<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: pesta yang penuh gerutu</title>
	<atom:link href="http://timpakul.hijaubiru.org/pesta-yang-penuh-gerutu.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://timpakul.hijaubiru.org/pesta-yang-penuh-gerutu.html</link>
	<description>environment, education and information technology</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 00:19:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7-beta3</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: chipink</title>
		<link>http://timpakul.hijaubiru.org/pesta-yang-penuh-gerutu.html/comment-page-1#comment-8721</link>
		<dc:creator>chipink</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 06:06:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://timpakul.hijaubiru.org/?p=1328#comment-8721</guid>
		<description>harus ada resiko yang diambil dalam segala tindakan. apalagi bila kegiatan tersebut berskala besar, atau bisa dikatakan berlebih. dan tidak mungkin orang-orang besar yang harus menanggung resiko. dari zaman dahulu sampe warisan gennya sekarang, prestise adalah mainan orang-orang besar atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai orang besar. orang kecil, ga punya mainan tresebut. paling banter hanya kalimat "biar miskin, yang penting sombong". hanya sebatas itu. jadi wajar jika harus ada yabng dikorbankan. Jika ada yang menggerutu itu juga wajar, mereka juga hanya bagian kecil yang takkan mau dilihat oleh orang besar. yang penting adalah fasilitas dan kenyamanan bagi bos besar, gedung megah, jumlah medali yang diterima dan posisi di klasmen. soal siapa yang berprestasi???????
jangan dilupakn, selain soal prestise perhelatan olahraga juga soal project. project menebalkan kantong.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>harus ada resiko yang diambil dalam segala tindakan. apalagi bila kegiatan tersebut berskala besar, atau bisa dikatakan berlebih. dan tidak mungkin orang-orang besar yang harus menanggung resiko. dari zaman dahulu sampe warisan gennya sekarang, prestise adalah mainan orang-orang besar atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai orang besar. orang kecil, ga punya mainan tresebut. paling banter hanya kalimat &#8220;biar miskin, yang penting sombong&#8221;. hanya sebatas itu. jadi wajar jika harus ada yabng dikorbankan. Jika ada yang menggerutu itu juga wajar, mereka juga hanya bagian kecil yang takkan mau dilihat oleh orang besar. yang penting adalah fasilitas dan kenyamanan bagi bos besar, gedung megah, jumlah medali yang diterima dan posisi di klasmen. soal siapa yang berprestasi???????<br />
jangan dilupakn, selain soal prestise perhelatan olahraga juga soal project. project menebalkan kantong.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: syl</title>
		<link>http://timpakul.hijaubiru.org/pesta-yang-penuh-gerutu.html/comment-page-1#comment-8702</link>
		<dc:creator>syl</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 10:16:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://timpakul.hijaubiru.org/?p=1328#comment-8702</guid>
		<description>Dulu, tahun 2004, Sumatera Selatan jadi tuan rumah PON XVI.  waktu itu konflik juga ada disana-sini. mulai dari pembebasan beberapa kawasan lahan milik rakyat untuk dibangun fasilitas, sampai penggusuran pedagang di sepanjang jalur jalan yang dilewati proses pesta olahraga itu.  Tidak hanya itu, konflik semakin memanjang dari pemakaian icon harimau sumatera sebagai maskot PON.  Konflik, konflik dan konflik, tapi penyelenggara tetap jalan terus.  Waktu itu, jalur transportasi juga ikut-ikutan harus menyesuaikan diri dengan acara hingga angkutan untuk sekolah susah didapat.  Dan ada hal yang lebih memiriskan hati, ketika pesta usai, penderitaan belum usai, karena untuk menyelenggarakan pesta ternyata dengan dana utangan, sehingga upaya melunasi hutang mesti ditanggung bersama.  Dan sekarang fasilitas yang dipakai selama pesta harus juga dirawat dan dengan biaya yang tidak sedikit.  Ada perumahan yang khusus dibikin untuk atlit, setelah pesta usai, perlengkapan perumahan satu satu hilang, dari AC, sampe gorden jendela.  Betul-betul menyedihkan. Andai saja piranti kelembagaan dibanguns secara holistik-terpadu-sistemik mungkin cerita miris ini ga akan ada.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, tahun 2004, Sumatera Selatan jadi tuan rumah PON XVI.  waktu itu konflik juga ada disana-sini. mulai dari pembebasan beberapa kawasan lahan milik rakyat untuk dibangun fasilitas, sampai penggusuran pedagang di sepanjang jalur jalan yang dilewati proses pesta olahraga itu.  Tidak hanya itu, konflik semakin memanjang dari pemakaian icon harimau sumatera sebagai maskot PON.  Konflik, konflik dan konflik, tapi penyelenggara tetap jalan terus.  Waktu itu, jalur transportasi juga ikut-ikutan harus menyesuaikan diri dengan acara hingga angkutan untuk sekolah susah didapat.  Dan ada hal yang lebih memiriskan hati, ketika pesta usai, penderitaan belum usai, karena untuk menyelenggarakan pesta ternyata dengan dana utangan, sehingga upaya melunasi hutang mesti ditanggung bersama.  Dan sekarang fasilitas yang dipakai selama pesta harus juga dirawat dan dengan biaya yang tidak sedikit.  Ada perumahan yang khusus dibikin untuk atlit, setelah pesta usai, perlengkapan perumahan satu satu hilang, dari AC, sampe gorden jendela.  Betul-betul menyedihkan. Andai saja piranti kelembagaan dibanguns secara holistik-terpadu-sistemik mungkin cerita miris ini ga akan ada.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
