Sengonisasi, Jatinisasi, Sawitisasi, Berikutnya?

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

Kalimantan Timur memang sangat menjadi wilayah primadona bagi orang-orang yang rakus akan kayu. Hamparan hutan dipterocarpa yang sangat luas memicu ?air liur? untuk menetes serta membuat mata silau akan bayangan emas yang akan tertumpuk dalam pundi-pundi. Kekayaan alam yang tersimpan dalam keberagamannya telah menghidupkan puluhan generasi di negeri ini. Walau hingga saat ini, aroma kemiskinan masihlah terasa di berbagai tempat di wilayah yang katanya kaya.

Setelah mengalami dua kali musim banjir kayu (atau lebih dikenal dengan sebutan banjir kap), beberapa daerah di Kalimantan Timur telah menerima berbagai dampak bencana, mulai dari banjir hingga kekeringan, yang telah menghadirkan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya.

Di tahun 90-an, disaat kekuasaan masih terpusat di Jakarta, dengan nuansa ingin menghijaukan kembali lahan-lahan yang telah rusak, datanglah program ?sengonisasi?, dimana banyak pihak ditawarkan untuk menanam pohon sengon untuk kemudian akan dibeli di saat tahun kedelapan. Di saat itu, berlomba-lombalah berbagai pihak untuk menanam sengon dengan bayangan akan memperoleh keuntungan berlipat dari hasil tanaman mereka.

Belum juga sempat adanya penikmatan terhadap tanaman sengon, kembali setelah gelombang reformasi bergaung, jati super merambah Kalimantan Timur. Dengan berbagai promosi yang dilakukan menjadikan banyak pihak kembali tergiur untuk menanam pohon jati super.

Ketika sengon ingin dipanen, kenyataannya untuk menjual kayu sengon bukanlah hal yang mudah. Selain ternyata tidak adanya jaminan pembeli, harga jualpun dikuasai oleh pembeli, yang membuat banyak pihak melupakan mimpi indahnya di masa lalu.

Dan ketika jati super baru ditanam sesaat, begitu sulitnya menegakkan batang pohon jati yang selalu meliuk-liuk ditiup angin, hingga beberapa penanam jati harus juga bergelut dengan penyakit yang menyerang tanaman mereka. Kembali informasi yang sempurna belum menerobos ke benak pihak yang bermimpi meraih keuntungan besar, hingga akhirnya harus berandai-andai lagi.

Belum tuntas jati super merebak, saat ini kembali beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Timur bergelut dengan perkepalasawitan wilayah mereka. Berpuluh ribu hektar dicadangkan untuk investasi perkebunan besar kelapa sawit, hingga juga menebar janji berbagi keuntungan untuk masyarakat lokal. Studi banding dilakukan berulang kali, baik ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Tak terhitung anggaran rakyat yang harus dikorbankan untuk agenda jalan-jalan pejabat yang katanya ingin belajar tentang perkelapasawitan.

Perdebatanpun kembali mewarnai media lokal. Kelapa sawit selalu diidentikkan dengan daya tarik negeri jiran Malaysia yang telah menyedot ribuan tenaga kerja Indonesia. Aspek-aspek ekologis, sosial dan budaya pun harus mengalah dengan aspek ekonomi. Hitung-hitungan diletakkan pada angka-angka yang fantastis yang kembali menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Padahal banyak sekali pengalaman di berbagai daerah di negeri ini, hingga ke Malaysia maupun di negara lainnya. Bahwa perkebunan besar kelapa sawit telah menghabiskan hutan-hutan primer terakhir di permukaan bumi ini. Bahwa perkebunan besar kelapa sawit juga telah menghilangkan sumber-sumber kehidupan masyarakat lokal. Bahkan perkebunan besar kelapa sawit telah menimbulkan bencana ekologis bagi lingkungan hidup di sekitarnya. Namun sepertinya hitungan-hitungan kerugian ekologis masih selalu dikalahkan oleh hitungan-hitungan ekonomi sesaat.

Bila melihat ke Kabupaten Pasir misalnya, dimana daerah ini merupakan daerah yang telah dikembangkan sebagai areal perkebunan kelapa sawit, dimana kita bisa menyaksikan hamparan sawit di berbagai tempat, senyatanya juga belum memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat lokal. Untuk menjual tandan buah segar saja, para petani harus antre satu hingga tiga hari, yang tentunya akan menurunkan kualitas buah yang akhirnya menurunkan harga jual. Belum lagi ketika tidak ada lagi tanaman lain yang mampu menopang kehidupan sehari-hari disaat tidak memperoleh uang dari kelapa sawit, yang akhirnya menggiring petani pada lingkaran jerat hutang.

