televisi
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
tayangan satwa liar di televisi semakin banyak. pada sebuah sisi, hal ini menjadi hal yang positif untuk memberikan informasi kepada pemirsa tentang kehidupan satwa, sehingga kemudian pemirsa dapat terbangun kepeduliannya terhadap keberadaan satwa liar di alam. namun, pada beberapa program televisi, ternyata malah menyajikan informasi yang akan mendukung kepunahan satwa liar di alam.
berikut dua buah email yang dikirimkan kepada dua stasiun televisi.
1. Email kepada Global TV - email: suratpemirsa@globaltv.co.id
Saya sempat menyaksikan sebuah program acara di Global TV “XTREME KULINER” yang ditayangkan setiap Hari Minggu pukul 20.30 WIB. Dari pandangan saya, acara “XTREME KULINER” akan mendorong semakin tingginya konsumsi satwa liar dikarenakan ketertarikan pemirsa televisi untuk mencoba apa yang disajikan dalam acara tersebut. Hal itu akan berpengaruh pada perubahan populasi satwa liar di alam. Sebagai dampak ikutannya, maka keseimbangan ekosistem di alam akan terganggu dan manusia akan menjadi korban berikutnya.
Saya yakin bahwa pihak Global TV ingin membangun sebuah pencerdasan bangsa melalui media televisi. Untuk itu menjadi penting agar pihak Global TV juga menyajikan informasi yang tidak akan mendorong pemirsanya untuk lebih mendukung terhadap perdagangan satwa liar. Penghentian acara XTREME KULINER, yang menyajikan tayangan jenis-jenis makanan berbahan satwa liar, dan juga tayangan acara sejenis, akan sangat membantu mengurangi perdagangan satwa liar.
Sebagai informasi, satwa liar di alam semakin berkurang, tidak hanya disebabkan oleh hilangnya habitat satwa akibat pembukaan hutan skala luas untuk kepentingan industri, namun juga disebabkan oleh perdagangan satwa liar. Tercatat hingga 22 hingga 31 miliar dolar yang hilang akibat tindak kriminal lingkungan hidup, termasuk akibat perdagangan satwa.
Untuk itu, saya berharap pihak Global TV dapat menghentikan program acara “XTREME KULINER” dan menyajikan program acara lainnya yang lebih membangun kecerdasan dan kepedulian pemirsa terhadap kehidupan di sekitarnya, termasuk terhadap keberadaan satwa liar di alam.
2. Email kepada Jejak Petualang Trans7 - email: jejakpetualang@trans7.co.id
Saya menyampaikan apresiasi kepada Trans7 yang telah menyajikan sebuah tayangan program acara yang memberikan pengetahuan kepada pemirsanya untuk mengetahui kekayaan keragaman hayati di negeri ini. Sebuah harapan agar keindahan alam negeri ini tetap mampu terjaga dan disaksikan oleh generasi berikutnya.
Namun, saya agak terganggu dengan perilaku presenter JEJAK PETUALANG yang selalu berupaya berada dekat dengan satwa liar, bahkan untuk memegang satwa liar yang ditayangkan dalam program JEJAK PETUALANG. Saya yakin, presenter berupaya untuk mendekatkan emosi pemirsa agar dapat merasakan berada dekat dengan satwa. Namun perilaku tersebut akan berdampak pada inginya pemirsa untuk juga melakukan hal serupa. Dampaknya adalah akan semakin banyak satwa liar yang dipaksa untuk berdekatan dengan manusia, yang kemudian menyebabkan satwa liar kehilangan perilaku alaminya.
Sangat diharapkan agar Tim JEJAK PETUALANG memahami bahwa satwa liar memerlukan kebebasan berkehidupan. Menjadi penting agar Presenter dan Tim JEJAK PETUALANG juga mempelajari tentang kesejahteraan satwa (animal welfare), peraturan perundang-undangan konservasi spesies (baik lokal, nasional maupun internasional, seperti UU No. 5/1990, PP No. 7/1999, PP No. 8/1999, CITES, dll) dan kaidah-kaidah konservasi keragaman hayati, sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada pemirsa akan lebih mengena, dan dengan demikian JEJAK PETUALANG akan membantu keberlangsungan kehidupan satwa liar di alam.
harapan hanya pada terbangunnya sebuah media televisi yang lebih mendidik dan mencerdaskan bagi anak negeri. tak hanya semata memenuhi ambisi bisnis industri hiburan, yang akan menjadikan anak negeri sebagai robot tak berintelektual.
tak penting televisi !


