pada sebuah pondok di tepi sawah
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
sore hari
mentari sepenggalahan
seorang bapak dan anaknya sedang duduk
pada sebuah pondok di tepi sawah
matanya memandang aliran air yang bergerak perlahan
menenggelamkan padi yang baru sebulan lalu ia tanam
sungai yang tak jauh dari sawah tak mampu lagi menahan laju air
terlalu banyak sungai itu menampung limpasan air
dari sebuah lahan yang dibuka untuk kompleks perumahan mewah
serta lahan yang dikupas untuk diambil emas hitamnya
mentari mulai turun meredup
pada sebuah pondok di tepi sawah
mata kail yang diletakkan tak jauh dari pondok mulai bergetar
tak ada ikan yang tertangkap
sebilah ranting pohon mengikatkan dirinya pada mata kail
air kecoklatan terus mengalir
menuju tempat yang lebih rendah
pematang sawah tak lagi terlihat
padi perlahan menguning tak tersinari mentari
negeri ini negeri agraris
petaninya pernah menjadikan negeri swasembada
tapi itu hanya tinggal catatan masa lalu
perlahan tapi pasti
lahan persawahan berganti menjadi areal tambang
atau berubah menjadi perkebunan kelapa sawit
dan di sekitar kota sawah telah menjadi perumahan mewah
yang menjadi tempat bertemunya mereka yang berduit dengan
seorang perempuan yang hanya hadir di akhir pekan
negeri ini negeri agraris
tapi itu masa lalu
tak lagi ada beras lokal untuk ditanak hari ini
semua berganti dengan beras dari vietnam ataupun thailand
petani tak ada dalam kesejahteraannya
terbelilit dalam lingkaran utang yang tak mampu terbayar
hingga anak-anaknya harus bekerja di sawah
atau menjadi buruh di pabrik kayu
atau malah menjadi pekerja rumah tangga
pada sebuah pondok di tepi sawah
di negeri yang agraris
:sebuah potret kehidupan diantara gelinjang modal
[071203]
:: catatan awal tahun ini yang terlewatkan








Wadah bamamay