Bahkan saat ini petani sawit di Kabupaten Pasir sangat terpuruk dikarenakan produksinya menurun sangat drastis dari 33.625 ton menjadi 29.804 ton dalam empat bulan. Selain itu, kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya harga jual tandan buah segar kelapa sawit dari Rp 806,79 per kg menjadi Rp 581,56 per kg (lihat Tribun Kaltim hari Kamis 2 September 2004 halaman 21 kolom 4-7).

Ditambah ketika ternyata karakteristik tanaman kelapa sawit yang haus akan air, sukar terurai/membusuk, hingga memerlukan tambahan nutrisi (pupuk) yang cukup banyak. Ketika kelapa sawit mulai ditanam, maka telah terjadi perubahan aliran hidrologis, dimana akan terjadi peningkatan aliran air di permukaan tanah dan semakin berkurangnya penyerapan air oleh tanah. Hal ini akan berdampak pada pengurangan ketersediaan air tanah yang menjadikan kekeringan dan banjir akan semakin sering terjadi.

Dan ketika tanaman kelapa sawit yang sangat sukar membusuk mulai ditanam, hal ini menyebabkan lokasi tanaman sudah tidak dapat lagi digunakan, sehingga akhirnya harus ada lahan yang ditinggalkan lagi. Beberapa peneliti memperkirakan tanaman kelapa sawit hanya bisa melalui dua kali masa tanam, setelah itu sudah tidak mungkin lagi dilakukan penanaman pada lokasi yang sama.

Permasalahan nutrisi tambahan bagi tanaman kelapa sawit, tentunya akan menjadi sebuah beban bagi para petani sawit, dimana tingkat ketergantungan terhadap pupuk akan menjadikan lahirnya jerat ketergantungan pada pabrik produsen pupuk. Kembali jerat-jerat kematian menumpu pada petani sawit dan masyarakat lokal yang diniatkan untuk disejahterakan.

Beralih ke wilayah industri pengolahan minyak sawit (crude palm oil), maka tak dapat dipungkiri kemungkinan terjadinya pencemaran akibat tidak dikelolanya pabrik pengolahan dengan baik. Walaupun dalam promosi selalu disebutkan bahwa teknologi yang digunakan adalah teknologi yang ramah lingkungan dan terjamin keselamatan lingkungan hidupnya, namun tak dapat dipungkiri senyatanya masih banyak terdengar kejadian pencemaran di wilayah-wilayah pabrik pengolahan minyak sawit.

Lebih parah lagi, industri pengolahan hilir dari kelapa sawit masih sangat sedikit dimiliki oleh Indonesia. Hal ini menyebabkan tingginya angka ekspor minyak sawit mentah (CPO) dibandingkan dengan angka impor bahan-bahan hasil akhir dari sawit, seperti shampo, keripik, makanan beku sampai kosmetik. Produk-produk hilir dari kelapa sawit ini sangat tidak terperhatikannya perkembangannya, sehingga menjadikan Indonesia tetap tidak beruntung dari sisi ekonomi.

Masih dinantikan berikutnya, apakah akan masih ada berbagai agenda-agenda penanaman pohon massal yang didesakkan ke masyarakat demi kepentingan pebisnis semata. Mungkin saja berikutnya akan ada jengkolisasi ataupun niranisasi. Kesemua hal tersebut sebenarnya tidak akan bermasalah bilamana telah dimilikinya sebuah informasi yang utuh tentang sebuah gerakan penanaman pohon sejenis. Namun hal inilah yang belum pernah dilihat dan dikaji secara lebih serius, dimana akan berujung pada penumpukan dampak pada masyarakat yang selama ini telah termiskinkan.

Share/Save/Bookmark

Tukang mahalabiu

timpakul

menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan

seikung bamamay celotehan “ Sengonisasi, Jatinisasi, Sawitisasi, Berikutnya? ”

  1. dunia agrobisnis kita terkenal latah. pernah mengulas pohon pulai ga boss? aku baru belajar tentang tanaman yang satu ini.

    bumi sambaras last blog post..Chek Jawa

    [tanggapi]

Wadah bamamay

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Pian kawa makai tags XHTML nang ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>