Memimpikan Kesejahteraan dari Kelapa Sawit
By timpakul • Apr 7th, 2006 • Category: urai [
] - 6,489 dilihat -
Pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Timur telah menjadi sebuah perbincangan publik. Berbagai pro-kontra terlontar menyikapi rencana pembangunan satu juta hektar perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Kaltim. Kabupaten Nunukan menjadi salah satu wilayah yang rencananya akan dibangun perkebunan kelapa sawit skala besar.
Mimpi-mimpi kesejahteraan pun dilemparkan oleh para pimpinan daerah kepada masyarakatnya. Apalagi menjelang pergantian kepala daerah, isu pembangunan kebun sawit telah menjadi salah satu janji manis yang terlontar. Kebun kelapa sawit akan dibangun dan diberikan kepada masyarakat.
Lalu, apakah benar sawit bisa memberikan sebuah kesejahteraan bagi masyarakat? Apakah perkebunan sawit skala besar akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal? Dan apakah pembangunan perkebunan kelapa sawit merupakan keinginan masyarakat ataukah hanya menjadi kepentingan pemerintah dan pengusaha?
Mitos Kesejahteraan Kebun Sawit
Selalu diungkapkan disaat pemerintah mempromosikan pembangunan perkebunan kelapa sawit adalah peningkatan ekonomi yang akan diperoleh dari perkebunan kelapa sawit. Dalam beberapa kajian, terungkap bahwa perkebunan kelapa sawit tidak memberikan kesejahteraan bagi kelompok masyarakat, dan hanya memberikan kucuran rupiah bagi pengusaha. Prof. Maman Sutisna, guru besar silvikultur, menyampaikan bahwa dengan mengalihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak memberikan nilai tambah apapun, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi ekologi. Lebih lanjut disampaikan, bahwa masih terdapat komoditi pertanian lainnya yang bisa memberikan nilai ekonomi yang lebih baik, semisal budidaya kemiri maupun jambu mete.
Sementara sebuah kajian dari Laila Nagib, peneliti LIPI, menyampaikan bahwa kesejahteraan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh luas lahan, hasil produksi dan harga kelapa sawit. Keterbatasan lahan yang dimiliki, pengelolaan kebun yang tidak optimal, dan penentuan harga sepihak yang tidak menguntungkan petani, merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kesejahteraan petani. Akibatnya petani tetap hidup miskin, terjerat hutang atau terjebak dalam permainan pemodal.
Di lain propinsi misalnya, digambarkan oleh Nordin, peneliti perkebunan besar di Kalteng, bahwa dengan mengalihkan kebun-kebun tradisional komunitas masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit, telah menghilangkan penghasilan Rp. 500 ribu ? Rp. 700 ribu setiap bulannya.
Pembangunan kebun plasma sawit kepada masyarakat ternyata juga diikuti dengan skema kredit dengan bunga komersil dan jangka panjang. Hal ini ternyata telah menambah beban ekonomi baru bagi masyarakat. Pupuk, bibit, pestisida, tidaklah diberikan gratis kepada masyarakat, namun menjadi sebuah paket kredit yang harus dibayarkan disaat panen. Sehingga dalam perhitungan ekonomi kebun plasma, komponen tenaga kerja menjadi dihilangkan untuk menunjukkan nilai keuntungan yang besar bagi petani plasma, yang sejatinya sangat merugikan bagi petani.
Bencana Ekologis Perkebunan Besar Kelapa Sawit
Sementara, dari berbagai daerah yang telah melakukan pembukaan perkebunan besar kelapa sawit, semisal Kabupaten Pasir, saat ini telah mengalami bencana lingkungan, baik banjir maupun kekeringan, dikarenakan terganggunya fungsi aliran air (hidrologis) lahan karena tanah tak lagi mampu menyerap air dan menyimpannya.
Bencana ekologis ini diperparah karena pemberian perijinan perkebunan besar kelapa sawit mengabaikan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 376/Kpts-II/1998 tentang Kriteria Penyediaan Areal Hutan Untuk Perkebunan Budidaya Kelapa Sawit, dimana kesesuaian lahan yang cocok untuk perkebunan budidaya kelapa sawit memiliki kriteria: (1) kelerengan max 25%; (2) ketinggian 0-300 m dari permukaan laut; (3) curah hujan 1750-4000 mm/tahun dengan rata-rata bulan kering per tahun 0-3 bulan; (4) kedalaman efektif tanah: untuk tanah mineral > 100 cm, untuk ketebalan tanah gambut, dan; (5) temperatur rata-rata per tahun 24? - 29?C. Kawasan hutan yang dapat dilepaskan menjadi perkebunan budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria (1) berdasarkan Rencana Tata Ruang Propinsi berada pada kawasan budidaya non kehutanan; (2) tidak dibebani hak; (3) pulau kecil yang luasnya kurang dari 10 km2 tidak termasuk yang dapat dilepaskan; (4) diprioritaskan pada lahan kosong atau terbuka berdasarkan citra landsat yang terbaru, dan; (5) minimal luas areal 10.000 hektar.
Dari sisi ekonomi lingkungan, Greenomics menyampaikan bahwa akibat pembukaan perkebunan besar kelapa sawit , Kaltim akan kehilangan tidak kurang 210 triliun rupiah serta mengalami kerugian ekologi (fungsi pengaturan gangguan ekosistem, tata air, penyedia air, pengendali banjir, siklus unsur hara, dan pengendalian limbah) sebesar 14,7 triliun rupiah setiap tahunnya. Nilai yang tidak sebanding dengan nilai yang akan diperoleh oleh negara dan rakyat dari pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar saat ini.
Dari pengalaman masa lalu juga terungkap bahwa semakin meluasnya lahan kritis di Kaltim salah satunya diakibatkan oleh pembukaan areal hutan dengan perijinan kelapa sawit yang akhirnya tidak dilakukan penanaman. Hanya 6,7% perkebunan besar kelapa sawit yang melakukan penanaman kelapa sawit, selebihnya hanya mengambil kayu dan meninggalkan lahan kritis. Tak kurang dari 3,5 juta hektar lahan kritis di Kaltim saat ini yang ditinggalkan dan tak menjadi prioritas dalam pengelolaannya.
Kesejahteraan Masyarakat atau Kesejahteraan Pengusaha?
Dari beberapa kali berinteraksi dengan komunitas lokal, tergambarkan bahwa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah pendidikan dan kesehatan berkualitas dan gratis, serta akses transportasi yang memadai dalam membantu pergerakan ekonomi lokal. Tak pernah terbersit untuk masuknya perkebunan kelapa sawit dikarenakan masih begitu banyak komoditas produktif di tingkat masyarakat yang belum maksimal terpasarkan dikarenakan terkendala permasalahan transportasi. Penggunaan transportasi air saat ini masih memiliki beban ekonomi yang tinggi bagi masyarakat.
Akses transportasi ini pula yang selalu digaungkan oleh pemerintah dan pengusaha ketika akan membangun perkebunan besar kelapa sawit. Namun ternyata, ketika dilihat lebih dalam dari realisasi di lapangan, kenyataannya adalah pembangunan sarana transportasi selama ini juga dipenuhi oleh anggaran negara, bukan oleh pengusaha. Pengusaha juga meminta pemerintah membangunkan akses transportasi antar kampung hingga ke pusat perekonomian untuk menunjang usaha perkebunan mereka. Hanya jalan di dalam perkebunan saja yang dibangun oleh pengusaha, itupun hanya dilakukan bila masih terdapat kayu komersial di kawasan tersebut, dikarenakan biaya pembuatan jalan dapat ditutupi dengan menjual kayu komersial tersebut.
Bila demikian, maka sebuah janji untuk membuka isolasi kawasan masyarakat dengan membangun jalan oleh perusahaan perkebunan, senyatanya hanya sebuah manipulasi dan penipuan. Karena senyatanya masyarakat memiliki hak atas anggaran negara (APBN/APBD) untuk kebutuhan transportasi, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan gratis.
Politik Kelapa Sawit
Belakangan, pembangunan perkebunan kelapa sawit juga telah menjadi sebuah komoditas politik. Kepentingan-kepentingan politikus sangat terlihat dalam pembangunan perkebunan besar kelapa sawit. Begitu besarnya kebutuhan keuangan untuk pertarungan politik, telah menjadikan kelahiran negosiasi politik antara politikus dengan pengusaha perkebunan. Pemberian perijinan perkebunan besar, dibarengi dengan kucuran dana politik. Sehingga bukan sesuatu yang aneh lagi bila menemukan adanya janji politik berkaitan dengan pembangunan perkebunan kelapa sawit kepada masyarakat.
Belakangan, peranan aparat keamanan juga sangat terlihat dalam upaya-upaya pengamanan perkebunan besar kelapa sawit di berbagai wilayah. Polisi dan TNI terlihat sangat proaktif mengamankan perkebunan besar kelapa sawit, bukan lagi untuk mengamankan negara untuk masyarakat. Ada apa dibalik semua ini?
Saatnya Tidak Lagi Tertipu Janji Manis
Saat ini, ditengah begitu banyaknya kepentingan yang bermain dan memain-mainkan kepentingan masyarakat, sudah saatnya masyarakat menjadi lebih kritis terhadap berbagai gagasan dari pihak pemerintah maupun pengusaha. Apakah sebuah janji akan direalisasikan dan memberikan keuntungan sebenarnya? Ataukah sebenarnya hanya sebuah penjeratan baru bagi masyarakat yang akhirnya menjadi sebuah belitan kesengsaraan? Kesejahteraan akan sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat bisa memilih secara lebih cerdas dan kritis. Bukan dengan sebuah buaian janji politik, yang terkadang tak pernah berpihak pada masyarakat disaat telah berkuasa.
