Jagung Bakar dan Dunia Pendidikan

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Awan putih di Sabtu malam berangsur menghilang. Jagung bakar menjadi santapan. Bintang bertebaran di langit. Detak jam melalui tengah malam. Separuh bulan memantulkan cahaya mentari. Hembusan angin mengintimidasi diri. Kokok ayam di malam buta tak ingin rejekinya didahului manusia.

Celotehan malam hari bergulir dari sebuah pertanyaan, apa sebenarnya sebuah hal yang ingin diubah? Pertanyaan ini mengalir dikarenakan telah dilakukannya beberapa aktivitas untuk menginspirasi dan memotivasi kawan-kawan mahasiswa untuk berbuat sesuatu dan mulai mengembangkan diri. Ragam tanggapan. Mulai dari sekedar ingin membangun kesadaran diri, hingga memerdekakan diri.

Pertanyaan menjadi semakin menggurita. Apakah yang telah terjadi adalah sebuah pendidikan? Bisa jadi sebuah upaya membangun anak negeri. Namun sebagian besar, sebenarnya proses yang terjadi di dalam kampus saat ini, bukanlah sebuah pendidikan. Hanyalah sebuah pengajaran. Memberikan informasi. Memberikan pengetahuan. Tanpa sebuah upaya membangun sebuah perilaku dan karakter dari mahasiswa.

Proses yang terjadi bahkan, oleh seorang kawan, dinyatakan sebagai sebuah proses membebankan begitu banyak kewajiban bagi mahasiswa. Pertanyaan sederhana, apakah mahasiswa itu konsumen? Karena begitu banyaknya kewajiban yang muncul berikutnya, semisal absensi, quis, ujian, praktikum, dan lainnya. Padahal, sudah sangat jelas disaat telah dibayarnya biaya perkuliahan, maka telah tunailah kewajiban seorang mahasiswa. Kemudian menjadi sebuah kewajiban bagi kampus untuk memberikan hak bagi mahasiswa berupa pengetahuan, pendidikan, berikut fasilitas kampusnya, untuk sebuah pengembangan diri mahasiswa.

Kampus memiliki kecenderungan menjadi sebuah super-mall. Etalase bisnis. Segala sesuatu tak ada yang gratis. Ruh dari pendidikan telah menuju pintu kematian. Pendidikan bukan lagi sebagai sebuah ciri pembangunan generasi. Kuantitas lebih diutamakan dibandingkan dengan kualitas.

Fungsi ideal perguruan tinggi telah tereduksi ke dalam fungsi ekonomi dan politik. Kenyataan menunjukkan perguruan tinggi bukan lagi sebagai area mewujudkan doktrin Tri Dharma, tetapi lebih merupakan wilayah perebutan kekuasaan ekonomi dan politik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Tekanan pasar terhadap dunia pendidikan tinggi justru menimbulkan respon negatif. Tanpa adanya kebijakan dekomodifikasi pemerintah terhadap perguruan tinggi yang disertai dengan pengetatan administrasi agar kultur akademik menguat, pendidikan tinggi di tanah air akan semakin terseok-seok dan semakin menjauhkan diri dari kemampuan menciptakan karya-karya akademik yang bermutu (Heru Nugroho, 2006) [1]

Kegelisahan kawan-kawan di kampus saat ini adalah semakin menjauhnya kawan-kawan dari dunia akademis. Pembelajaran berlangsung dalam proses yang kurang menyenangkan. Pengetahuan bagaikan sebuah duri yang menyakitkan menusuk ke dalam jiwa generasi. Tak ada yang menyenangkan.

Sementara, ditengah kelesuan gairah untuk berkuliah di perguruan tinggi lokal, masing-masing perguruan tinggi lokal berlomba untuk meraih konsumen. Pelajar diberikan bom informasi berkaitan dengan program, yang tentunya menampilkan gambaran positif dari masing-masingnya kampusnya. Tak pernah digambarkan tentang kesibukan para dosennya yang ?mengobral diri? demi sebuah kebanggaan dan kekayaan pribadi. Pun tak pernah digambarkan bahwa tak jelas masa depan setelah perkuliahan. Minimnya fasilitas kampus. Tak ada ruang kreasi.

Semakin banyak mahasiswa, semakin banyak dana segar mengalir. Hidup kembalilah kehidupan di kampus. Dosen bisa digaji. Listrik terbayar. Walau air harus mampet.


[1] Lebih jauh bisa dilihat pada Nugroho H. Ekonomi Politik Pendidikan Tinggi: Universitas Sebagai Arena Perebutan Kekuasaan. Dalam buku Hadiz, VR dan D Dhakidae. Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia. Equinox Publishing. Jakarta. Indonesia. 2006. p155-186.

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

seikung bamamay celotehan “ Jagung Bakar dan Dunia Pendidikan ”

  1. tersinggah di sini, berpandu kata pertama post ini.

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>