terlalu rumit untuk menemukan rimbawan dalam sebuah unit pengelola hutan. dalam setiap unit, beruntung bila menemukan seorang yang memiliki pengetahuan tentang hutan secara formal. sebagian besar staff unit pengelola hutan dari latar pengetahuan non kehutanan.
bahkan sebagian besar aktivitas yang dikatakan sebagai pengrusakan hutan adalah dilakukan oleh pekerja yang belum memahami tentang hutan dan kehutanan. pada akhirnya hukum ekonomi dan hukum pasar yang diangungkan.
pendidikan kehutanan sendiri sedang mengalami keterpurukan. minim orang yang ingin belajar tentang hutan dan kehutanan. padahal begitu banyak ahli hutan tropis dunia pada lembaga pendidikan kehutanan negeri ini. sebagian mengatakan karena masa depannya tak pernah jelas. lebih banyak yang bergerilya di sektor non hutan. namun ternyata masih lebih banyak yang membutuhkan rimbawan di masa datang.
tak penting rimbawan !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2007. DICARI: rimbawan!. http://timpakul.web.id/rimbawan.html (dikutip tanggal 9 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
kepercayaan terhadap kualitas masih selalu dilihat dari merk yang tertempel dibalik sebuah produk… walau pabriknya sudah rusak, namun keyakinan terhadap merk masih tetap bertahan… kecuali kemudian terjadi akumulasi atas pembuktian kolektif..
saya seorang sarjana kehutanan, memang yang namanya sarjana kehutanan susah mendapatkan kerja dibidangnya. aneh, kenapa kita selalu dikungkung dengan persoalan yang kurang baik sepeerti universitas swasta atau apalah, padahal jika kami bisa diadukan dalam hal lapangan, ayo siapa takut. kebetulan saya kuliah di Akademi Ilmu Kehutanan bandung. tp ya sekarang saya bekerja di konsultan yang bergerak di bidang kehutanan. tp masih aja dibedakan karena yang punyanya orang UGM.