Kesejahteraan masyarakat hanya akan bisa terwujudkan bila pemimpin yang dipilih adalah yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Jangan pernah memberikan kepercayaan kepada kelompok yang akan menindas dan menghisap masyarakat.
Random Posts
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul




wow, begitu ya ternyata. Selama ini aku tahunya kelapa sawit itu penyelamat bangsa je, ladang devisa, jagoan ekspor, semacam itulah.
Timpakul janjan.............
woi...
Terima Kasih Timpakul...
Perbanyak Lagi Keterangan tentang Kelapa Sawit yang ada di Gelumbang Kota Palembang Propinsi Sumatera Selatan.
Ok !!!
cobalah memmandang perkebunan sawit sebagai niat baik untuk membangun bangsa, jangan dikampanyein ngatif seperti ini, toh bukti nyata swit memberikan devisa yang cukup besar bagi kas negara untuk menutupi defisit anggarang yang ada, dan secara tidak langsung pula akan menambah anggaran negara bagi bidang pendidikan dan juga kesehatan yang masih minim hingga saat ini.
memang pembukaan perkebunan kelapa sawit secara langsung akan merusak hutan yang ada, tetapi itu toh ada ketentuan-ketentuan yang diatur oleh hukum negara.
mari kita melihat negara ini sebagai negara yang masih berjuang menemukan jati dirinya sebagai negara yang memiliki daya saing dengan negara lain. kita tidak bisa bersaing/berkompetitif dengan produk otomotif kita, atau produk pesawat kita, harus diakui negeri ini masih belum mampu bersaing di bidang high tech seperti itu, tetapi kita masih memiliki keungguln komperative, yaitu sawit, percayalah tahun 2008, negara kita akan menjadi negara produsen sawit yang terbesar di dunia, mengeser dominasi pasokan sawit dari malaysia.
malulah kita dicap negara yang hanya bisa mengirim buruh migran kasar ke negara lain, kini saatnya kita maju dengan keunggulan yang kita punyai. saya sangat menghargai perbedaan pendapat. marilah kita cari solusi yang terbaik untuk kemajuan bangsa ini. thank
saya hanya ingin mengungkapkan realita, bahwa senyatanya tidak ada kata kesejahteraan dalam sistem perkebunan kelapa sawit di Indonesia. buruh migran bukan harus dijawab dengan perkebunan kelapa sawit, tapi dengan mengembalikan kedaulatan rakyat atas tanahnya.
Timpakul, anda terlalu menafsirkan negatif kelapa sawit sama seperti rakyat Indonesia pada umumnya. Cobalah anda melihat segi peningkatan devisa negara kita maka anda melihat pentingnya kelapa sawit. Dalam kelapa sawit pertentangan lahan dgn permainan politik dari elit-elit disana memang ada dan itulah harus diperbaiki pemerintah dijajaran manajemen organisasi.
Seharusnya pemerintah harus mengoptimalkan perkebunan kelapa sawit yang tidak mengorientasikan perluasan lahan tetapi pengolahan perkebunan yang ada dengan peningkatan secara intensifitas, contohnya SDM harus kompeten pada bidangnya dan pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan pelaku
perkebunan swasta dan negeri. (Leman)
Timpakul, anda jangan dulu memfokuskan kepada keuangan dan kesejahteraan pekebun kelapa sawit tetapi anda harus memikirkan petani sawit mengarahkan ke ketrampilan tinggi dalam teknis budi daya dan pengolahan lahan secara maksimal dengan beribadah kepada TYME dan hati yang beriman seperti dalam filsafat ilmu bahwa ilmu tanpa agama sama dengan nol dan agama tanpa ilmu sama dengan mubazir. Dan kepada para ahli stafnya agar meningkatkan ketrampilan dengan melakukan penelitian2, bukan korupsi! (Hendri).
Kawan Hendri dan Leman,
Kawan sendiri mengakui bahwa masih banyak masalah dengan perkebunan kelapa sawit. Masalah SDM, juga Korupsi.
Kalaupun dikaitkan dengan agama dan hubungan dengan Tuhan, maka sangat jelas disampaikan bahwa dilarang untuk membuat orang lain menderita. Kalau kawan sudah mengerti penderitaan akibat perkebunan besar kelapa sawit, apakah kawan masih harus berdiam diri dan membiarkan hal ini terus terjadi? Ini tentunya bertentangan dengan agama yang kawan maksudkan.
Kalau tidak fokus pada keuangan pekebun sawit, lalu apa yang ingin disasar dari perkebunan kelapa sawit? kesejahteraan pengusaha? Kekayaan pemodal? ataukah kekayaan koruptor negeri?
Kalau mau berbicara pendapatan devisa, perlu kawan ketahui, bahwa 60% kekayaan negeri ini ditopang oleh sektor rakyat (industri rakyat), bukan oleh perusahaan besar, semisal perkebunan besar kelapa sawit. Sektor ekonomi rakyat Ini yang sebenarnya tetap menjadikan indonesia tidak terlalu terpuruk saat krisis moneter beberapa waktu lalu. Marilah berhitung. kalau perusahaan besar kelapa sawit, hanya mampu memperkaya 8-20 orang saja. sementara 5-20 juta rakyat harus kehilangan sumber kehidupannya yang harusnya bisa diakses dari kawasan sekitar mereka, termasuk untuk ladang dan lahan pangan. Haruskah ini dibiarkan? pada siapa kawan ingin berpihak?
Seorang kawan saya mengatakan, sepertinya saat ini yang selalu menjadi pegangan adalah Kekayaan yang maha Kuasa !
Saudaraku semua,
Kita mesti memperbanyak informasi yang lebih baik segala hal yang terkait dengan kelapa sawit.Memang betul masih banyak kekurangan di sana sini bagaimana untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia khususnya kalangan petani sawit. Pernahkan anda mengetahui tentang program2 pemerintah untuk mensejahterakan kelompok2 petani sawit? Ada suatu program yang didukung pemerintah melalui pendirian institusi BUMN yang bernama Permodalan Nasional Madani (PMN). Lembaga ini didukung dan ditangani orang2 profesional dan kredibel mempunyai misi yang baik, salah satunya membantu petani/kelompok petani sawit untuk bisa mendirikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mini di mana para petani bisa mempunyai saham di pabrik tsb.Program ini diluncurkan karena diketahui bahwa dengan luas perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia saat ini masih kekurangan Pabrik Kelapa Sawit mini 702 buah dengan kapasitas 5 - 10 TBS/jam. Hal ini adalah peluang bagi setiap petani ataupun investor untuk mendanai proyek tsb. Sehingga petani ada jaminan sawitnya ada yang menampung dan harganya tidak dipermainkan oleh PKS. Apabila program ini jalan betapa besar multiplier effect terhadap kesejahteraan petani sawit dan perekonomian nasional, karena Indonesia akan jadi negara agrobisnis dimana ekspor Crude Palm Oil (CPO)meningkat. Selain itu pemerintah mencanangkan program pemakaian biodiesel sebagai campuran dalam bahan bakar solar, yang akan menggunakan CPO sebagai salah satu bahan bakunya. Saat ini 60 % produk CPO indonesia diekspor ke luar negeri. Bila sesuai rencana, akan dibutuhkan banyak CPO untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik biodiesel, artinya butuh banyak perkebunan dan PKS, butuh banyak pabrik biodiesel....menciptakan banyak lapangan kerja. Kebun yang akan dibuka adalah dari lahan kritis, dari data informasi diperkirakan ada 58 juta lahan kritis, asumsi dipakai 10 % saja kita sudah memanfaatkan untuk kegiatan ekonomi, sehingga akan menurunkan jumlah area lahan kritis dan membuka lapangan kerja bagi 10 juta orang, mengurangi ketergantungan energi bahan bakar dari minyak bumi yang pada saat ini indonesia impor bahan bakar dari luar negeri. Marilah kita sama2 berfikir positif ke depan dan bekerja keras untuk memperbaiki situasi negara kita meskipun kontribusi kita kecil sekali.
Salam,
Pandu
Hal yang baik bagi kelapa sawit itu bagus. Apalagi kalau memang benar dilakukan.
Pabrik CPO mini itu baik, apalagi kalau benar saham bisa dimiliki oleh petani sawit. Termasuk dalam pengendalian harga CPO dunia. Bagaimana mungkin di kondisi hari ini bisa terwujud? Indonesia harusnya tidak hanya berpikir tentang CPO/PKO dan Biodiesel semata. Industri hilir berbahan minyak sawit harusnya lebih dikembangkan. Kurangi ekspor CPO. Indonesia harus sudah mulai dengan mengekspor kebutuhan minyak nabati dunia maupun produk turunan lain dari minyak sawit.
Asumsi tenaga kerja selalu terbantahkan ketika melihat realita di lapangan. Ada perbedaan pandangan tentang kebutuhan kerja di tingkat pemerintah dan di tingkat rakyat. Asumsi terhadap orang miskin saja masih belum bisa benar dilihat di tingkat komunitas. Mengkategorikan orang perorang sebagai orang miskin, terkadang hanya sekedar pada bantuan semata. Ketergantungan yang dibangun bukan membangun semangat membangun negeri.
Berpikir positif itu baik. Namun tidak harus meninggalkan kondisi aktual. Saat ini, kebun besar kelapa sawit masih dibangun diatas lahan berhutan, bukan di lahan kritis sebagaimana yang digambarkan.