(1 votes, average: 4 out of 5)







postingan keren kek gini kok belum ada yang komen, ya?
saya mendukung email yang anda kirimkan kepada dua stasiun tv itu.
[tanggapi]
Email yang amat mencerahkan. Lalu, bagaimana respon TV-TV itu? Biasanya email-email semacam ini tidak direspon dengan sungguh-sungguh oleh para pengelola TV. Kalau di-rely, bisa juga tuh responnya ditayangkan di postingan blog ini lagi.
Akan lebih asyik mungkin, jika email-email itu dikirimkan ke media cetak (Kompas misalnya) sehingga akan lebih banyak besar gaungnya.
Salut, anyway.
[tanggapi]
kedua email tersebut belum memperoleh repon hingga saat ini. akan lebih baik bila lebih banyak yang mengirimkan email serupa.
untuk mengirimkan ke media lain, mungkin juga lebih baik. terima kasih atas sarannya.
[tanggapi]
aku paling gak suka nonton acara ada hewan liarnya, apalagi ada adegan mangsa-memangsa, ada manusia mempermainkan hewan, ada acara makanan dari daging ular dsb. aku juga gak suka zoo, dan seumur hidup memang gak pernah ke zoo.
[tanggapi]
Penayangan stasiun televisi anda bertitel ExtremeKuliner yang ditayangkan setiap hari sabtu pukul 10.30 dan minggu pukul 20.30 sangatlah tidak berbasis pendidikan dan konservasi. Media anda sebagai penyalur berita harusnya berdasar fakta dan data yang mendukung. Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya alam Hayati dan Ekosistemnya sebagai perangkat hukum yang bisa menyeret anda pada keburukan dan kebobrokan moral dunia konservasi Anda. Pengeksploitasian satwa liar adalah kejahatan alam yang akan mengurangi jumlah populasi satwa di alam dan habitatnya. Sedangkan sudah jelas Anda sebagai media informasi harusnya mendukung upaya ini.
Opsi Kesejahteraan Satwa adalah hal utama yang harus diperhatikan. Menunjukan kebrutalan memangsa satwa liar dengan mengkonsumsi oleh manusia didepan kamera adalah sebuah penayangan yang bertentangan dengan nilai kode etik ekologi satwa. Perlakuan kejam terhadap satwa liar yang ditayangkan sebagai hasil rekaman Anda adalah upaya buruk untuk mencegah satwa liar untuk hidup bebas di alam dan memperkosa hak kebebasan satwa untuk bertahan hidup (survive).
Anda berdalih bahwa ini adalah budaya setempat, apakah anda merasa bodoh untuk mengatakan ini? Karena ini adalah praktek GENOCIDE (pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan bangsa) untuk bangsa makhluk hidup apapun spesies nya.
Tolong pelajarilah tentang kesejahteraan satwa (animal welfare), peraturan perundang-undangan konservasi spesies (baik lokal, nasional maupun internasional, seperti UU No. 5/1990, PP No. 7/1999, PP No. 8/1999, CITES, dll) dan kaidah-kaidah konservasi keragaman hayati.
Maka dengan dari ini semua, kami International Animal Rescue (IAR) Indonesia menyatakan protes atas penayangan acara tersebut karena alasan yang dikemukakan diatas.
[tanggapi]
berikut adalah tanggapan dari Jejap Petualang:
——-
Terimakasih atas masukan yang berharga bagi JP.
Kami memahami dengan baik peraturan perundang-undangan mengena satwa liar dan tidak ada maksud tidak baik dengan penayangan JP mengenai satwa liar, dengan mendekatkan Presenternya ke satwa liar, justru kami ingin mengenalkan dan kepada pemirsa tentang satwa liar yg dilindungi, betapa kayaknya keaneka ragaman hayati tanah air, pentingnya pelestarian alam, konservasi dan sebagainya. Bagaimana kami bisa memperkenalkan semua itu kalau tidak terjun langsung dan lebih dekat dengan satwa yg bersangkutan. Kita tidak mungkin membahas mengenai satwa liar dari jauh. Yang penting kami tidak merusak atau membunuh satwa liar itu demi kesenangan. Sekali lagi terimakasih atas masukannya.
Salam,
Dody Johanjaya
(Produser JP)
[tanggapi]
[...] — panjangnya sepuluh sentimeter (0)9 August 2007 — dilarang meneliti ! (0)15 November 2007 — televisi (6)20 January 2007 — koruptor insaf [...]