langit tak berawan
tak ada awan pagi ini
kemarin hujan badai membasahi tanah
air coklat menghitam mengalir disela pondasi rumah
perlahan menggenangi tenggelamkan asa
langit putih bersih tanpa mentari
gelegar di langit masih tersisa
siaran televisi pagi ini masih berceloteh tentang darah dan airmata
derap gelisah belum juga usai
terhadap sebuah mimpi
sebuah perubahan
kebaikan bagi sesama
[081005]
:: langit tak berawan
wawancara itu
“halo… bisa kita mulai wawancaranya?” di sambungan telepon
“silahkan”
“sebentar.. saya siapkan peralatannya ya… ”
“ya…”
“oke kita mulai… menurut bapak, bagaimana pelaksanaan AMDAL hingga saat ini?”
“bla.. bla.. bla… ” dan seterusnya
“oke pak, terima kasih…”
klik
kriinggg… kriinggg…
“halo…”
“ya pak.. saya yang wawancara tadi…” suara di seberang telepon.
“ya.. ada apa..”
“boleh diulang wawancaranya pak? karena yang tadi tidak bagus rekamannya pak”
“ya.. ya… [...]
dalam bus bogor menuju jakarta
di atas bus bogor menuju jakarta
dua orang perempuan belia
seorang memegang ukulele mungkin
tangannya mulai memainkan nada
alunan suara bertarung derai hujan di perjalanan
seorang lainnya membagikan sebuah amplop
“agar dapat meneruskan pendidikan” tulisan di atasnya
mereka terus bernyanyi
walau derai hujan tenggelamkan merdunya
“dia hamil”
“bukan, dia gendut”
“tidaklah, pasti dia hamil”
salah seorangnya memegang perutnya yang membuncit
entah hamil atau hanya sekedar membuncit
tawa mereka terus [...]