Kalo ijin buat kebon sawit, cuma untuk ambil kayu aja, jelas mengusik dan mengusir orang utan dan habitat lain (flora & fauna) yang ada. Tapi lahan hutan yang udah amburadul itu, apa mau dibiarkan...., daripada ngomel melulu, ya udah tanam aja apa kek, kalo nggak mampu buat kebon sawit sebaiknya nonton aja pekebun sawit kaya. Batu baru yang tiap hari lalu lalang di mahakam itu jelas ngeruk kekayaan, nyantai aja. Kenapa...? yang menentang penanaman sawit di lahan KBNK dan lahan kritis paling-paling warga negara malaysia yang nyusup jadi warga RI, maklum data dan identifikasi kependudukan di negeri ini tidak ketat. Coba diteliti benar, di Batam banyak orang Malaysia yang punya rumah dan ber KTP di sana, ada juga di Bekasi, Jkt, Sby, tapi coba cari orang Indon yg di Malaysia akan segera terdeteksi karena administrasi kependudukan dan pengawasannya ... sip..., ayolah bangsaku... sadar, jangan mau kalah dgn malaysia dalam persawitan dunia....
salam sejahtera semuanya..., saya pun sependapat dengan saudara sholeh! daripada berdebat melulu tapi nga dibarengi dengan tindakan akan sia-sia saja, melongo aja... mending lahan yg kritis itu dimanfaatkan buat nanam sesuatu kek... yg bermanfaat buat kesejahteraan masyarakatdan, paling tidak menciptakan sedikit banyaknya lapangan pekerjaan en dapat mengurangi tingkat penganguran di negara ini, karena segala sesuatu di dunia ini nga ada yang ferfect! maka dari itu marilah kita berusaha menyempurnakannya dan bukan dengan perdebatan perbedaan pendapat yg nga ada habisnya jika nga sisertai dengan tindakan.....
kalau pedebatan sudah tidak diperkenankan pak... bagaimana sebuah perbaikan dapat dilakukan, karena perbaikan diperoleh dari sebuah perdebatan.... yang tentunya berdasar pada data dan fakta (kondisi obyektif)
mbok ya oo
kita jalani hidup ini dengan porsi yang sesuai dan jangan berlebihan, baik pro dan kontra , setan dan malaikat semua kan udah seimbang,. kalau mau adil yah harus menjadi penengah, bukan berat sebelah.
rejeki jodh dan mati udah ada yang mengatur mas, kta hanya bisa berusaha dan berdoa. semoga peran kita didunia ini menjdi bekal dikehidupan lanjut., masalah yang diluar kuasa kita sudah ada yang ngatur. yi ALLAH SWT
masalah kehidupan di bumi bukan semata diberikan oleh pengatur alam, namun kelompok kecil manusia telah menjadi penguasa atasnya. haruskah berdiam diri saat alam dikuasai untuk kepentingan segelintir orang di bumi? haruskah membiarkan pemiskinan terus terjadi? haruskah menyaksikan penggusuran terus dilakukan? terbuat dari apa hati manusia itu bila hanya berdiam saat menyaksikannya?
salam lestari,
membaca semua komentar diatas, rasanya membuat saya hanya bisa termangu melihatnya, jujur baru tau saya kalau masalah kelapa sawit juga bisa sekompleks ini ...
saya masih tetap, ingin sekali mengajak rekan2 yang punya pengetahuan lebih tentang hal ini, untuk mengajak saya melihat langsung (investigasi langsung) di lapangan kondisi real yang sebenarnya, ... saya sudah jenuh naik gunung terus ... mbok ya sekali2 kita liat kondisi kritis tanah indonesia yang sebenernya, trus cerita itu bisa kita sharing lagi ke sesama yang lain ...
kadang (menurut saya) apa yang kita lihat di tv suka beda dengan yang aslinya
hanya sebuah pendapat
irfan
Apa yg sdh dilakukan Timpakul u/ memperbaiki masyarakat yg katanya tertindas itu ?... bamamay haja... Masih lebih afdol para pengusaha, ahli & staf perkebunan sawit yg nyata-nyata sdh membuka lapangan kerja & memberi kontribusi kepada negara. Kekurangan atas regulasi perkebunan sawit memang ada... itu yg perlu diperbaiki oleh semua pihak dengan kerja nyata, bukan hanya " bamamay ". Kami yang menjadi staf & pekerja serta pengusaha ini adalah warga Indonesia juga. Yg ingin berkontribusi walau hanya kecil terhadap rakyat & negara. Jadi tdklah benar jika kami hanya sebagai penindas, kami bukan penjajah kawan
Pernahkah melihat siapa yang menguasai perkebunan besar kelapa sawit? pernahkah mengetahui bagaimana sulitnya kehidupan petani plasma sawit yang hanya memiliki lahan sawit 2 hektar? pernahkah menyaksikan meningkatnya harga minyak goreng yang berbahan sawit, sementara bahan bakunya dari indonesia? lalu, apakah pekerja perkebunan memperoleh kesejahteraannya? masih banyak buruh kontrak di perkebunan kelapa sawit yang juga tidak mampu mencapai kesejahteraannya.
dan maaf, saya tidak sekedar bamamay.
ini, ada sedikit info dari milis infosawit
------------------------------------------------------------
Kertas Posisi
Indonesia Under "Biofuel Fever" :
Food, Fuel, Machine, Human Being = Not Different
"Kelaparan akan menimpa manusia karena kalangkaan bahan pangan
akibat penggunaan bahan pangan untuk produksi biofuel"
(Fidel Castro)
Indonesia Curent Situation :
Indonesia negeri anomali : "negeri produsen minyak, tetapi rakyatnya selalu mengalami kelangkaan minyak; negeri produsen CPO, tetapi rakyatnya mengalami kelangkaan CPO/minyak goreng". Inilah situasi Indonesia sekarang disaat "Biofuel fever" menjalari pengusaha kelapa sawit, elite pemerintah, bahkan juga beberapa kalangan penggiat lingkungan hidup.
Harga minyak goreng terus merangkak naik dipasaran, dari semula 6500/kg mencapai kisaran 7500-9000/kg (naik hampir 50%!). Jika harga semula saja masih membuat rakyat kecil harus menguras isi kantong, apalagi lagi jika harga sudah mencapai 9000/kg. Kenaikan harga minyak ini sangat dirasakan serta berdampak besar bagi industri rumah tangga dan industri kecil, seperti industri kerupuk yang terancam bangkrut akibat kenaikan minyak goreng ini (Liputan6 pagi SCTV 11 Mei 2007). Celakanya, minyak goreng tak hanya naik harganya, tetapi juga menghilang dari pasar.
Hampir disemua kota di Indonesia, rakyat antri untuk mendapatkan minyak goreng. Siapa rakyat ini? Rakyat miskin. Ya, kelangkaan minyak goreng telah semakin membuat rakyat miskin semakin menderita.
Reaksi pemerintah Indonesia dengan menggelar "Operasi Pasar" (penjualan minyak goreng murah). Tetapi hal ini belum memberikan perubahan significant. Sebagai contoh di kota Jambi, Suamtra, harga tidak bergeser dari harga 7500 Rp.kg dan kualitasnya juga tidak sebaik minyak goreng yang dijual dengan harga yang merangkak naik (hasil wawancara tim investiasi SETARA 12 Mei 2007 pukul 9.33 di Pasar tradisional Angso Duo Jambi). Saat sekarang "Operasi Pasar" ini belum mampu menekan harga minyak goreng.
Ada Apa Dengan Minyak Goreng?
Ternyata besaran luas perkebunan kelapa sawit tidak selalu menjadi mimpi indah bagi kesejahteraan rakyat. Sebagai contoh, di propinsi Jambi luas perkebunan kelapa sawit mencapai 403.467 Ha dengan tingkat produksi mencapai 4.682.975 ton ditahun 2005, tetapi kelangkaan minyak goreng tetap juga melanda daerah ini?
Pemerintah Indonesia meminta perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Wilmar Group, PT Perkebunan Nusantara, PT Smart Tbk, PT Musim Mas, PT BEST, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Musim Mas dan PT Darmex Oil agar menyediakan 150.000 ton/bulan minyak goreng (Antara, 1 Mei 2007) untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng. Tetapi, harga CPO yang tinggi di pasar internasional, membuat pihak pengusaha hanya menyanggupi 100,000 ton/bulan. Tetapi sampai kapan pengusaha mau "bermurah hati", disaat harga CPO yang tinggi dan "biofuel fever"?.
Kenapa minyak goreng menjadi langka? Berikut beberapa analisis :
1. Para pengusaha kelapa sawit lebih tertarik untuk mengekspor bahan baku CPO kepasar international, ini dikarenakan harga lebih tinggi dibanding pasar dalam negeri (berkisar 650-690 US dollar per ton).
2. Praktek penimbunan yang dilakukan oleh beberapa kalangan bisnis, yang ingin meraih keuntungan dari naiknya harga minyak kelapa sawit, akibat dampak "biofuel fever".
3. Penimbunan yang dilakukan oleh pengumpul di luar negeri, untuk persiapan supply project biofuel.
Analisis ini diperkuat dengan tingginya volume eksport, padahal kebutuhan pasar luar negeri selama ini tercukupi dari suply CPO dari berbagai negara produsen. Sebagai ilustrasi, kuantitas ekspor CPO Indonesia menaik pesat, dari 11,5 juta ton tahun 2005 menjadi 13,6 juta ton di tahun 2006. Selain itu, saat sekarang di Eropa sedang dibangun pembangkit listrik berbahan baku biofuel yang membutuhkan supply 1-1,5 juta ton.
4. Program Biofuel oleh Pemerintah Indonesia, tidak memasukkan komponen komparatif supply-demand diantara industri berbahan baku CPO/biofuel, sehingga diantara industri ini terjadi kompetisi pencarian bahan baku.
