air hutan
By timpakul • Mar 22nd, 2008 • Category: khayalair
tak lagi bersih
hutan
tak lagi hijau
dimana kehidupan?
[080322]
:: hari kehutanan dan hari air se-dunia
air
tak lagi bersih
hutan
tak lagi hijau
dimana kehidupan?
[080322]
:: hari kehutanan dan hari air se-dunia
seuntai ilalang berlabuh di pembaringan
diam terpaku pada sang waktu
bulu halusnya goretkan sehelai benang
tercerabut dari kain yang tak putih lagi
ilalang menguning
perlahan menjadi coklat dan rapuh
pada siapa ia akan bercerita
seuntai ilalang mengurai jelaga
yang tak pernah henti menghitamkan jiwa
kebekuan hadir menggumam rasa
bersama udara panas saat subuh menjelang
berlalu tanpa pesan
kapan ia akan pergi
ilalang tak jua bicara
hanya diam
tak ada kata
goretannya [...]
secarik kertas yang telah lusuh
dari sebuah tempat penampungan sampah
goresan pena sudah menyebar
menutupkan tinta sebagian kertas
tak terbaca lagi
hanya ada angka-angka yang tak berarti
goresan tanda tangannya pun tak berbekas
seratus juta rupiah
bukan dolar ataupun euro
tulisnya untuk sebuah jasa
tak jelas jasa untuk apa
pasti bagi sebuah kerja yang tak mudah
nota itu tak lagi terbaca
ada secarik kertas lain disampingnya
sebuah gambar peta
dengan [...]
dedaunan itu
telah mengering
tak lagi hijau
sebutir embun
bukan penyejuk
dedaunan itu
telah rapuh
tak lagi segar
secercah cahaya
bukan penghangat
dedaunan itu
telah meremah
menyatu dalam tanah
tinggalkan sebuah catatan
bagi kehidupan pada alam berbeda
[080301]
:: diantara dedaunan mengering
hitam
licin
tak terpegang
selalu menaiki tangga
hingga menghadirkan kesengsaraan
semua teriak
tak ada yang diam
namun tak terlihat darimana suara
kuasa
pada kapital
tak ada lahan negeri
semua bagi kepentingan asing
minyak
meninggalkan asa
bukan sekedar berhemat
harus rebut kembali kuasa
bagi anak negeri
[080222]
:: minyak bumi meroket
pukul 00.30
tak ada angin
udara dingin berbeda
suara kipas angin bergerak perlahan
televisi sudah dimatikan
radio tak ada
hanya awan bergerak
langit entah berwarna apa
pukul 01.30
dedaunan mengiris jendela
harum embun perlahan bergulir
ayam berbincang menunggu pagi
suara deru motor di kejauhan
udara beku
dingin tak biasa
angin entah sedang apa
pukul 02.30
arah pikir berkelana
pada sebuah ruang yang tak nyata
seseorang hadir
berulang hadir
ia entah sedang apa
pukul 03.30
titik air di pembaringan
jelaga [...]
lihat disana
batang ulin melintang
saatnya jadi sirap
bukan dibiarkan tak membusuk
ditengah padang belukar
jadikanlah ia keping emas
agar generasi tak saksikannya
ulin
emas hitam
tak penting
biarkan ia menghilang
wajah menghias belantara kota
menjelang sebuah pertarungan
berharap gurat keyakinan
meraih sebuah tinta kemenangan
sambil sesekali
melahirkan penindasan pada sesama
[080203]
wajah-wajah di belantara kota
ketidakpercayaan
pada sebuah ruang keyakinan
menjadikan tapak kaki
terus menuruni lereng impian
mengikhlaslas
agar mampu
mencerahkan langit
atom tak pernah lepas
dari ikatan molekul
yang bertalian dalam
dzat
[080122]
:: pagi hari
bermain diantara dedaunan
sesekali merajutnya
terbang dan berkelana
air yang membiru
bertaburan pencari kesejukan
pada iklim yang memanas
membongkar paradigma
membangun perspektif
menata ruang
menekukan humanity
[080120]
:: ruang kegelisahan