samarinda tenggelam
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
“Saat ini terdapat 49 titik banjir berstatus menghawatirkan. Jika tak ditanggulangi secara dini maka Samarinda akan tenggelam,” kata Plt Kepala DBMP Samarinda Dadang Airlangga kepada Koran Kaltim belum lama ini. [KoranKaltim]
samarinda, sebuah kota yang dibelah oleh sungai Mahakam telah menjadi pelanggan setiap banjir. hampir 30% kawasan kota ini telah diberikan perijinan kepada pengusaha pertambangan batubara. hampir 80% kawasan hutan kota tak lagi berhutan. hampir 70% kawasan rawa dan lahan basah kota telah berubah menjadi perumahan, pertokoan dan perkantoran. hampir 70% kawasan perbukitan berubah fungsi. dan hampir-hampir saja setiap hari kota ini dilanda banjir.
banjir di kota samarinda bukanlah barang baru. kekeringan pun sebenarnya bukanlah hal yang aneh. lokasi kota samarinda yang berada di tepi sungai besar dan juga memiliki topografi berbukit, menjadikan kota ini sangat diminati oleh aliran air. setiap tahun, rawa dan lahan basah lainnya di kota samarinda semakin berkurang. kawasan hutan kota pun tak lagi berisikan pepohonan.
kebijakan pemerintah kota yang membangun polder untuk menahan laju air, malah menjadikan kawasan tersebut sebagai pemindah lokasi genangan. mal-isasi pun menjadi penguat kehadiran banjir.
sejak delapan tahun lalu, telah diusulkan sebuah upaya pengelolaan aliran air di kota yang lebih baik. tapi tetap saja, sampah dan mampetnya selokan dipandang sebagai sebuah pokok permasalahan di kota ini. padahal, permasalahan meningkatnya aliran air permukaan, lebih disebabkan karena hilangnya kawasan rawa dan lahan berpepohonan.
kampanye memanam pohon pun tak lebih dari sebuah jargon ketika ingin meraih kursi kekuasaan. selebihnya, tetap saja memberikan perijinan kepada pengusaha untuk membongkar lahan-lahan penampungan air yang tersisa. maka, ketika kemudian samarinda menjadi tenggelam, itu hal yang wajar.
konsep rumah panggung di kota ini semakin ditinggalkan. kawasan-kawasan perumahan yang dulunya dibangun diatas panggung pun, saat ini tak terlihat lagi kayu penopangnya. bukan karena ditimbun semata, namun karena aliran tanah yang terbawa air akhirnya menimbun tanah pekarangan. sejak tahun 1980-an, jalan-jalan kota pun telah meninggi lebih dari satu meter. rumah-rumah lama pun terlihat rata ataupun berada di bawah jalan. padahal, rumah-rumah tersebut dibangun di atas tonggak kayu dengan tinggi lebih dari setengah meter dulunya.
samarinda tenggelam, menjadikan kota harus berubah orientasi. akan semakin menarik bila jalan-jalan kota diubah menjadi kanal-kanal yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. menjadi kota beribu sungai, dengan menjadikan jalan kota sebagai kanal, merupakan sebuah pilihan yang menarik bagi kota ini. alat transportasi pun kembali menggunakan perahu, jukung ataupun klotok.
pilihan arah pembangunan kota ini merupakan sebuah amanat yang dititipkan warga kota kepada pemerintah dan parlemen kota. kota akan semakin berkembang, dan menumbuhkan dirinya. satu waktu, bisa jadi samarinda akan menjadi hilang dari peta. karena sejak lalu, kota ini memang sudah “sama rendah”, dan kemudian menjadi kota yang “lebih rendah” dari aliran air.
tak penting samarinda tenggelam !








Wadah bamamay