5. Kepentingan CPO untuk bahan baku biofuel, saat ini hanya bisa dinikmati oleh pasar international, karena PERTAMINA (Indonesia state energy corporate) yang ditunjuk pemerintah sebagai perusahaan yang akan memproduksi bahan bakar nabati menyakan mengnentikan produksi dikarenakan kerugian yang dialami selama ini yang mencapai Rp 15,9 miliar.
6. Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia memang telah diskenario sedemikian rupa hingga hanya untuk memenuhi kebutuhan ekport dan tidak untuk pasar domestik.
Mukjizat kelapa sawit kini tak hanya diproduksi untuk memberi makan pada manusia (Food), tapi juga bahan baku mesin (Fuel), kini telah berubah menjadi kutukan bagi jutaan rakyat di Indonesia. Ini dikarenakan "perkelahian" dua konsumer bahan baku minyak kelapa sawit --- manusia dan mesin --- telah dimenangkan oleh konsumer mesin, dan pemerintah Indonesia sendiri telah berdiri dikubu konsumer yang paling menjanjikan yaitu mesin. Lihat saja Komitmen pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pertanian, bersama pemerintah Malaysia sepakat untuk menyediakan 12 juta ton CPO (6 juta ton dari Indonesia dan 6 juta ton dari Malaisia) bagi kebutuhan bahan baku biodiesel, dan ini dianggap tidak akan mempengaruhi volume ekspor CPO Indonesia yang diprediksi tahun 2006 yang mencapai 14,7 juta ton dan pasar domestik (Investor Daily 2007). Padahal, luas perkebunan kelapa sawit saat ini yang luasnya mencapai 5,4 juta hanya mampu menyediakan 16 juta ton CPO, dengan frekuensi 11,5 juta ton untuk pasar international dan 4 juta ton untuk pasar domestik (kompas, 13 Maret 2007).
What Our Demmand?
Berdasarkan dari beberapa hal diatas, kami dari SETARA Jambi, NGO lokal yang bergerak dalam isu perkebunan kelapa sawit, khususnya di propinsi Jambi menyatakan bahwa dari keseluruhan persoalan yang ditimbulkan oleh minyak kelapa sawit, yang paling menderita adalah rakyat kecil. Maka Kami Meminta :
1. Pemerintah melakukan pembatasan eksport bahan baku baku biofuel dari kelapa sawit oleh pengusaha perkebunan kelapa sawit, dan ketentuan ini harus dinyatakan dengan kebijakan yang harus ditaati oleh pengusaha-pengusaha perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia.
2. Pemerintah melakukan kajian tentang kesesuaian dan kemampuan suply bahan baku bagi kepentingan pasar domestik dan juga kepentingan eksport.
3. Para investor menghentikan segera investasi disektor perkebunan kelapa sawit hingga ada blueprint perkebunan kelapa sawit yang jelas dan menerapkan prinsip keberlanjutan (sustainable palm oil).
4. Para investor menghentikan investasi di sektor perkebunan kelapa sawit karena SETARA Jambi mengkhawatirkan, pembangunan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi konsumsi bahan bakar nabati bagi penggunaan energi terbarukan yang ditujukan untuk pengurangan emisi karbon, malah akan menjadi paradoks menjadi katalis penderitaan bagi lingkungan karena pembangunan perkebunan kelapa sawit yang tak terkendali.
Penulis : Rukaiyah Rofiq
Untuk Kontak :
Rukaiyah Rofiq (mama_aca@cappa.or.id)
Rivani Noor (rivani@cappa.or.id)
Alamat Surat :
Jl Kol Abunjani, Lrg Cemara III No 56 RT 27/08
Telanaipura, Jambi 36129
T./F. +62-741-64986
N/B :tersedia dalam format PDF indonesia dan Inggris, silahkan request ke kontak diatas.
good. good.. menggantungkan keputusan kepada pemerintah yang tidak karuan amburadulnya.. bukan menyalahkan pemerintah sih. tapi perusahaan aja diperas ama Pemerintah dengan segala tax dan UU yang selalu diperbarui dan tumpang tindih.. belum lagi ama pejabat2nya, anak buah pejabat dan semua yang notabenenya mengemban tugas negara.. sudah digaji dgn uang rakyat dan dari hasil bumi(sawit termasuk loh ya), masih minta ini itu.
ini mau buat blue print lagi.. bisa2 investor lari kalang kabut padahal negeri sudah krisis mas ai.
kalau ga mau sawit, apa mau ditanami padi, jeruk, kopi, teh, karet, ketela, hmmm.. pusing deh.
sebenernya berangkat dari hati nurani yang bersih akan bisa mengubah keadaan. bukan celoteh yang mengkambinghitamkan..seperti forum timpakul ini.
Mas dan Mbak, saya sudah lama kerja di kebun sawit mulai dari buruh, mandor dan staf. Saya juga pernah gabung di LSM Lingkungan. Rasa-rasanya banyak fakta atau informasi mengenai sawit yang tidak lengkap yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat awam, sehingga orang awam banyak yg berkomentar negatif terhadap sawit. Padahal saat ini sudah ada forum RSPO (Rountable on Sustainable Palm Oil) yg bisa dijadikan ajang diskusi hal-hal apapun mengenai kelapa sawit. Black campaigne thd kelapa sawit adalah kurang bijak, dan justru perusahaan2 dari luar seperti Cargill, P&G, UP, Unilever, Wilmar, dll., justru berkembang pesat di Indonesia akhir-akhir ini, sedangkan perusahaan lokal seperti kebakaran jenggot menari-nari yang menggendangi rekan2 kita sendiri. Mereka diback up pemerintah negaranya (proteksi, subsidi ekspor, dll) sementara kita diobok2. Mbok ya kalau ada teman kita yg berbuat salah ya diluruskan, jangan pukul rata. Saya tunggu kalau ada yang mau niat baik memperbaiki kondisi, silakan e-mail ke tri_sawit@yahoo.co.id.
untuk pak Triyanto, saya sudah kirim email via japri, mari berdiskusi...
juga jangan sungkan untuk diskusi di milis http://groups.yahoo.com/group/infosawit/
Kelapa Sawit Penuhi Syarat Jadi Tanaman Konservasi
Medan (ANTARA News) - Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap MS, mengatakan kelapa sawit merupakan tanaman yang memenuhi syarat menjadi tanaman konservasi, karena memiliki kemampuan merehabilitasi tanah dan memperbaiki tata air.
Selain itu, menurut dia di Medan, Jumat, kelapa sawit juga memberikan penghasilan yang cukup bagi petani yang bergerak di bidang agrobisnis.
Dalam pidato yang disampaikannya pada pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Konservasi Tanah dan Air pada Fakultas Pertanian USU belum lama ini, ia juga mengemukakan, agribisnis kelapa sawit dapat menyediakan bahan baku industri secara cukup dan terus menerus.
"Dengan demikian jelas tanaman kelapa sawit merupakan rahmat dari Allah SWT untuk Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkannya, disamping potensi ini tidak dimiliki banyak negara lain di dunia," katanya.
Dilihat dari potensi luas lahan yang tersedia di Indonesia yang sesuai untuk program ekstensifikasi atau perluasan areal perkebunan kelapa sawit, Indonesia dinilai berpotensi memperluas areal kelapa sawitnya sampai lima kali lipat dari luas areal yang telah ada saat ini.
Sementara itu, Malaysia sebagai kompetitor Indonesia dalam memproduksi CPO tidak memiliki potensi areal perluasan lagi. Dengan demikian potensi Indonesia sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia peluangnya sangat besar.
Ia mengatakan, isu strategis tentang biodesel/biofuel yang salah satu bahan dasarnya dapat dibuat CPO membuat tanaman ini menjadi primadona agrobisnis/agroindustri.
Pada akhirnya harga jual CPO sangat tergantung kepada harga minyak bumi, semakin tinggi dan langka minyak bumi maka harga CPO juga akan meningkat akibat dari kemampuannya menjadi substitusi minyak diesel yang dapat diperbaharui, ujarnya.
Ia menjelaskan, potensi yang besar untuk mengembangkan kebun kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatera (Riau, Jambi dan Sumatera Selatan), Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur), Papua dan provinsi lain yang potensinya di bawah satu juta hektare.
Potensi lahan yang sesuai untuk komoditi kelapa sawit di Indonesia menurut dia, tidak kurang dari 31 juta hektare, sementara yang dimanfaatkan sampai kini baru 5,447 juta hektare. Dengan demikian potensi perluasan areal bisa hingga lima kali lipat lebih.
Apabila 10 juta hektare dapat dibagikan kepada rakyat miskin dimana setiap kepala keluarga memperoleh lahan kebun kelapa sawit seluas dua hektar, maka dipastikan dapat mengentaskan kemiskinan sebanyak lima juta kepala keluarga atau sekitar 20 juta rakyat, ujarnya.
Ia mengemukakan, melihat potensi lahan yang dapat dikembangkan menjadi kebun kelapa sawit jelas kelihatan bahwa untuk program revitalisasi pertanian pengembangan kelapa sawit sangat mendukung, terutama untuk wilayah Indonesia Tengah dan Barat yang secara tidak langsung akan mempercepat pertumbuhan ekonomi regional daerah tersebut.
