Situs Berbasis Komunitas
By timpakul • Dec 20th, 2007 • Category: urai [
] - 446 dilihat -
Banyak orang yang terperangah ketika mengetahui angka yang disajikan untuk pengembangan sebuah situs promosi pariwisata Indonesia yang bernilai Rp 17,5 miliar untuk program tiga tahun. Mungkin sama terperanjatnya banyak orang ketika sebuah kabupaten di Sumatera yang membuat sebuah situs berbasis program tak berbayar dengan nilai Rp 2 miliar. Sebuah perguruan tinggi di Kaltim juga pernah memiliki proyek bernilai Rp 2 miliar untuk pembangunan jejaring internet, yang kemudian tidak ada keberlanjutannya. Bagi kalangan pegiat teknologi informasi, angka tersebut merupakan angka yang sangat luar biasa besar, dan harusnya mampu menjadi sebuah untaian pengetahuan raksasa bagi negeri ini.
Dalam sebuah pertemuan yang menghadirkan pembicara Onno W Purbo di Samarinda, pernah ditanyakan, apa yang akan dilakukan oleh seorang Onno ketika memiliki uang Rp 2 miliar untuk sebuah pengembangan pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)? Beliau menjawab dengan singkat, “menerbitkan lebih banyak buku”. Buku pengetahuan berkaitan TIK, termasuk bagaimana pengembangan jejaring informasi berbiaya murah.
Bagi kalangan pemerintah, mungkin sebuah nilai proyek yang miliaran rupiah tersebut masih merupakan angka yang sangat kecil. Walau kemudian masih terlampau kecil anggaran negara yang dialokasikan untuk kepentingan rakyat, utamanya sektor pendidikan dan kesehatan. Pemerintah mungkin perlu kembali mempertimbangkan sebuah pengembangan TIK yang lebih murah, termasuk untuk sebuah promosi kewisataan tanah air ini.
Kondisi TIK yang berkembang sangat cepat tak akan mampu terkejar oleh sebuah skema pengembangan yang berjalan lamban di negeri ini. Perspektif dan cara pandang yang selalu mengharuskan sistem informasi dikelola dari satu titik, takkan mampu menjadi sebuah jawaban terhadap perubahan yang terus terjadi. Pemerintah, atau lebih tepatnya pelayan publik, harus kembali mereposisi dirinya dalam ruang yang tepat, termasuk dalam hal pengembangan TIK di negeri ini.
Sebuah situs yang mempromosikan wisata di negeri ini telah begitu banyak bertebaran. Sebagian besar dibangun secara individu oleh publik negeri, sebagian kecil dibangun oleh kelompok pebisnis, serta sangat kecil sekali yang dibangun oleh pelayan publik. Dari kondisi tersebut, pelayan publik harusnya mampu menjadi fasilitator yang baik, dengan tidak mengucurkan anggaran yang berlimpah hanya untuk pengembangan sebuah situs wisata, namun lebih pada pengembangan sebuah layanan interaktif, yang menyediakan ruang bagi publik untuk mengisi konten dalam situs, sehingga kemudian anggaran yang dikeluarkan negara hanyalah pada kepastian adanya jaringan internet, keampuhan tempat situs dalam terus hidup, serta sekelompok kecil orang yang cepat tanggap menghadapi “peperangan” di dunia maya.
Kalangan pegiat TI saat ini telah sangat maju dalam mengembangkan web 2.0, dimana sebuah situs menjadi sebuah ruang interaktif yang antara publik yang melakukan kunjungan di situs tersebut. Banyak sekali konten-konten yang dikembangkan oleh para penulis dari publik. Sebuah situs, kemudian dapat memberikan ruang tersebut pada sebuah titik, hingga memudahkan bagi pengunjung baru untuk dapat melakukan pelacakan cepat terhadap informasi yang dibutuhkannya.
Para penulis weblog (blog) pun hingga saat ini tak sekedar menjadi seorang penulis buku harian semata. Jurnalisme publik mulai terbangun oleh para penulis blog. Di masa datang, arus informasi tak akan lagi mampu dibendung oleh sebuah regulasi sekalipun, karena kemudian teknologi yang dimiliki oleh setiap orang di belahan dunia semakin mudah dan memudahkan.
