200 rupiah
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Uang. Tetap bisa mempengaruhi pemikiran. Setidaknya inilah yang coba dilakukan dalam sebuah kumpul-kumpul untuk meningkatkan kapasitas kawan-kawan mahasiswa Ekonomi di Kebun Raya Unmul Samarinda. Dua hari sebelum acara dihubungi oleh panitia untuk memberikan materi berkaitan dengan kebersamaan dan loyalitas dalam mencapai visi. Materi yang memaksa untuk memutar otak.
Diantara persiapan peringatan hari Hak Asasi se dunia di Samarinda yang akan digelar sabtu malam di simpang empat voorfo, sesekali mencoba mengetikkan sedikit tulisan untuk memenuhi harapan panitia. Tiba di lokasi lima belas menit sebelum jadwal berbicara, meraba-raba kondisi peserta, diskusi sedikit dengan kawan panitia. Akhirnya mencoba untuk tidak sebagai pemberi materi, namun sebagai kawan bermain.
Dua hal yang ingin disampaikan ke kawan-kawan tersebut, berupa membangun komunikasi dan menyusun rencana bersama. Bagian pertama merefer pada main-main yang pernah diberikan oleh mas panthom kepada pegiat PLH beberapa waktu lalu. Lumayan mencairkan kebekuan dan memperoleh beberapa titik masuk untuk ke main-main berikutnya.
Berikutnya, membagikan kawan-kawan ke dalam tujuh kelompok, memberi satu lembar plano, satu buah spidol dan sekeping uang 200 rupiah. Diajukanlah pertanyaan tentang apa yang bisa didapat dari dua ratus rupiah tersebut dan bagaimana cara mencapainya. Beragam jawaban muncul, mulai dari beli permen, korek api, untuk kerokan, hingga membeli lombok agar kemudian bijinya bisa ditanam. Mungkin karena latar belakang ekonomi, dua kelompok menuliskan untuk membeli kantong plastik dan menjualnya kembali. Dan ada juga yang menuliskan ditabung dan disedekahkan.
Melihat jawaban yang hadir, lebih banyak yang melihat hanya sekeping 200 rupiah. Bahkan ada yang berkomentar, bingung, tidak ada nilainya, hingga berkomentar yang ada hanya 200 rupiah. Ternyata memang ketika hadir keping uang, telah membekukan pemikiran sesaat dan meninggalkan potensi-potensi lain yang ada dalam diri ataupun orang lain, serta alam sekitar.
Pengalaman yang berbeda memang, karena selama ini selalu bergaul dengan pendidikan lingkungan hidup. Hal yang menarik juga bahwa gagasan baru perlu selalu dicoba dilahirkan. Mengemas adalah hal kemudian. Bahwa capaian akhir dari proses memberikan pengetahuan tak harus dilalui dengan memberikan sesuap kertas. Satu kelemahan dalam proses yang dilakukan adalah benar-benar tanpa struktur dan hanya berkembang di kepala dalam waktu singkat. Masih sangat perlu untuk melatih kemampuan pribadi untuk membangun konsep, melakukan, dan merefleksikannya.










Wadah bamamay