Kegiatan ini akan berdampak pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan regional, peningkatan kesejahteraan rakyat pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perkapita negara, ujarnya menambahkan. (*)
benar2 ga percaya ada prof. yg ngomong seperti ini
hutan sawit ama hutan alam ya beda jauh prof
infiltrasi tanah di hutan sawit itu kacau balau....
makanya banjir
ini website terlalu bias... anda (TIMPAKUL) terlalu lama duduk di depan komputer mungkin... saya kebetulan orang lapangan, petani sawit plasma. SAYA MAKMUR KARENA SAWIT! hutang pupuk? hutan bibit? pikir sendiri... wajar kok... lahan yang dibuka adalah alang2 yg tdk pernah menghasilkan apa2... puji tuhan ada yang mau mengelola alang2 menjadikan sesuatu yang lebih baik. alang2 malahan lebih tidak meresap air.
website ini terlalu bias. anda tidak mengerti apa2, tanpa perusahaan mana mungkin saya punya uang untuk membuka kebun sawit sendiri? uang dari mana? pinjam dari bank kah? atau minta dengan pemerintah? atau ANDA mau memberikan saya lapangan pekerjaan kah? saya disuruh cari makan kehutan? apakah saya mau berkehidupan seperti dulu? sebelum punya sawit? JELAS TIDAK! anda seharusnya pergi ke lapangan daripada cuma duduk2 memprovokasi perkebunan sawit.
toh ada bukti yang NYATA bahwa malaysia jauh lebih maju ekonominya dari indonesia karena sawit. apapun yang pasti anda perdebatkan, tetap faktanya malaysia lebih maju titik.
hutan alam sdh pasti berbeda dengan hutan sawitlah... makanya lahan2 yang marginal yang sekarang di galakkan oleh pemerintah untuk di buka sebagai lahan sawit. contoh soal yang di tempat saya di bengkulu, alang2 puluhan ribu hektar.
apakah menurut anda daripada di tanam sawit lebih baik alang2 di pelihara? rawan longsor alang2 itu... apakah bekas tambang2 batubara dgn kubangan besar2 lebih baik seperti itu saja daripada di tanam kembali?
harga minyak goreng naik? biarlah... harga jual sawit saya juga naik. cuma org2 di jawa yg ribut, kami di sumatra tdk protes... anda di jawakah? pindahlah dari jawa, sudah terlalu sesak di jawa itu...
maaf, semua yang saya tulis adalah berdasarkan kajian ilmiah. saya lahir dan besar di kalimantan timur. sejak sawit pertama kali masuk di kaltim telah terlihat kepincangan yang terjadi. janji kesejahteraan tak pernah terwujudkan. petani sawit tak ada kata sejahtera di kaltim. yang semakin kaya adalah para pemodal yang menguasai lahan sawit hingga puluhan ribu hektar.
kebun sawit mengelola alang-alang? dimana di tanah kalimantan yang hanya alang-alang dalam luasan puluhan ribu hektar? 2,9 juta hektar perijinan bagi perkebunan besar kelapa sawit hanya 300 ribu hektar yang baru tertanam. inikah yang disebut memperbaiki kehidupan?
silahkan kawan membuat wadah untuk memaparkan sisi positif perkebunan kelapa sawit di bengkulu. ceritakanlah kisah sukses kawan-kawan. saya juga masih sering mendengar cerita sedih kawan-kawan di bengkulu yang kehilangan lahan akibat masuknya perkebunan besar kelapa sawit. semoga kawan akan tetap dalam kesejahteraannya dengan kelapa sawit.
kalau anda dilahirkan dan dibesarkan di kalimantan timur ,alternatip apa yang bisa anda berikan selain perkebunan yg dapat mensejahterakan masyarakat di kalimantan timur ?
apakah tambang batu bara bisa mensejahterakan masyarakat ?
Terpikirkah oleh anda apa yang akan dihadapi masyarakat 15 /20 tahun kedepan ? masyarakt mau bkin rumah saja sdh tdk ada tanah yang ada hanya danau -danau kecil yang bertaburan ex Tambang .
bisakah danau 2 kecil ini mensejahterakan masyarakat ?
kami juga tak setuju dengan tambang (apapun).... masih begitu banyak komoditas yang tak merusak alam yang telah ada di komunitas lokal, namun tak pernah terfasilitasi dengan baik oleh pelayan publik.
dengan padi gunung maupun padi sawah, rotan, madu, damar, getah karet, kemiri, dll komunitas lokal telah hidup dengan kesejahteraannya.
pernahkah anda terpikir membangun rumah menggunakan apa kalau tak ada lagi kayu, sementara harga semen semakin melambung?
komoditas kelapa sawit itu baik,namun sebagian orang membuatnya jadi tampak kurang baik. perkebunan kelapa sawit itu padat karya loh, banyak tenaga kerja dibutuhkan dan mereka digaji secara proporsional (tergantung perusahaannya. anda harus menyadari adanya seleksi alam dalam usaha, knp kelapa sawit banyak diusahakn sekarang? jawabnya karena masayarakat menyadari (byk bukti) kelapa sawti menyejahterakan, kalo tidak buat apa mas susah2 membangunnya (CPD). lalu kenapa kooditas lain tidak diusahkan semisal karet, madu damar,padi?karena tidak meyejahterakan petani, masa' mas menyuruh kami mengusahakan tanaman itu, modalnya besar harga jualnya murah. walau bagaimanapun, keseimbangan antara hutan dan kebun sawit itu adalah penting (harus ada regulasinya).
kesejahteraan sawit bagi masyarakat itu hanya sebuah fatamorgana. kebun plasma hanya diberikan 2 ha/KK. hasil riset akademisi Unmul menyatakan tingkat pas-pasan untuk petani adalah 8 ha/KK.
beberapa riset yang menemukan penurunan pendapatan masyarakat di areal yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit juga sudah banyak.
berkaitan dengan komoditi yang lain, siapa bilang karet harganya rendah? karena kemudian karet tak mampu dikuasai oleh korporasi, maka kemudian korporasi tak mau membudidayakannya secara luas. padi merupakan kebutuhan hidup dasar rakyat negeri ini bung, jangan diabaikan ini. karena saat ini krisis beras sudah terjadi, karena terlalu banyak lahan dikonversi menjadi perkebunan besar kelapa sawit dan pertambangan.
anda benar kesejahteraan itu hanya sebuah fatamorgana bila kebun plasma 2 ha/kk, namun saat ini pemerintah melalui bank memberikan Kredit Kepemelikan Kebun 4 ha/kk. berdasarkan hasil riset seperti yang anda katakan, mengapa anda dan lembaga anda tidak memperjuangkan angka 8 ha/kk saja( 8 ha = 8 juta/bulan bro) dan saya kira itu lebih baik dan membangun. kalo komoditi karet fluktuasi harga cukup tinggi dan pemungutan hasil lebih sulit dibanding k.sawit bro. kalo padi saya setuju adan perkebunan padi. Tapi bro bagaimanapun juga kita ini orang Indonesia, kalo bisa kita berikan kritik dan masukan yang membangun bro. jangan kita ulangi lagi kesalahan masa lalu negara kita seperti pada masa pemerintahan Sukarno yang ingin menjadikan NKRI menjadi INDONESIA RAYA seperti INGGRIS RAYA dengan menaklukan semenanjung Malaysia dan seluruh kepulauan Kalimantan serta Papua, tapi karena adu domba pihak luar negeri bermusuhan lah kita dengan PKI yang notabene saudara kita yang telah difitnah, maka berantakn lah cita-cita INDONESIA RAYA.
Sekarang AYO... semua pihak berikan masukan dan kritikan yang membangun dan menawarkan solusi terhadap semua masalah dengan satu cita-cita baru NKRI yaitu NEGARA ADIDAYA INDONESIA..!!!!! hidup dan jayalah bangsaku sampai kiamat tiba........
pertanyaan: sudah berapa banyak produk turunan CPO yang diproduksi di dalam negeri? berapa banyak CPO yang diekspor? adakah skenario untuk memindahkan teknologi pengolahan CPO ke negeri ini? mari belajar dari perjalanan minyak bumi indonesia.
untuk sawit secara komoditi, sila dibedah lagi lebih mendalam dari aspek ekologi tanaman. anda akan menemukan sesuatu yang menakjubkan.
untuk karet, apa yang mendasari bahwa ia sulit dipungut hasilnya? pernahkah anda melakukan pemanenan sawit di usia 10 tahun? mana yang lebih sulit dipungut hasilnya?
angka 8 ha/KK bukan tak diperjuangkan. namun lebih baik komunitas kembali pada komoditi yang telah dikenal dengan baik dan juga menjanjikan kesejahteraan dengan lebih nyata.
Walah panjang juga debat na.
Sekadar untuk sama-sama direnungkan:
Persoalan utamanya bukan pada sawitnya kan? Tapi pada kesejahteraan, pada kontrak politik, pada penjarahan hutan berkedok kebun sawit, juga tentang industri babak selanjutnya dari CPO dan masalah ekologi.
Mari kita cermati
1. Kesejahteraan, mana hitung-hitungan pendapatan petani sawit yang katanya dirugikan? Setahu saya diawal-awal masa pembangunan kebun sampai pelunasan kredit memang penghasilan dari kebun plasma minim. Tapi bila kredit selesai dan kebun plasma sudah menjadi milik petani? Lain sisi selama masa pelunasan kredit, biasanya petani dikaryakan di perusahaan dan di gaji sesuai dengan standar (minimal UMR) Ini juga berarti peningkatan kualitas SDM. Dari gaji ada pajak, dari pendapatan perusahaan ada pajak. Lebih jauh, infrastruktur akan terbangun seiring dengan ekistensi perkebunan disuatu wilayah, fasilitas pendidikan dan kesehatan pun pasti ada.
2. Urusan kontrak politik. Semua udah pada tau gimana bobroknya mental dan moral SEBAGIAN aparat negara ini. Mestinya ini dong yang disorot lebih jauh. Ilustrai saya begini : Ketika investor mau menanamkan modal dan mengharapkan sebentuk surat yang bernama IJIN LOKAI, maka dimulailah kontrak politik itu. Belum-belum investor dah keluar dana padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebun tetapi pada akhirnya malah dibebankan pada budget pembangunan kebun. Belum lagi bila sebelumnya memang sudah ada "permainan mata" antara aparat dan pengusaha yang cuma mengincar potensi kayu? Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.
