berdagang satwa
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Pagi tadi kedatangan dua kawan. Yang satu dari Pontianak - Kalbar, yang satu dari YCHI, LSM di Banjar - Kalsel. Ngobrol sedikit tentang bagaimana kondisi di masing-masing daerah, akhirnya tercetus untuk ngobrolin tentang Aliansi Kalimantan Rescue (AKAR) yang pernah dibentuk dua tahun lalu. Sore harinya dilanjutkan dengan ngobrol dengan kawan-kawan yang pernah beraktivitas di AKAR ditambah dengan kawan-kawan dari Sahabat Burung Indonesia Kaltim dan Mapflofa Fahutan. Yuyun - penggagas AKAR mulailah bercerita tentang perjalanan panjang AKAR hingga hari ini.
Dari pembicaraan terungkap bahwa hingga saat ini masih sangat banyak terjadi perdagangan satwa yang dilindungi. Ini terus terjadi dan sangat sulit dibenahi. Institusi pemerintah terkadang malah berada dalam lingkaran perdagangan satwa. Jadilah mulai menggagas hal-hal baru dan mungkin dilakukan dalam membongkar perdagangan satwa yang sangat sulit disentuh palu hukum. Disisi lain memang masih terkendala dengan hanya untuk urusan berbagi informasi saja, sepertinya masih sangat sulit dilakukan.
Dengan satwa sebenarnya tidak terlalu kenal mendalam. Selain hanya senang bergabung dengan aktivitas kawan-kawan penyayang satwa. Namun ternyata, dari satwa manusia banyak belajar, sebagaimana satwa juga meniru yang dilakukan oleh manusia [nonton: Life of Mammals #Food For Thought]. Mungkin karena inilah sangat terobsesi untuk membangun Bekantan Brotherhood dan memperluas Jejaring Pegiat Pendidikan Lingkugnan Hidup. Satu pula mimpi yang dalam waktu dekat akan terwujud “KONSERVASI UNTUK RAKYAT, bukan untuk PEMODAL dan PENGUASA“.











yah daripada
daripada kadada nang basahut, kena sagala pandiran macam bunyi kada bau; lain macam kantut, amunnya babunyi nyaring, kada babau, nah amunya babaya peessss kada pina kadangaran, ini nang bahaya langsung manyarang ka idung. Ada nang bapadah imbah nulis puisi sedih, gumbira, bahagia, manangis sagala … kadada urang nang paduli; tapi bila kita bakantut, samuan urang bakarumut bukahan atawa bamamay pang. Amun kitu kan tulis’ay artikel nang bau malabihi kantut.
[tanggapi]