Pelayan publik, tak perlu lagi mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk pengembangan sebuah situs, sehingga anggaran dapat dikonsentrasikan pada bagian pengadaan jejaring internet murah bagi publik, penyediaan server yang terbuka, hingga pada fasilitasi pengembangan pengetahuan bagi publik. Anggaran tersebut kemudian juga dapat dialihkan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan, utamanya pendidikan dan kesehatan publik.
Situs berbasis komunitas (web 2.0) merupakan sebuah kondisi yang mau tidak mau akan terus berkembang di masa mendatang. Pergerakan informasi dan kebutuhan informasi menjadikannya sebagai sebuah hal yang menemani sarapan di pagi hari. Pelayan publik pun tak akan semakin direpotkan dengan berbagai birokrasi untuk penyerapan aspirasi publik. Transparansi dan akuntabilitas pemerintahan dapat terbangun dengan lebih baik dan berbiaya murah.
Situs berbasis komunitas merupakan sebuah jawaban atas sebuah kegelisahan akan proyek-proyek pembangunan website promosi oleh pemerintah yang berbiaya tinggi. Dengan melibatkan publik, negeri ini akan semakin menguat dan pemerintah juga dapat memberikan layanan yang lebih baik bagi setiap publik di masa mendatang.
Random Posts
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul




Salam kenal
Setelah mengetahui mengenai situs 17,5 Miliar itu saya jadi sempat berpikir mengenai ide mengenai situs komunitas untuk pariwisata Indonesia. Soalnya pasti lebih konkrit dari situs-situs pemerintah. Pas banget ada tulisan ini.
Jadi menurut mas apakah kita harus menunggu pemerintah membuat situs komunitas itu, atau akan ada individu lagi yang membangun situs seperti itu? Atau malah sekarang udah ada situs seperti itu?
beberapa blog dan situs bercerita tentang wisata, namun belum ada sebuah situs yang mengumpulkannya menjadi sebuah situs nusantara.... menarik bila ada yang memulai... ^_^
temen saya ada yg baru buat (masih dummy) sih .. http://www.goingtoindonesia.com
rasanya konten sudah sangat banyak kok, dengan mengandalkan konten YouTube, Flickr, Slideshare, posting di blog, semuanya skrg dengan mudah bisa diagregasi. Kalau mau buat website pariwisata yg berbasis Web 2.0, sbg start awal nggak perlu membuat konten2 baru. Manfaatin aja data2 yg sudah ada.
Saya juga heran, rasanya kalo mau cerita ttg wisata Indonesia dgn konten yang kaya, akan lebih baik n lebih familiar bagi user kalau dibuat dalam format wiki, bukan spt website 17 milyar itu sekarang..
mudah-mudahan segera di laksanakan secepatnya demi kmajuan kita bersama
Thanks, Pitra atas reviewnya mengenai GoingToIndonesia.com ,mampir yuk ke GoingToIndonesia.com , yang mau bantu-bantu css/ layout juga boleh, nanti namanya saya cantumkan di halaman kontribute
Kukuh TW
Wow! Tapi saya tidak tahu apakah harga segitu hanya untuk sebuah situs saja atau sekaligus harga maintenance dan infrastruktur, termasuk perangkat lunak dan keras yang akan dikerahkan untuk misalnya seluruh instansi terkait di seluruh propinsi? Mungkin ada matematika yang harusnya bisa dipertanggungjawabkan.
Misalnya, bila bukan software opensource, berapa harga abonemen atau pembelian lisensinya? Bila satu instansi per propinsi membutuhkan 10 perangkat keras, dikalikan dengan misalnya Rp 4jt, dan kita kalikan lagi dengan 33, doh berapa sih jumlah propinsi kita sekarang? Bila harus memiliki perangkat server sendiri, berapa harganya sekarang? Berapa bayaran untuk tenaga ahli dan konsultannya per bulan? Dll. Pertanyaannya, apakah pemenang proyek, bila ditenderkan, wajib mempublikasikan dapurnya ke publik atau hanya harus diaudit pihak berwenang? Mungkin juga ada komplikasi di situ.
Sekadar sebuah perbandingan, selama kwartal pertama dan kedua saja, untuk sebuah situs Jaringan Blog Indonesia, kami telah mengalokasi dana sebesar Rp 6 T (tepatnya: enam tratus delapan puluh lima ribu rupiah). Dengan biaya sebesar itu, situs kami masih memiliki kemampuan skalibitas yang tinggi.
Mohon maaf, kendati rada bercanda dan mencoba netral, saya hanya ingin menangkap detail sebelum menarik pedang konklusi.
Cheers!