3. Kita ini KAYA tapi BODOH. Dari dulu bisanya cuma eksport bahan mentah. Saya setuju banget dengan upaya-upaya pengolahan lebih lanjut. Cukuplah belajar dari Kayu, Minyak dan Batubara.
4. Untuk ekologi, mana yang lebih baik, SAWIT vs LALANG?
Pada akhirnya mari kita melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh lalu ditimbang mana yang lebih banyak, dampak positif atau negatif. Karena apapun yang dilakukan manusia pasti akan menimbulkan kedua dampak itu secara bersamaan tetapi dengan kadar yang berbeda (Nothing's perfect).
Mas Timpakul, kepedulian anda sangat kami hargai. Semoga perbedaan pendapat bukan menjadi jurang tetapi menjembatani kemajuan. Amin
Salam,
gadbel
1. perkebunan besar itu sebuah masalah
2. komoditas kelapa sawit, juga merupakan masalah
ada penghisapan hara yang sangat tinggi oleh kelapa sawit, penghisapan air tanah juga cukup tinggi, perakaran kelapa sawit juga sangat merubah sifat tanah.
bila membandingkan, tidak perlu antara kelapa sawit dan ilalang. mari membandingkan antara kelapa sawit dengan karet ataupun kemiri ataupun kebun buah.
melihat persoalan harus secara menyeluruh. perbedaan... sebuah hal yang memperkaya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
Perbedaan pendapat adalah wajar:
Amerika menyerang Irak, menyedot minyaknya, sebagian dananya disumbangkan untuk membantu kampanye lingkungan di negara2 pesaing = katanya demokrasi. Di satu sisi Newmont, Freeport, Detroit, Catterpilar etc. etc. kalau diprotes maka mereka mengecam LSM itu sebagai teroris .... ihhhh... ngeri.
Paru2 yang tersisa di dunia ada di Brazil dan Indonesia; berapa luas ladang kedelai dunia? Sembilan kali lipat kebun sawit. Kedelai kalah bersaing? Silakan baca buku Confession of Hitman. Segala daya dan upaya dilakukan oleh mereka untuk menghadang laju penambahan produksi minyak sawit. Isu kolesterol di minyak sawit? Nggak terbukti.
Mas timpakul: thanks for this forum, kita dapat saling sharing pemikiran di sini. Semua info akan menjadi masukan. Pro - kontra pasti akan ketemu titik tengahnya: rakyat sejahtera, lingkungan lestari. Asalkan dari masing-masing pihak obyektif dan nggak gontok2an.
Saya dukung pengembangan perkebunan rakyat di Kaltim (jangan dibudayakan perladangan berpindah: asap!). Apa saja terserah komoditinya; sawit, karet atau apa yang penting lahan kosong kita tanami. Kalau umur kita nggak nyampe ya biar dipanen anak-cucu dan kita dapat amalnya di "sono". Mari kita tingkatkan produktivitas agar kita mampu terbebas dari kemiskinan.
Teman2 kalau nggak salah di Bali ada konferensi kelapa sawit dan lingkungan pada pertengahan November 2007, ada baikknya nengok. Masalah setuju atau tidak setuju ya terserah masing-masing.
pertemuan bali, november ini sepertinya ingin mengangkat isu lingkungan hidup di perkebunan besar kelapa sawit. dengan group besar perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menjadi host. RSPO diajak juga. WWF katanya hanya support namun bukan sponsor.. entahlah...
di luar itu, apakah kemudian permasalahan lingkungan hidup di perkebunan besar kelapa sawit akan terjawab? bagaimana implementasi Prinsip dan Kriteria RSPO? siapa yang telah melaksanakannya di lapangan? adakah dari Indonesia? HCVF saja sebagai sebuah instrumen kecil dalam RSPO, tak ada yang mampu menerapkannya. dengan dalih lahan semakin mengecil dan lain sebagainya.
benarkah perusahaan perkebunan besar kelapa sawit ingin agar lingkungan hidup lebih baik?
Teruskan Perdebatannya, biar dengan sendirinya akan keluar sisi negatif dan positifnya.
Thaks
Saya mau tahu siapa yang bisa menunjukkan dimana petani kelapa sawit di pulau Kalimantan yang gagal atau bangkrut...................
banyak tempat masih menghasilkan petani yang tidak pernah diberikan peluang untuk menegosiasikan harga TBS.
pertanyaan untuk anda: apakah ada perkebunan besar di kalimantan yang tidak menyebabkan bencana ekologi dan memiskinkan komunitas lokal?
Wah kalau masalah dampak ekologis, sebagai petani saya kurang paham, mungkin ada pihak lain yang tahu. Tetapi adalah kurang bijak kalau untuk menolak kehadiran perusahaan yang nyata2 membantu petani membuatkan kebun plasma sawit (terutama petani modal dengkul seperti saya ini) menggunakan alasan perusahaan menyengsarakan petani. Petani plasma sawit itu rata2 nggak punya lahan, jadi lahan yang dijadikan kebun sawit itu umumnya adalah tanah negara yang melalui ketetapan pemerintah mengharuskan perusahaan membuat pola plasma minimal 20% dari luas total. harga TBS ditentukan sepihak? Berapa coba harga TBS sekarang? Ingat harga ditentukan oleh kualitas TBS, umur tanaman, asal bibit, rumus dari Dirjenbun, lokasi kebun, dll. Yang ada justru petani plasma banyak yang ngemplang: menjual TBS ke perusahaan lain dan tidak mau membayar utangnya...... JANGAN JUAL KERINGAT PETANI DEH....
hmm... petani? wah... selamat ya....
dari bahasanya tidak menunjukkan sebagai seorang petani.....
juga... sebagian besar kawasan yang dijadiin plasma di kalimantan adalah tanah perladangan dan wilayah kehidupan komunitas lokal. setelah perusahaan datang, mengambil "paksa" lahan, dan "memberi" 2 hektar, dengan sebuah perjanjian kredit yang harus dilunasi hingga 15 tahun, yang tak pernah bisa lunas hingga kelapa sawit tak lagi menghasilkan buahnya....
sekali lagi... selamat untuk kawan archie...
Inilah....persepsi kebanyakan orang, memangnya petani itu orang bodoh, tidak terpelajar? Terus terang saya adalah petani kelapa sawit (anggota plasma salah satu perkebunan di Kalimantan, yang dulu hanya bermodalkan fotocopy KTP dan KK saja). Selama 11 tahun kredit saya sdh lunas, sdh konversi dan sekarang pendapatan saya rata-rata Rp. 6 jta/bln dari 1 kapling kebun saya. Orang2 dari Jawa dan Medan justru mau membeli kebun saya Rp. 55.000.000,-. Tidak percaya???
Petani sawit ternyata lebih tenang. Dulu saya pernah kerja di Samarinda di konsultan AMDAL yg katanya sih bosnya dosen2 UNMUL. Tapi saya berhenti karena lain ditulis lain di kenyataan, ujung-ujungnya duit. Lalu saya merantau ke Jakarta........ wah .... sengsara........deh. Akhirnya saya ketemu teman lama yang mengajak saya pulang kampung, untuk apa di Jakarta kalau hanya jadi kasta Sudra...... untung di kampung sedang ada perusahaan yg ada program plasma, dengan modal KTP dan KK saya daftar... dapat satu kapling (2 ha). Sekarang kaplingan sawit mahal lho... di daerah Tanah Bumbu Kalsel, lahan yang baru mau ditanami plasma sawit sekarang satu kapling sudah 6 jt. Yang sdh ditanami 10 jt, yg sdh mulai panen 15jt. Dan yang sudah lunas kreditnya sdh di atas 50jt/kapling.....
Memang awal2 dulu penghasilan plasma cuma Rp. 50rb/bln, tetapi setelah sawit berbuah maka hasilnya naik hingga Rp 6jt/bln.
Kalau ada info petani yang mau jual kebun sawitnya maka saya bersedia membeli.
Salam..... Archie (Tenggarong).
saya tidak pernah mengatakan bahwa petani bodoh... karena keyakinan saya, tidak ada kelompok masyarakat lokal yang bodoh...
baguslah, kalau anda sudah mampu menghasilkan 6 juta/bulan. banyak kawan-kawan di Paser, Kutai Timur, Kutai Barat dan tempat lain di kalimantan yang kehilangan lahannya karena masuknya perusahaan perkebunan besar di wilayahnya. Juga di Jempang dan Tanjung Isuy, yang tak jauh dari Tenggarong..
sekali lagi, selamat untuk anda...
Wah kalau ada penyerobotan lahan ... ya itu kriminal. Tapi setahu saya kalau ada yang menyerobot yang bisa ditangkap. Tapi paling tidak sebagai petani kelapa sawit saya sudah merasa puas dengan hasilnya. Makanya kalau ada petani sawit yang rugi, tolong beritahu saya dimana, nanti akan saya datangi apa benar atau hanya berita yang dtidak benar dan dibesar2kan. Kan malu gembar-gembor petani sawit katanya tertindas atau rugi, padahal kenyataannya sebaliknya. Hari ini saya mendatangi petani sawit yg dari Tenggarong hanya berjarak 12 km. Kebun sawit yg belum berbuah miliknya sdh ditawar orang Rp 20jt/ha.....tapi dia tidak kasih.
