produk unggulan negeri bencana
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Negara di Asia Tenggara telah memiliki produk unggulan dari pengetahuannya. Filipina misalnya, sangat intens mengembangkan sektor pertanian, utamanya padi. Makanya kemudian padi unggul selalu hadir dari negara Filipina. Berbeda dengan Thailand, yang mengembangkan tanaman buah. Bangkok menjadi icon bagi buah yang lebih besar dari biasanya. Malaysia, sangat dekat dengan icon sawit dan perkebunan.
Indonesia, kabarnya diletakkan untuk mengembangkan produk kehutanan. Memang benar, akhirnya Indonesia sangat terkenal dari sisi perkayuan, khususnya permasalahan pembalakan haram, pembakaran hutan dan lahan, serta konversi hutan menjadi kawasan perkebunan skala besar dan pertambangan. Sangat jarang terdengar komoditi kayu unggul yang lahir dari negeri bencana ini. Malah kemudian, (kembali) Thailand yang intensif mengembangkan jenis-jenis kayu unggul.
Kapasitas akademis yang dibangun oleh perguruan tinggi yang memiliki inti pembelajaran kehutanan, belum mengarah pada sebuah pengembangan inovasi produk. Masih berkutat permasalahan managerial bisnis. Orientasi pasar diperkuat, sementara orientasi produk berkualitas ditinggalkan.
Tak banyak memang rakyat Indonesia yang masuk di wilayah internasional dari bidang ilmu hutan dan kehutanan. Kecuali untuk permasalahan silvikultur hutan tropis semata. Malah saat ini semakin banyak para peneliti dari Jepang, German dan Belanda yang menguasai pengetahuan hutan tropis.
Kematian kreatifitas dan inovasi, bermula dari hancur leburnya sistem perguruan tinggi di negeri bencana ini. Rektor tak berotak, dosen berhati bisnis, hingga sistem pendidikan yang berorientasi pasar. Kualitas sangat tidak pernah diperhatikan. Statis. Tak bergerak. Rimbawan yang sedang berkongres pun hanya pandai berceloteh tanpa pernah sadar apa yang diucapkan. Apalagi untuk melakukan apa yang diucapkan. Tulis apa yang dilakukan, lakukan apa yang ditulis, bagian yang menjadi salah satu dasar ekolabel pun tak pernah diketahui oleh pegiat hutan. Akhirnya, saksikanlah negeri bencana yang tiap tahun 4,1 juta hektar tegakan hutannya hilang terbawa angin.
tak penting produk unggulan !








Wadah bamamay