peneliti asing
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
693 peneliti asing sedang berada di Indonesia. Belum termasuk peneliti asing illegal yang berkeliaran tanpa perijinan resmi pelayan negeri. Berbagai macam penelitian sedang dilakukan. Entah apa manfaat bagi anak negeri. Sila mengunjungi laman LIPI.
Tak banyak yang mengetahui tentang bagaimana masuknya peneliti asing di negeri ini. Tanah air tengah dieksplorasi. Mencari jejak yang di tanah kehidupan. Tak ada penyaring bagi masuknya peneliti asing. Secara perlahan, berbagai kepentingan telah menguasai wilayah. Pulau-pulau kecil, kawasan konservasi, hingga beragam puspa-satwa. Pencurian genetik, pengambilan pengetahuan lokal, hak atas kekayaan intelektual, hingga penancapan bendera kekuasaan.
Generasi anak negeri hanya bisa berkhayal diantara keping reruntuhan republik. Darah yang tak lagi merah. Tulang yang bukan juga putih. Belenggu kepentingan asing merobek tanah kehidupan. Atas nama nasionalisme. Demi sesuap keping emas. Merelakan negeri ini dalam penjajahan.
tak penting peneliti asing !











sebagian besar Orang indonesia bukan tipe pebelajar dan pekerja keras, wajar kalo kelemahan itu jadi pintu gerbang masuknya peneliti asing. ditambah lagi Indonesia lagi latah bule, jadi si bule selalu dapet prioritas dalam perizinan. Lagian, bukannya kaum muda kita lebih memilih tenggelam dalam hiruk pikuk kenikmatan duniawi daripada berkarya untuk negeri ini?, apalagi meneliti… sedikit yang mau ambil peran. Abang pasti lebih tahu kan? buktinya untuk mengungkap fakta soal orang utan, sekian banyak orang yang ada di kaltim sana yang melakukan gali data dan fakta baru Bebsic kan? yang lainnya blom ada tuch…!
[tanggapi]
Untuk meneliti kekayaan hewani dan hayati, kebanyakan, diperlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit serta disiplin dan komitmen yang sangat tinggi. Saya setuju dengan respon dari Sylvie, sebagian besar (tidak semua, karena saya yakin masih ada sebagian kecil yang berkomitmen sebagai manusia yang beridealis ilmu) memilih untuk terjangkiti virus akal budi hedonisme daripada kecanduan ilmu, contoh gampangnya, lebih memilih “belajar” dan “meneliti” species (baca: tipe) pesawat telpon selular daripada species ikan air tawar atau tanaman yang notabene masih terlalu banyak yang belum dideskripsi.
Setahu saya para peneliti asing tidak terlalu mudah untuk mendapatkan ijin di negri kita dengan jalur birokrasinya yang amat “canggih”. Bahkan saya mendengar hal yang agak memalukan dari (yang katanya) “peneliti” domestik. Sedih sekali………..
Saya tidak bermaksud mendukung para peneliti asing, namun dari pengalaman saya sediri sebagai hobiis ikan air tawar lokal Indonesia yang mencoba mendapatkan langsung dari habitatnya. Saya mendapati kehancuran sebuah sungai kecil yang begitu kaya ragam speciesnya, hancur dalam waktu yang singkat karena berbagai macam aktivitas manusia yang mengatasnamakan kemajuan ekonomi yang ternyata hanya dinikmati oleh segelintir manusia saja. Pengalaman “buruk” ini tidak hanya satu kali, namun hampir sebagian besar lokasi yang saya kunjungi beberapa kali pada setiap lokasi.
Jadi, tidak peduli apakah itu peneliti asing atau domestik, yang penting kekayaan keragaman bio telah atau sedang diteliti, karena harus berpacu mengiringi kehancuran alam yang amat cepat. Selain itu, toh, spesimen hewani atau hayati yang diteliti tetap di salurkan ke Museum zoology Bandung dan beserta hasil penelitian tentunya.
Respon saya:
“Tak penting peneliti asing”
atau lokal, penelitian keragaman hewani dan hayati memang perlu dilakukan sebelum terlambat!!”
[tanggapi]
Salut tuh Mas Hendra…
Andai sudah sejak dulu saya terbangun dari mimpi dan sadar bahwa begitu banyak kekayaan alam kita dan hanya segelintir yang peduli…
Never too late to start! Ya nggak Mas…
[tanggapi]