Untuk Kutai Timur dan daerah Jempang setahu saya masalahnya adalah tumpang tindih kepemilikan lahan, baik antara perusahaan sawit dg perusahaan sawit, antara perusahaan sawit dg perusahaan batubara, antara masyarakat lokal dg perusahaan, antara perusahaan dg transmigran dan antara transmigran dg masyarakat lokal (ruwet). Jadi masing2 mengaku sebagai pihak yg sah memiliki lahan, sehingga satu bertindak akan dikatakan menyerobot oleh pihak lain. Kalau ini mungkin disebabkan oleh pemberian ijin dari pemda setempat yg administrasinya tdk akurat dan hanya dr atas meja saja (mungkin lho). Tapi saya tidak ambil pusing, itu tugas pemerintah daerah untuk menyelesaikan, takut nanti malah saya dibilang propokator. Saya sekarang kumpul-kumpul duit buat beli tanah dan nanam sawit. Ada yg mau gabung? Ayo. Nggak mau gabung? Sesal kemudian tiada gunanya. Tanam karet juga boleh... tapi 6 tahun nunggu hasilnya. kalau sawit cuma 3 th.
tahukah berapa biaya re-planting kebun sawit? berapa kali bisa melakukan re-planting di kebun yang sama? berapa lama proses pembusukan akar sawit bila tidak diangkat dari kawasan kebun? berapa banyak penurunan air tanah bila ditanami sawit pada lahan tersebut? sudahkah kawan berhitung tentang masa depan kehidupan di kawasan tersebut?
haruskah anda hidup sendiri di sebuah kawasan, tanpa pernah ingin tahu bagaimana makhluk yang lain dapat terus berkehidupan. semoga sukses menyertai anda.
Kok pembahasannya berubah arah... saya hanya mau meluruskan bahwa petani kelapa sawit saat ini untung. Kalau masalah ladang sawit yg akan datang saya tidak berani mengira-ngira. Tapi kata teman saya yg dari Medan, di sana ada perkebunan yg sudah 4 kali bongkar sawit di ladang yg sama, ladangnya tetap subur dan tdk ada padang pasir, tidak ada kekeringan, tidak ada banjir.
Saya tidak sendiri, banyak petani sawit yg lainnya yg sukses. Dulu mereka sebagian besar kerjanya ngglondong (ilegal loging kata orang), tapi dg sawit mereka sekarang nggak ngglondong lagi dan sejahtera. Truk mereka sekarang kerja ngangkut buah sawit. Di lain sisi, Bukit Suharto dirambah oleh petani padi, dua kali musim padi sdh tdk subur, lalu mereka merambah ke hutan di sebelahnya. Begitu seterusnya.
Saya kurang paham kalau dg penduduk yg tambah terus tetapi tidak diimbangi dg penambahan pencarian nafkah. Apa kami harus kerja di kota agar tidak membuka lahan? Menurut saya tanaman sawit adalah yg paling baik untuk kesejahteraan sekaligus mencegah perambahan hutan karena perladangan berpindah. Atau saya gabung lagi dg orang2 yg munafik, lain di mulut lain di hati, ujung-ujungnya duit.
dimana ada di Sumut yang sudah 4 kali bongkar sawit di tempat yang sama? Kawan-kawan petani di beberapa wilayah di Sumut hingga saat ini masih terus ditekan oleh perkebunan sawit disana.
Petani sawit saat ini untung, hanya karena harga CPO dunia sedang meningkat, berkaitan permintaan untuk kebutuhan Biofuel. Tapi kebijakan Eropa sudah berubah, biofuel akan dikurangi yang berasal dari sawit. Dampaknya akan kembali ke petani, dimana harga TBS bisa jadi kembali ke harga Rp 300/kg. Produksi kebun sawit di kaltim termasuk lebih rendah dibandingkan produksi sawit di Sumatera.
Tanah kalimantan ini beda bung. Tanah miskin hara dan lapisanya tipis. berbeda dengan jawa dan sumatera yang merupakan tanah vulkanis. Makanya komunitas lokal kalimantan menggunakan sistem gilir balik untuk perladangan dengan masa bera untuk mengistirahatkan lahan. dalam sistem ini, lahan tak semata ditinggalkan, namun juga terdapat jenis-jenis tanaman yang ditanam sebelum di-bera-kan.
Sudah terlalu banyak kebun, simpukng, lembo dan kawasan kehidupan rakyat Kalimantan yang dipaksa digusur oleh perkebunan besar kelapa sawit. Sudah begitu banyak aliran sungai yang dicemari oleh pabrik pengolahan CPO.
Namun bila kawan sudah bertani sawit dan meyakini itu sebagai sebuah kebaikan, lakukanlah. Juga jangan hanya sekedar pasrah dengan harga TBS yang ditentukan pabrik, berjuanglah untuk memperoleh negosiasi yang adil untuk harga TBS. Karena bisa jadi dua tahun mendatang, harga CPO dunia akan turun, sehigga harga TBS bisa kembali di bawah Rp 500/kg.
kalaupun pilihan komoditi, jangan hanya sekedar melihat satu-dua kali masa tanam. berpikirlah bagi generasi yang lebih panjang. walaupun tak ada yang pernah tahu hingga kapan dunia akan berakhir.
Kalau di Medan itu kata teman saya gitu....... kebunnya sudah ada sejak 100 tahun yang lalu dan sekarang masih ada katanya.
Hasil sawit saya Rp. 6jt/bln = 24 ton/ha = sama dg di sumatra. Asal dipupuk, kata penyuluh: tanah itu hanya media, jadi kalau dipupuk ya subur. Kata dosen Unmul juga gitu.
Aneh... banyak perusahaan besar di Kaltim ternyata pemiliknya orang barat. Apa kami nggak boleh nanam tapi mereka saja yg nanam? Dan selagi manusia masih memakai minyak goreng maka harga sawit akan tetap baik.
Untuk yg akan bertani sawit, inilah saran saya:
1. Tanamlah sawit dimana sdh banyak pabrik di sekitar lokasi, jadi harga akan bersaing.
2. Tanamlah bibit asli, dapat dibeli di Samarinda seberang, PT Lunsum atau PT lainnya
3. Cari yg dekat jalan, jangan buka hutan. cari yg dibelukar. Agar mudah mengangkutnya.
4. Kalau tidak jelas, tanya ke petani sawit yg lain yg sdh berhasil,.... jangan terpengaruh pendapat orang yg nggak ngerti,
malah puyeng nanti.
5. Kalau nggak punya modal, gabung saja ke plasma.
6. Selamat bertani.
ya.. selamat...
To archie
Pak archie .. saya sgt tertarik untuk membeli lahan sawit didaerah kalimantan tengah (pangkalan bun) .. sy ditawari harganya 27 jt untuk 1 kapling (2 ha) umur 5-6 th.. menurut pak archie bgmn ? dan ada satu lg pilihan umur 10 tahun 55 juta .. nah lbh baik ambil yg mana yah ? berhubung sy kurang memahami sawit ini .. tp sy sangat tertarik .. krn saya ingin pulang kampung saja .. jikalau hasilnya menggembirakan .. makasih banyak pak archi .. kalo bisa via japri saja ... irianti.pbu@gmail.com..buat TIMPAKUL .. sorry yah .. pake blog bpk ... tp nggak pa pa kan siapa tau berguna buat yg lain .. thanks ya kalo dimuat
Antie
To : Pak archie ..
Pak ini saya serius bgt lo .. saya itu org kalimantan tengah .. tp sekarng merantau di jakarta .. (yah kerja ikut org gt d) .. tp sepertinya koq kurang menghasilkan .. krn saya seperti diperas sj tenaganya .. (dr jam 9 pagi .. pulang kerumah jam 8 mlm) cape en tua di jln .. kalo saya bisa bertani dan hasilnya lbh baik kan mengapa tidak ? toh hasilnya dinikmati baik saya dan keluarga ...maap ya buat Pak TIMPAKUL ... koq kesannya sy jadi curhat .. maap ya pak .. btw thanks bgt buat dimuat tulisan sy
Antie
kali ini dimaafkan.. berikutnya saya yang minta maaf untuk tidak memuat komentar serupa...
Buat Sdr. Antie:
Sebenarnya kebun plasma peruntukannya untuk petani yg kondisi ekonominya kurang, atau memang dia itu petani tulen. Tapi kalau Anda memang mau bertani, maka tidak ada salahnya punya kebun plasma juga. Kalau sudah kaya ya kasihanilah yang lain.
Untuk tanaman umur 5-6 tahun pasarannya saat ini sekitar 25 jt/kapling, bisa lebih tinggi atau lebih rendah. untuk Pangkalan Bun, plasma yg termasuk tinggi pasarannya adalah plasma PT KSK dan PT HS. Untuk yg baru plasma PT BGA juga ok. Sedangkan plasma yg pasarannya agak kurang adalah PT MEA, PT Gemareksa, PT Indhasana dan PT SR
(Sampoerna Agro). Tapi untuk tanaman yg baru, rata-rata ada peningkatan kualitas.
Plasma umur 5-6 th berarti belum konversi, artinya si petani belum melunasi kreditnya dan sertifikat tanahnya masih di bank. Risikonya adalah kalau si petani nantinya mengambil alih lagi lahannya dg berbagai cara maka akan bermasalah. Sebaiknya kalau mau beli:
1. Harus diteliti apakah lahannya bermasalah atau tidak. Di beberapa lokasi banyak kebun sawit milik transmigran yg
diclaim oleh penduduk asli. Ada pula dalam 1 kapling hanya tertanami 0,5 ha, sisanya rawa atau pasir.
