, beruk di hutan disusukan”. Yang belum dinalarkan di sekolah adalah,” anak(manusia)&induk(beruk) mencari keluarga yang hilang ; jadilah anak berguru kepada… & induk beruk temukan
keluarganya baru… Walhasil terbentuk simbiose keluarga baru & radha aneh perilakunya………
indah&halus benar sindir/samarkhan fakta non verba
sastrawan dahulu gambarkan rusak-2an akhlaq & fikir manusia
tengoklah roman,”Salah Asuhan”-nya Tuan Marah Rusli
Kini saatnya memulangkan beruk kenyang disusukan ke induknya
di hutan dan mencari si anak “berguru& diadopsi” induk beruk
diajari “harkat kemanusiaan” kali kelupaan, terima yg baik & buang perilaku yang buruk (perkaya khasanah 2 kawasan manusia & beruk) bukan cuma 2 pilihan hitam/putih, tambahkan
1 pilihan lagi kawasan abu-abu.
Hayo kita berdayakan kembali pusaka tua yg pernah dihilangkan
masak akademisi/praktisi pelajari primata di kebun binatang, dan diajari profesor(wong utara) yang notabene berguru dari sumbernya Saudara-2 kita di hutan kalimantan dan mengajarkan kepada akademisi/praktisi universiti?!? ini aneh tapi nyata=
=believe it or not.
Itulah kelebihan+kelemahan&keluguan+kelucuan wong indonesia.
adakah mau melestarikannya ataukah diakhiri&disadari kebodohan ini?!? semua tergeletak pada qolbu & kesadaran
fikir masing-masing insan. menikmati dibodohi atau bangun
dari mimpi buruk… wallahu alam bishawab. Hanya Tuhan yang
tahu jawabnya