<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Perbatasan Tidak Harus Dengan Membabat Hutan</title>
	<atom:link href="http://timpakul.hijaubiru.org/perbatasan-2.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://timpakul.hijaubiru.org/perbatasan-2.html</link>
	<description>environment, education and information technology</description>
	<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 00:48:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: bakey bamamay pang</title>
		<link>http://timpakul.hijaubiru.org/perbatasan-2.html#comment-4</link>
		<dc:creator>bakey bamamay pang</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 19:42:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://timpakul.hijaubiru.org/index.php/perbatasan-2/#comment-4</guid>
		<description>Amun rancana jalan ini memang banar ada, urang kita harusnya mahandaki adanya UU/hukum adat agar hutan setempat tidak dibabat, tapi dipaneni dgn cara sebagai kebun. Karana sarana informasi (jalan) ini memang diperlukan. Yg diperlukan aturan2/hukum2 adat yg bisa menalang agar tidak terjadi kegiatan membabibuta menghancurkan lingkungan, tapi bikinlah perubahan yg tidak begitu saja akan menindas massa rakyat setempat; setelah jalan ada akan ada perobahan berat, secara kultural, sosial, dan politik. Apalagi jika negara atau segala hal yg mengatas namakan negara tiba2 mengambil alih SDA maupun program2 pengembangan SDM dg asumsi massa rakyat disitu bego semua. Seperti anggapan umum kaum kolonilis Indonesia sendiri. Nah, gimana cara maupun pendekatan apa yg mesti dibikin dan dilakukan agar tidak terjadi benturan yg super mengagetkan dan mencerai berai kan? Hm bakey cuma bakisah, balum kawa mambayang hari isuk nang kaya pa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Amun rancana jalan ini memang banar ada, urang kita harusnya mahandaki adanya UU/hukum adat agar hutan setempat tidak dibabat, tapi dipaneni dgn cara sebagai kebun. Karana sarana informasi (jalan) ini memang diperlukan. Yg diperlukan aturan2/hukum2 adat yg bisa menalang agar tidak terjadi kegiatan membabibuta menghancurkan lingkungan, tapi bikinlah perubahan yg tidak begitu saja akan menindas massa rakyat setempat; setelah jalan ada akan ada perobahan berat, secara kultural, sosial, dan politik. Apalagi jika negara atau segala hal yg mengatas namakan negara tiba2 mengambil alih SDA maupun program2 pengembangan SDM dg asumsi massa rakyat disitu bego semua. Seperti anggapan umum kaum kolonilis Indonesia sendiri. Nah, gimana cara maupun pendekatan apa yg mesti dibikin dan dilakukan agar tidak terjadi benturan yg super mengagetkan dan mencerai berai kan? Hm bakey cuma bakisah, balum kawa mambayang hari isuk nang kaya pa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