2. Jual beli harus dilakukan secara tertulis di atas materai, diketahui oleh kepala desa, saksi-saksi dan camat.
3. Harus menjalin hubungan yg baik dengan pengurus KUD, sebab mereka yg membagikan SHU.
Untuk yg berumur 10 tahun harganya memang segitu (sudah lunas atau hampir lunas). mana yg terbaik? sekarang tinggal berapa modal yg Anda siapkan dan berapa hasil bulanan yg Anda harapkan. Inilah ilustrasinya:
Umumr 5-6 tahun (masih menanggung hutang 6 th lagi):
1. Hasil SHU tahun ke-1 = Rp. 450.000,-/buan = Rp. 5.400.000,-/th
2. Hasil SHU tahun ke-2 = Rp. 750.000,-/bulan = Rp. 9.000.000,-/th
3. Hasil SHU tahun ke-3 = Rp 1.000.000,-/bulan = Rp 12.000.000,-/th
Artinya modal Anda akan kembali dalam 3 th. Selanjutnya Anda akan menikmati hasil yg jumlahnya semakin besar selama 18 tahun lagi.
Untuk tanaman yg telah berumur 10 th (lunas atau hutang tinggal 1 tahun lagi):
1. Hasil SHU tahun ke-1 = Rp. 2.500.000,-/bl = Rp 30.000.000,-/th
2. Hasil SHU tahun ke-2 = Rp. 4.000.000,-/bl = Rp. 48.000.000,-/th
Artinya modal Anda akan kembali dalam 1,5 th. Tetapi umur tanaman Anda sdh 12 th, sehingga tinggal 13 th lagi menikmati hasil.
Kalau melihat hitungan di atas seolah2 yang berumur 10 th lebih untung (cepat balik modal dan hasil per bulannya tinggi). Tapi harus diingat bahwa nilai kebun kelapa sawit dari tahun ke tahun meningkat sangat cepat; misalnya tanaman umur 5-6 th harganya per kapling tahun lalu sekitar Rp. 12.500.000,-/kapling, naik 2 x lipat tahun ini menjadi Rp. 25.000.000,-/kapling. Jangan bingung di sini antara nilai penghasilan penjualan buah (SHU) dengan nilai harga kebun, mungkin seperti portofolio gitu. Selain itu, peluang adanya kebun yang dijual itu semakin lama semakin sedikit karena petani semakin tahu betapa untungnya memiliki kebun sawit.
Kalau dana Anda cukup (misalnya ada Rp. 100.000.000,- saya sarankan beli yg masih berumur 5-6 tahun maka akan dapat 4 kapling). Di PT BGA (daerah Kec. Kotawaringin Lama) saya dengar harganya masih murah sekitar 10 jutaan/kapling tapi masih buah pasir. Kalau di daerah Kalsel harga sudah naik gara-gara diserbu oleh para petani dari Sulawesi dan Medan yg telah lebih dulu merasakan untungnya berkebun sawit.
daripada tiap hari macet di tol Pondok Gede / cawang, lebih baik bertani saja (Kastanya naik dari Sudra ke Ksatria). Kalaupun tetap mau di Jakarta ya demi untuk menyekolahkan anak-anak saja. Semoga sukses.
Kalau kurang jelas silakan hub saya di archie_anisa@yahoo.co.id
Pak archie koq emailnya nggak bisa yah ??? aku td coba emali bpk .. tp koq mental lagi yah .. disitu tulisannya failed permanently ... gimana tuh pak archie ...
Pak ke Hp aja bolehnggak ? maksudnya saya telp ke HP Bpk saja ... HP saya 0813 8067 3801 .. Bpk miss call aja ato sms .. nanti saya telp .. thanks yah .. abis udah berbagai macam email nggak bisa juga mental terus dari tadi ... aku juga bingung nih knp jd gitu yah
Sdr. Antie silakan hubungi oranghutan15@yahoo.com
buat kawan2, sekedar tambahan aja..
sawit itu memang bagus demi unuk penambahan devisa, tapi apa jadinya kalo demi untuk menjadi negara pengekspor sawit terbesar di dunia, tapi HUTAN ALAM di indonesia abis di babat, HUTAN GAMBUT di konversi, Hutan itu kan paru2 dunia, apa lagi hutan gambut. hutan gambut itu adalah penampung CO2, tapi demi menjadi pengekspor terbesar, lahan gambut di konversi, dan parahnya lg dengan cara di bakar, justru malah melepaskan CO2 ke udara, sehingga menjadi salah satu faktor global warming. dan juga walaupun menjadi pengekspor minyak sawit terbesar toh harga minyak goreng tetep aja mahal, coba kalian tanya ISTRI atau IBU kalian.. karena yg mendapatkan keuntungan itu ya hanya para pengusaha saja, dan parahnya lg perusahaan yg mendominasi adalah perusahaan asing, untuk contoh : Wilmar, Cargill, Golden Hope, etc... ada juga perusahaan yg memang itu berasal dari indonesia seperti SInar Mas Group yg banyak banget anak perusahaannya... dan juga salah satu yg dirugikan lg adalah masyarakat adat...
gw disini bukannya menentang sawit, tapi kita juga harus perhatiin elemen2 tersebut... jangan hanya melihat dari segi keuntungan yg sebenarnya justru malah merugikan..
PEACEFULL
Kalau boleh sekedar share,bukan bermaksud berpihak saya kerja di sebuah coal terminal di Pulau Laut Barat ( Kotabaru ) dimana areal sekitar banyak plasma sawit, dan fenomena ganjil muncul dimasyarakat yakni. penduduk lokal rame-rame menjual lahan plasma mereka seharga tergiur harga yang menurut mereka "menguntungkan".2 taun lalu saya membeli 2 kapling ( 2 ha ) @ 5 juta, dan drastis tahun ini harga 16-24 jt. dan hal ini membuat penduduk menjual plasmanya.
Secara humanis saya iba...dan kasihan mereka sungguh tidak mengerti bahwa sawit yang mereka jual nantinya akan bisa menjadi sandaran hidup...tp nyatanya mereka jual utk sekadar hidup makan.
dan hari ini saya baru transaksi 3 kapling yang masih belum produksi @ 10 juta.
Sebelum saya bayar saya jelaskan keuntungan sawit...namun mereka tetap ingin menjual krn himpitan ekonomi/tuntutan anaknya untuk dibelikan HP/motor baru.....sebuah ironi akibat kurangnya informasi/~kobodohan.
Bagi kawan-kawan yang ingin berburu sawit silakan datang ke Kotabaru-Pulau Laut Barat/lontar sebelum dibeli semua oleh cukong A hong yang tengah mengintai utk mencari 200 kapling....
Sebagai info harga variatif 15-27 juta.
Untuk info send mail to Kuncoro@ibt.co.id
Ayoooo bertani....agrobisniss will be king......in global chaos.
good luckkkk..
Masyarakat adat hidup dari hutan,air dan tanah, jika wilayah atau tanah yang mereka miliki di rampas buat perkebunan sawit kemana mereka akan mencari makan, perkebunan sawit hanya segelintir orang yang sukses dan tak sedkit yang menderita. Jika lahan yang di kelola lahan kritis yang hanya di tumbuhin ilalang apa salahnya di tanam sawit tapi bagaimana jika lahan yang di tanam sawit itu ada lahan perkebunan masyarkat adat bahkan hutan lindung di babat kayunya di ambil setelah itu di tanam sawit sungguh menyedihkan hutan di bumi Indonesia tercinta ini akan di hijaukan oleh sawit karena tidak ada resapan air maka bencanalah yang datang lagi2 masyarakat kecillah yang jadi korban. capekkk dechhhhhhhh
kavung's last blog post..Oleh - Oleh dari Singkawang
Saatnya kita beraksi:
1. Pengembangan kelapa sawit rakyat untuk lahan-lahan kritis saja, atau di areal yg telah dibudidayakan
2. Lahan gambut dan hutan tidak boleh dibuka untuk budidaya apapun (termasuk HTI),
3. LSM jangan koar-koar ke luar demi dollar, ayo kita berdayakan masyarakat secara nyata.
4. Hanya dengan sebuah Hand Phone baru (murahan) sebagian besar masyarakat adat di pedalaman mau melepaskan
berhektar-hektar tanahnya. HP seharga 750rb ditukar dengan lahan empat hektar... wah wah wah....
Salam
Mas Timpakul..,
Kalau liat diskusi yang ada saat ini, perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu momok yang sangat mengerikan karena dibarengi dengan adanya pembukaan lahan, yang tentunya akan mempengaruhi keseimbangan alam lewat hutannya. selain hal tersebut banyak persoalan yang ada didalamnya salah satu diantaranya dampak ekologis dari perkebunan kelapa sawit yang sudah dipaparkan dalam blog ini. Dalam diskusi ini juga terpapar mengenai kesejahteraan petani dari adanya aktifitas perkebunan sawit yang menurut mas Timpakul tidak menjamin kesejahteran petani itu sendiri..
Kalau bisa tau bagaimana dengan proses perijinannya khususnya untuk kalimantan timur, apakah selama ini mengenai perijinan kelapa sawit tidak bermasalah? sehingga kalimantan timur dijadikan salah satu basis untuk areal pengembangan kelapa sawit. Apakah ada konflik antara pihak perusahaan dengan penduduk dalam hal pembebasan tanah, bagaimana proses negosiasi ganti rugi dari pihak perusahaan dengan pemilik tanah?
mohon penjelasannya...Terima kasih
#fadli: sampai saat ini dari jutaan hektar perijinan, baru 10% yang melakukan penanaman. untuk pengambilan lahan, dilakukan dengan pola persuasif, yaitu negosiasi harga, yang bilamana gagal, pendekatan kekerasan dan penggunaan aparat dilakukan. konflik lahan masih terjadi di berbagai wilayah di Kaltim. dan proses negosiasinya dilakukan dengan tanpa keadilan, yang akhirnya komunitas lokal "dipaksa" menyerahkan kawasannya.