(e)-leaderships

environment, education and information technology
Google

Negeri yang Menangis

By timpakul • 28 Feb 2007 • Category: urai [ Cetak celoteh ] - 251 dilihat

Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post
 |  TrackBack URI for this post

jeleklumayanbiasa ajabaguskeren banget (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kesedihan berkelanjutan tengah dihadapi negeri ini. Sebuah negeri yang berlimpah aset-aset alam yang sedang berada di tengah hempasan bencana ekologi. Nyawa sudah tak lagi berharga. Setiap jejak langkah dapat menghadirkan kematian. Penderitaan anak negeri pun bergelimpangan di setiap tapak kaki.

Bisa jadi tak ada yang salah dengan arah membangun negeri. Buah-buah pengerukan aset-aset alam telah dirasakan oleh sebagian kecil penghuni negeri. Ketimpangan perekonomian terjadi. Konglomerasi membudaya dan menguasai ruang kehidupan. Satu persatu penyangga kehidupan rakyat runtuh menghujam bumi.

Persoalan ekonomi, kelangkaan bahan pangan, tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, penggusuran, meningkatnya pekerja seks komersial, ruang tahanan yang tak lagi mencukupi, serta rangkaian kejadian bencana ekologi, sepertinya bukan lagi saatnya diselesaikan secara parsial. Dasar utama permasalahan tak pernah disentuh oleh pemimpin negeri. Politikus tengah menari di atas tangisan negeri.

Mungkin setengah abad kemerdekaan negeri ini belum jua cukup untuk menjawab pertikaian kepentingan kelompok di negeri ini. Keinginan untuk menguasai dan menjajah sesama anak negeri masih mengikat kuat. Partai politik menjadi sebuah kendaraan nyaman menuju medan pertempuran. Media massa berkutat diantara pertarungan, demi keberlanjutan kehidupannya.

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh rakyat, selain tetap menyibukkan dirinya dalam ruang bernegara, dan sesekali menyaksikan tayangan kekerasan, mistis dan kebodohan di televisi untuk menghibur diri. Biaya pendidikan dan kesehatan yang masih tak terjangkau menjadikan rakyat harus berlomba-lomba me-Tuhan-kan keping uang.

Pondasi kehidupan di negeri ini akan semakin dihancurkan atas sebuah kepentingan kelompok kecil penguasa negeri. Sementara kepentingan pemodal terus menguatkan cengkeramannya di setiap ruas wilayah negeri ini. Saat ini, seakan tak ada lagi celah negeri ini yang tak lagi di bawah kendali kekuatan pemodal, sebuah tangan yang tak terlihat.

Berbalik pada kesejarahan kelahiran negeri ini, begitu banyak darah dan air mata yang mengaliri anak-anak sungai dalam jalan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Berkumpulnya para pemikir muda untuk meraih kebebasan berkreasi di negeri inipun saat menggelar persiapan kemerdekaan, saat ini telah berubah arah menjadi sebuah perkumpulan pemuda yang tanpa arah.

Hilangnya beberapa catatan kesejarahan negeri ini (yang sengaja dihilangkan) telah menjadikan arah negeri ini tak lagi pada jalan yang sejatinya. Penguasaan yang cukup kuat dari kepentingan asing, semakin tak terkendalikan. Menghamba pada kepentingan pasar telah menggeliat dalam setiap ruas sendi kehidupan.

Negeri yang menangis saat ini sudah saatnya melakukan pengembalian memori pada cita berdirinya negeri. Bukan pada penguatan terhadap sistem feodalistik, namun lebih pada bagaimana anak negeri dapat memiliki kesejahteraan dalam berkehidupan. Jaminan atas diperolehnya pendidikan yang gratis dan berkualitas, layanan kesehatan yang gratis dan berkualitas, hingga terbukanya ruang kreatifitas yang didukung oleh pelayan publik negeri ini. Perebutan ruang kekuasaan harus semakin dikesampingkan dalam pertarungan hari esok.

