s.u.a.p
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
“beri saja amplop, gampang kan!” diantara relung kantor penegak hukum.
kebiasaan memberi amplop kepada yang berbahagia atau bersedih telah menjadi sebuah proses kehidupan. mulai dari pengurusan k.t.p. hingga ke urusan penegakan hukum. kantong para staff yang melakukan proses penegakan hukum ataupun yang memiliki kewenangan atas perijinan selalu terbuka lebar untuk menerima amplop.
dampak negatif tak hanya akan dirasakan oleh rakyat yang harusnya menikmati pelayanan yang mudah dan berkualitas, namun juga pada keberadaan hutan di negeri ini. bila saja dihitung nilai sebuah amplop memang tak akan seberapa, namun dalam proses pembuatan amplop sangat berlimpah limbah dan menghabiskan tegakan pepohonan. belum lagi untuk mengisi amplop, memerlukan lembar uang yang diambil dari buah “mencuri secara legal” kayu-kayu dari hutan negara.
suap. memang telah dibiasakan sejak masa kanak-kanak. sangat menikmati saat menerima suapan di saat muda. sambil bermain, sesekali mampir ke sang ibu untuk menikmati menu pagi hari. ketika beranjak dewasa, kebiasaan menerima suap menjadi sukar untuk dilepaskan. sambil bermain, sesekali mampir ke pengusaha untuk menikmati menu siang hari. adakah solusi agar tak disuap? mengurangi interaksi orang-per-orang, antara yang memberikan pelayanan dengan yang melayani, menggunakan teknologi informasi, sistem perbankan online, akan mengurangi suap. walau tak mungkin memberangusnya dalam waktu singkat.
tak penting suap !










Wadah bamamay