jalan pohon
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Meski demikian, air matanya meleleh juga ketika sejumlah pohon durian, pohon karet, dan pohon tengkawang harus ditebang demi jalan tersebut. Apalagi, keluarga si pemilik pohon-pohon tersebut merengek agar jangan sampai perkebunan yang menopang hidup mereka itu dibabat. ?Perjuangan perlu pengorbanan,? kata Pak Sela kepada mereka. Belum lagi, warga yang mesti berkorban tanah?tanpa ganti rugi?sepanjang 6 km dengan lebar 4 meter itu. [P2KP]
Memilih antara kepentingan keberadaan jalan dan pepohonan menjadi sering dilakukan. Selalu pepohonan dikalahkan. Lihat saja yang terjadi di Taman Nasional Gunung Leuser dengan jalan LADIA-GALASKA, juga jalan yang membelah Taman Nasional Kutai dari Bontang menuju Sangatta, termasuk rencana pembangunan jalan di sepanjang perbatasan Kaltim-Sabah yang mau tidak mau akan menembus pepohonan di hutan sepanjang perbatasan. Setiap membuka jalan, maka dalam waktu singkat akan hilang pepohonan sejauh mata memandang di tepi jalan tersebut.
Bukan sekedar bicara ini pengorbanan. Kebanyakan merupakan akibat dipaksa berkorban. Jalan harus ada. Ini kata wajib institusi pembangun jalan. Tidak pernah ditanya kepada kelompok rakyat yang akan menggunakan jalan, tentang jalan yang seperti apa yang dibutuhkan. Selalu saja jalan terbangun, tak terpelihara dan perlahan rusak lagi, lalu kemudian proyek lagi menjelang.
Dalam aturan yang dibuat Pemkot, setiap bangunan baru baik rumah tangga, rumah toko atau rumah kantor diwajibkan menanam satu pohon. Minimal ditanam di pot. Hal itu ditujukan untuk menjadi pohon peneduh, sekaligus pencegah banjir. [KP]
Di kota, pohon ditanam lagi. Tak jelas komitmen pimpinan daerah ini. Ucapan hanya pemanis saat masa kampanye. Setelah itu, dilupakan. Juga tidak jelas kenapa harus hanya satu pohon. Padahal satu orang saja sudah butuh satu pohon. Satu rumah dengan jumlah penghuni minimal 3 (tiga) orang, maka membutuhkan tiga pohon. Pertanyaan seorang remaja saat diskusi tentang Kerusakan Hutan dan Pebisnis yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi kemahasiswaan berlabel agama adalah “Kalau tak ada pekarangan untuk menanam pohon bagaimana?” Ternyata tak hanya sekedar ingin menanam pohon. Kebutuhan akan lahan pekarangan saat ini menjadi penting. Sementara pengembang hanya berpikir untuk menyediakan luas tanah yang kecil dan hanya cukup untuk bangunan rumah. Lalu dimana pohon akan ditanam?
tak penting jalan pohon !











Wadah bamamay