Pilihan negeri ini ke depan adalah seorang pemimpin yang memiliki tiga pondasi kepemimpinan, kejujuran, kecerdasan, keberanian. Bukan lagi seorang calon yang hanya berasal dari perjalanan karir politiknya. Bukan pula pemimpin yang berasal dari dukungan kuat pemodal. Namun pemimpin yang benar-benar lahir dari rakyat negeri yang tertindas. Sudah cukup negeri ini dipimpin oleh para petualang politik yang tak pernah memperhatikan akar rumput. Saatnya rakyat yang berkuasa.

Ruang publik di negeri ini pun sudah saatnya dibuka selebar-lebarnya, yang diikuti dengan sebuah pendidikan kritis bagi rakyat. Tidak hanya menyanyikan lagu kebangsaan namun melupakan makna lagu kebangsaan. Tidak sekedar mewakilkan rakyat pada elite-elite lokal yang telah dikuasai oleh kepentingan penguasa dan pemodal. Mendesak saat ini adanya hukum yang melindungi ruang publik untuk beraktivitas dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian terhadap proses pembangunan di sekitar mereka.

Kalangan akademisi sudah saatnya kembali pada sebuah temuan-temuan konseptual untuk menjadi landasan berpikir arah negeri ini. Tidak terlalu disibukkan dengan berebut proyek-proyek karena periuk nasinya tak pernah terpenuhkan. Bukan juga selalu disibukkan dengan kepentingan politik golongan tertentu untuk jaminan kehidupan. Berpikirlah untuk kembali pada mencetak anak negeri yang jujur, cerdas dan berani, tidak sekedar memiliki nilai sempurna namun tak berkualitas.

Negeri ini sedang menangis. Air mata tengah gugur satu persatu secara perlahan. Namun tangisan ini sepertinya tidak menjadi penting bagi anak negeri. Pembodohan dan heroisme selalu menjadi sebuah hiburan semu. Menghadirkan senyum yang akan hilang diterpa laparnya perut. Sudah selayaknya negeri ini bangkit dengan tidak hanya bermodal semangat.

Mereka yang hari ini selalu digusur, dikejar, ditangkap oleh unit pengamanan pemerintah hari ini dan dianggap sebagai penyakit masyarakat, harusnya tidak hanya diselesaikan dengan membangun tembok kebebasan bagi mereka. Lihatlah apa yang menjadikan mereka memilih proses kehidupannya. Berikanlah pada rakyat sebuah proses yang lebih berpihak pada kehidupan, bukan dengan menciptakan ‘setan’ yang menakutkan kehidupan rakyat.

Negeri yang menangis akan tetap menangis. Karena tak akan ada yang ingin benar-benar memiliki ketulusan untuk sesama. Pertarungan kepentingan, keinginan untuk menguasai, naluri mempertahankan kehidupan, selalu melingkupi setiap ruas negeri ini. Negeri yang menangis menantikan sebuah perubahan cepat. Negeri yang menangis menunggu datangnya pemimpin yang jujur, cerdas dan berani. Ini adalah negeri bersama, bukan negeri bagi segelintir makhluk yang bernama pemodal dan partai politik. [070228]

Random Posts

timpakul is menatap aliran air di tepi karangmumus pada sebuah tapak kaki dalam ruang kehidupan
Email this author | All posts by timpakul

2 Responses »

  1. Rakyat tak memiliki kekuasaan, atas nama rakyat proyek-proyek pembangunan di gembar-gemborkan tapi pada saat yang dinantikan oleh rakyat atas kesejahteraan hidup yang telah dijanjikan semua berpaling. Hidup rakyat semakin menderita, pertanda harus adanya kekuatan rakyat yang bukan atas nama rakyat yang maju menuntut keadilan baik dalam pengelolaan SDA atau pengembangan usaha keterampilan berbasiskan masyarakat. Pemimpin yang tidak memiliki pengetahuan pada bidang pekerjaan yang sedang di jabat saat ini atau di masa depan hendaknya mundur demi kesejahteraan hidup rakyat bukan karena rasa malu kepada publik (khalayak ramai) karena rasa malu sebagian dari iman dan malu-malu juga bisa membawa kesengsaraan dan bencana pangan.

  2. sodaraku ya mempunyai pengetahuan yang lebih duluan, berikan untuk orang lain agar bermanfaat, sebagai peduli sosial sesama, kami menghimbau kepada anada, tks

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word